NOTE: Reader, before you browsing to reading please make sure you read fanfiction in here according to your age. If you not yet 17 yo, we suggest you to read fanfiction with rating G, PG-13, PG-15. Rating NC-17 and NC-21 just for addult. Please follow this rule shake your self!
Showing posts with label Cast: Daiki Arioka. Show all posts
Showing posts with label Cast: Daiki Arioka. Show all posts

Thursday, May 2, 2013

[Series] Let Me Be Empty (5/5)



Ryosuke mengerjapkan matanya pelan. Kilatan cahaya putih terang menyapanya kasar. Ia memangdang ke sekeliling ruangan dan mendapati Yabu tertidur disebelahnya dengan posisi duduk. Kepalanya yang dibalut perban berdenyut keras, perut bagian belakangnya terasa perih. Badannya terasa seperti remuk semua ketika ia mencoba bangkit dari kasur, membuat ia mengurungkan niatnya.

Aku masih hidup? Sial, tuhan menyelamatkanku.. Apa salahnya jika aku mati? Aku tidak akan merasakan penderitaan lagi.., Pikirnya lemah sambil meremas tangannya sendiri.

Yabu terbangun. Raut wajahnya berubah gembira saat mendapati Ryosuke sudah membuka matanya. "Yamada! Kau sudah bangun! Syukurlah!"
Muka Ryosuke terlihat datar. Lalu ia memalingkan wajahnya keluar jendela.

"Ah, aku akan menghubungi teman - temanmu." Ujar Yabu tanpa diperintah. Ia mengambil ponselnya, lalu menekan tombol - tombol yang ada kemudian memposisikan ponselnya ditelinga, menghubungi Daiki.

Setelah selesai, Yabu membalikkan badannya ke arah Ryosuke. "Ayah dan Ibu tadi datang. Ia membawakan buah - buahan untukmu. Kalau mau bilang saja, biar aku kupaskan kulitnya." Tawar Yabu sambil menunjuk setumpuk buah yang terletak diatas lemari kecil disamping ranjang.

Ryosuke menggeleng pelan. "Tidak usah."

"Oh, baiklah." Jawab Yabu santai, seperti tidak terjadi apa - apa malam kemaren.

"Ne, Yabu-kun. Apa yang terjadi setelah aku pingsan?" Ryosuke yang penasaran akhirnya bertanya.

"Kau tenang saja. Yuto dan Hikaru sudah ditangkap polisi. Tapi teman - temannya melarikan diri. Yuto berteriak - teriak seperti orang gila saat dia dibawa. 'Jangan halangi aku! Yama-chan harus bersamaku!' katanya sambil berteriak. Hahaha, dasar. anak itu benar - benar terobsesi denganmu." Jelas Yabu sambil tertawa kecil.

Ryosuke tersenyum memaksa. Yabu yang mengerti akhirnya mendekati Ryosuke. "Aku tahu kau masih terpukul dengan kenyataan yang ada. Tapi tidak ada gunanya melihat masa lalu. Yang ada hanya kepahitan dan kesedihan. Lebih baik kau melihat sekarang. Ketika kau merasa sendiri, ada banyak orang yang menyayangimu. Tidak semua yang meninggalkanmu, bukan?"

"Terima kasih.." Jawab Ryosuke datar. Yabu hanya bisa mendesah.

KLEK

Pintu yang terletak beberapa langkah dari posisi ranjang Ryosuke dibuka. Mereka memandang ke arah pintu yang terbuka itu.

Daiki, Takaki, Keito.

Ryosuke refleks duduk, tapi perutnya terasa perih saat bergerak.

"Hei, kau tidak usah memaksakan diri untuk duduk." Omel Yabu. "Sini kubantu." Yabu lalu menegakkan badan Ryosuke pelan.

"Jadi, bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Takaki sambil berjalan ke arah Ryosuke dan duduk disebelahnya. Yabu yang tidak ingin mengganggu pembicaraan antar teman ini lalu keluar.

"Baik." Jawabnya pendek.

"Yamada, soal kemaren. Kenapa kau melakukannya?" Tanya Daiki tepat pada poinnya.

"Hei, Dai-chan. Baru datang kenapa malah langsung menanyakan hal itu sih?" Omel Keito berbisik.
Daiki diam tidak menjawab. Ia hanya melihat Ryosuke, menunggu jawaban.

"Tidak tahu. Aku juga bodoh, kenapa tiba - tiba bergerak dan menolong orang sepertimu." Jawab Ryosuke memalingkan wajahnya dari tatapan Daiki.

“Terserah apa katamu. Aku tahu kau sebenarnya orang baik. Aku berterima kasih sekali kau menolongku.”
Ryosuke masih mentap keluar jendela

“Yama-chan, kalau kau punya masalah kenapa tidak cerita sama kami? Kenapa kau bertindak gegabah seperi itu? Cari mati saja tau.” Kata Keito seraya mendekat ke Ryosuke.

“Kenapa kalian disini?” Tanya Ryosuke dengan ekspresi datar.

“Yak karena kami ingin menjengukmu.” Jawab Takaki.

“Kenapa? Aku kan sudah mengatakan hal kejam kepada kalian.” Jelas Ryosuke kini melihat mereka bertiga bergantian.

“Kami sudah membicarakan hal itu saat dirumah Daiki. Kami tidak peduli apa yang kau katakan waktu itu. Yang jelas kau tetap teman kami yang baik.” Ujar Takaki sambil melingkarkan tangannya dipundak Ryosuke.

“Oi, Bakaki! Kau membuatnya makin sakit!” Omel Daiki.

“Mou.. Penguin-chan. Aku kan cuma menghiburnya.” Kata Takaki cemberut.

Ryosuke tertawa kecil melihat tingkah Takaki yang seperti anak 5 tahun yang merengek minta es krim.

“Ah! Kau tertawa!” Keito dan Daiki serentak menunjuk Ryosuke. Takaki langsung melihatnya juga.

Ryosuke yang salah tingkah menghindari tatapan mereka. “Ti-tidak. Aku tidak tertawa.”

“Haa.. Aku tahu dia bohong Dai-chan. Kurasa kali ini tawanya alami.” Gumam Keito kepada Daiki dengan maksud menggoda Ryosuke.

Daiki tertawa. “Kurasa begitu”

Pipi Ryosuke memerah malu. “Chi-chigau yo!”

“Aaa.. Mou, kalian curang. Aku juga ingin melihat tawa Yamada juga..” rengek Takaki yang kembali membuat Ryosuke tertawa.

“Ah! Aku melihatnya! Aku melihatnya! Tawa mu manis sekali Yamada.” Papar Takaki terpana.

Ryosuke hanya menunduk menyembunyikan semburat merah yang ada di pipinya.

“Hei, hati – hati. Nanti lukamu terbuka lagi.” Kata Daiki menyudahi tawanya. “Anoo.. Soal Yuto, teman mu yang dulu itu.”

Raut muka Ryosuke berubah masam ketik nama ‘Yuto’ disebut. “Dia bukan temanku. Dia hanya orang gila.”

Daiki, Takaki dan Keito terdiam di tempat mereka berdiri masing – masing.

“Aku ingin membalas perbuatannya. Aku ingin membunuhnya. Dia sudah membunuh orang tuaku dan Yuri.”

“Sudahlah. Aku sudah mendengar semuanya dari Yabu. Lagian dia sudah ditangkap polisi. Tidak ada gunanya kau dendam. Aku juga sangat membencinya. Dia sudah membunuh teman kita. Kalau bisa aku juga ingin membunuhnya. Tetapi hal itu tidak akan mengubah apapun. Yuri tidak akan kembali. Masa lalu biarlah masa lalu..” Jelas Daiki tenang.

“TAPI TIDAK BISA! AKU SUDAH MENCURIGAI YURI‼ AKU SUDAH MENUDUHNYA! Sial.. KALAU BEGINI KENAPA AKU TIDAK MATI SAJA?! Aku bisa minta maaf dengannya disana, dan aku bisa bertemu orang tuaku.” Teriak Ryosuke mengubah atmosfer diruangan itu yang semula hangat menjadi suram..

PLAK!

Telapak tangan Daiki melayang di pipi Ryosuke. Memang Daiki lah yang berpikiran dewasa diantara mereka walaupun badannya sebelas duabelas dengan Ryosuke.

“JANGAN BERCANDA‼ KAU PIKIR MATI ITU ENAK?! ADA BANYAK YANG MENYAYANGIMU DISINI! CUMA KARENA KAU TIDAK PUNYA ORANG TUA LAGI, BANYAK ORANG YANG MENGKHIANATIMU, DAN CHINEN MENINGGALKANMU, JADI KAU MENGANGGAP DIRIMU ORANG YANG PALING MENDERITA, BEGITU?‼ APA KAU TIDAK SADAR, KAU SUDAH LEBIH BERUNTUNG DARI CHINEN!Dan kini kau bilang ingin mati? SUDAH CUKUP KAMI KEHILANGAN CHINEN, BAKA!” Bentaknya.

Ryosuke tertundung memegang pipinya. Takaki dan Keito hanya bisa melihat pertengkaran antara kedua teman mereka..
"Kau itu teman kami Ryosuke. Sahabat kami. Kami tidak akan pernah mengkhianati atau meninggalkanmu. Tolong, percayalah." Daiki melunak diikuti anggukan Takaki dan Keito. Ia memanggil nama depan Ryosuke, yang menandakan ia serius.

Aneh.. Baru kali ini ada orang yang memarahiku dan begitu ngototnya menganggapku sebagai sahabatnya.

"Maaf.." Lirih Ryosuke.

Daiki menghela napas. "Hah.. Aku juga minta maaf sudah membentakmu. Aku hanya minta kau jangan pernah sekalipun mengatakan ingin mati."

Ryosuke mengangguk pelan. "Ya."

Bisakah aku mempercayai mereka?

***

BRAK

"Ryosuke! Tadi suster bilang kau bisa pulang 5 hari lagi." Yabu seketika mengoceh setelah membuka pintu dengan keras. Tetapi terdiam ketika melihat keadaan didalam. "Sepertinya aku masuk disaat yang tidak tepat." Yabu berniat keluar, tapi dihalangi Keito.

"Aaa, tidak, tidak. Lanjutkan saja Yabu-san. Kami sudah selesai kok." Kata Keito.

"Tadi kau bilang Yamada bisa pulang 5 hari lagi? Itu kabar bagus!" Timpal Takaki.

"Iya. Tapi karena kau geger otak ringan -karena dipukul anak buah Hikaru- jadi 2 kali seminggu kau harus rutin periksa ke dokter." Lanjut Yabu seraya menatap Ryosuke.

Ryosuke mengangguk pelan. "un."

"Kalau begitu kami pamit dulu. Istirahat yang banyak ya, Yama-chan." Papar Keito melambaikan tangan kepada Ryosuke, diikuti Daiki dan Takaki
saat mereka berjalan keluar ruangan.

***

Mobil sedan Ryosuke yang dibawa Yabu melesat lurus di jalanan tanpa macet. Ryosuke duduk disampingnya, dengan kepala yang masih diperban. Yabu melihat Ryosuke yang sedang termenung.

"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Yabu membuka suara.

"Lumayan membaik." Jawabnya dengan tatapan kosong.

"Baguslah." Yabu tahu sifat Ryosuke bagaimana. Ia kemudian menepuk kepala Ryosuke pelan. "Hei, yang ceria dong. Kau kan pulang kerumah hari
ini.. Tapi kerumahku ya. Kalau di apartemenmu nanti tidak ada yang bisa mengurusmu. Ayah dan ibu sudah siap - siap untuk menyambutmu lho."

"Ne, Yabu-kun. Sebelum ke rumah, ada tempat yang ingin aku datangi." Ryosuke berhenti sejenak dan menelan ludah. "Ke makam Kaa-chan dan Tou-chan.. Juga Chinen."

Lama Yabu menjawab dengan masih menatap ke arah jalan. "Baiklah." Ia memutar mobilnya ke arah yang berlawanan.

***

Ryosuke duduk didepan sebuah batu nisan di pemakaman itu. Ia merapatkan kedua tangannya, kemudian menutup mata dan mulai berdoa. Lama ia berdoa, akhirnya ia membuka matanya.

"Chinen.. Tidak, maksudku Yuri. Bagaimana kabarmu? Aku harap kau baik - baik saja..."

"...Haha, aku seperti orang bodoh berbicara sendiri dengan batu." Ryosuke berhenti sejenak, menenangkan diri.

"Aku menyesal.. Telah menuduhmu membunuh orang tuaku. Maaf, aku sangat menyesal. Mungkin orang tuaku marah kepadaku karena telah menuduhmu." Ia berhenti lagi, kemudian melanjutkan. "Dan aku memang teman yang tidak berguna. Aku hanya memikirkan diri sendiri. Aku tidak peka terhadapmu. Aku tidak tahu kau mengidap penyakit parah seperti itu. Bahkan aku tidak pernah melihatmu sakit didepanku. Aku tahu setelah Daiki memberi tahukan kepadaku. Bodoh. Aku memang bodoh.." Papar Ryosuke menyesali dirinya.

"Dan Yuto.. Aku tidak menyangka saat kecil kita bertiga berhubungan. Kini aku sangat ingin membunuhnya. Tapi, tidak akan ada gunanya.. Kau dan orang tuaku tak akan kembali.."

"Aku rasa sampai disini saja. Aku berharap ada malaikat yang memberi tahu kau baik - baik saja disana."

Ia berdiri, dan berjalan ke depan beberapa blok dari makan Yuri. Dan berhenti tepat diantara 2 makam, makam orang tuanya. Memang setelah kecelakaan -yang sebenarnya disebabkan oleh Yuto- ayah dan ibu Ryosuke dikuburkan tidak jauh dari kota tempat tinggalnya sekarang. Lalu ia duduk dan mulai berdoa. Setelah selesai berdoa, ia tersenyum.

"Kaa-chan, Tou-chan. Sudah lama aku tak mengunjungi makam kalian. Maaf, baru sempat menjenguk."

Tubuh Ryosuke gemetar. Ia meringis. Sedih yang ia tahan akhirnya membuncah menguasai dirinya.

Aku akan mulai jalan lagi, menapaki tangga kehidupanku. Walaupun sepi, tidak ada kalian berdua, tapi ada banyak orang di sekitarku yang tulus menyayangiku. Kalian tidak perlu cemas

"Aku sayang Kaa-chan dan Tou-chan.." Gumam Ryosuke lembut, namun tulus.

Ryosuke menyeka air mata yang ada di pipinya, kemudian tersenyum. Ia berdiri dan kembali ke tempat Yabu menunggu.

"Sudah selesai?" Tanya Yabu.

"Sudah." Jawab Ryosuke. "Hei, bukankah kau bilang ingin mengunjungi makam Yuri?" Tanya dia kepada Yabu.

"Aku sudah mengunjunginya 2 hari yang lalu dengan Daiki, saat kau masih di rumah sakit."

"Souka.."

Dan mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.

***

Mentari yang terbit dibalik bukit menyinari pagi nan dingin hari itu. Sinarnya masuk melalui selah selah jendela sebuah kamar di suatu rumah. Seorang pemuda keluar dari kamar itu ke beranda. Menyambut sinar matahari yang terang, hangat, dan damai. Ia melebarkan kedua tangannya dan meregangkan tubuh. Pria itu tersenyum..

TING TONG!

“Yamada! Teman – temanmu datang!” Panggil Yabu dari lantai bawah.

Ryosuke yang semula berada di beranda kamar kini beranjak dan berjalan menuruni tangga ketika namanya dipanggil.

“OTANJOUBI OMEDETOU YAMA-CHAN!!” Tiga teman sepermainannya tiba – tiba berteriak sambil membawa kue ulang tahun yang diatasnya menyala lilin angka 20.

Ryosuke tersenyum. Ia sendiri bahkan lupa kalau hari ini hari ulang tahunnya. Ryosuke lalu meniup lilin yang ada di atas kue itu. Teman – temannya tertawa, lalu menggosok – gosok kepalanya.

Sekarang aku mengerti. Ada sesuatu yang dipunya manusia di bumi ini. Kasih sayang.. Aku merasakan kehangatan yang begitu nyata. Mereka, yang ada disekitarku..

Aku percaya mereka. Entahlah, aku yang dulunya memegang teguh prinsip bahwa semua orang yang ada di muka bumi ini munafik, sekarang bisa mempercayai mereka.Memang tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa mereka tulus. Tapi aku percaya.

Sahabat, dan keluarga... Mereka adalah cahayaku.


-FIN-


Glosarium :
Chigau = bukan
Baka = bodoh
Otanjoubi omedetou = selamat ulang tahun

Writer Desire :
Happy Birthday to my dearest ichiban, Yamada Ryosuke. 20th, the first adult age, can't believe you're this mature now~
I love you just the way you are, the sensitive one, the humble one, and the one that love JUMP so much. One of my big wish is to meet you someday :)



[Series] Let Me Be Empty (4/5)




Ryosuke datang ke gedung tua dekat SMU Tsukishima  tepat jam 8 malam. Suasana yang remang – remang dengan penerangan seadanya dari sinar bulan yang masuk melalui celah – celah atap membuat Ryosuke tidak dapat melihat jelas sosok seseorangpun.

“ Datang juga kau rupanya.” Tiba – tiba suara seseorang terdengar dari ujung ruangan.

Ryosuke sepertinya mengenal suara itu. Terdengar suara langkah seseorang semakin dekat kearahnya. Tidak, bukan hanya seseorang. Suara langkah itu terdengar banyak. Ryosuke kaget, melihat orang – orang yang mendekatinya saat wajah mereka diterangi sinar bulan yang masuk dari celah – celah atap yang bolong.

“Hikaru!” teriak Ryosuke spontan melihat Hikaru dan teman – temannya. “Kau yang mengirim surat itu padaku?! Kau yang membunuh Yuri, hah?!!”

“Ma, ma.. Tenang, jangan meledak begitu Yamada.Bukan aku yang mengirimnya.” Jawab Hikaru santai dengan tatapan meremehkan.

“Lalu siapa? Jawab!”

“Ck, kau tidak bisa diajak santai ya.” Kata Hikaru malas. “Hei, keluarlah.” Hikaru menoleh ke belakang, memanggil seseorang untuk menunjukkan wajahnya.

Sebuah langkah kaki berjalan mendekati tempat Ryosuke dan Hikaru cs dari belakang.

“Hisashiburi, Yama-chan.”

***
TOK TOK TOK

“Yama-chan, kau ada di dalam?” Lama Yabu menunggu, tidak ada jawaban.

“Oii, Yama-chan. Kau ada di dalam?” masih belum ada jawaban. Yabu yang tidak sabar akhirnya memegang kenop pintu dan memutarnya. Pintu terbuka.

“Dasar anak ini. Selalu saja tidak mengunci pintunya.” Omel Yabu.

Tapi saat ia melihat ke dalam , tidak ada siapa siapa. Yabu mencari keberadaan Ryosuke ke seluruh sudut ruangan. Tidak ada…

“Paling – paling dia pergi ke supermarket dekat sini.” Pikir Yabu. Ia memutuskan untuk menunggu kepulangan Ryosuke. Tapi saat ingin duduk, ia melihat sebuah kertas terletak diatas meja.

Yabu mengambil kertas itu. Dan saat membaca kalimat pertama, matanya membesar. Ketika selesai membaca keseluruhan kalimat yang tertera disana, dia berdiri tiba – tiba dengan memukul meja.

Yabu mencoba menghubungi ponsel Ryosuke. Tetapi nada deringnya terdengar dari dalam kamar Ryosuke.

“Sial! Dia lupa membawa ponsel lagi.” Yabu mengambil ponsel Ryosuke dan melihat kontak yang ada didalamnya, mencoba menghubungi Daiki.

“Moshi moshi Yamada?”

“Daiki! Ini Yabu. Sekarang juga kau dan dua temanmu yang lain pergi ke gedung kosong dekat SMU Tsukishima yang akan dihancurkan minggu depan itu! Aku akan menunggumu disana!” Perintah Yabu panik.

“Tunggu, Yabu-san. Memangnya ada apa?” Tanya Daiki.

“Aku tidak tahu. Yang penting ini menyangkut temanmu yang meninggal itu, Chinen! Yamada sepertinya disana. Berangkat, sekarang!”

Yabu menutup ponsel Ryosuke dan memasukkannya ke saku belakang. Dengan segera ia menutup pintu apartemen Ryosuke dan langsung menuju mobilnya. Kemudian menyalakan mobil dan langsung melesat ke jalan raya.

***

Seorang pria tinggi nan kurus dan berwajah tirus, dengan warna kulit yang putih pucat.

“Kau.. siapa?”

“Kau lupa siapa aku?” Tanya pria tinggi itu. Kini ia tersenyum licik.

DEG!

Chi.. Chinen? Bukan, bukan Yuri. Dia bocah yang di mimpiku itu!

Ryosuke membatu. Kilasan – kilasan masa lalu kini berputar di kepalanya, saat ia masih kecil. Dimana pada saat itu dia masih bisa tersenyum tulus, bermain – main dengan bahagia dengan teman – temannya. Saat ia bertemu dan menjadi teman pertama anak yang tidak bisa bersosialisasi itu. Saat anak itu melarangnya berteman dengan orang lain. Dan sampai pada saat anak itu memberi tahu bahwa ia yang sengaja mencelakakan orang tua Ryosuke. Kini ia ingat wajah anak itu. Ya, priayandere yang sekarang berdiri didepannya ini.

“Yu..to?” mulut Ryosuke bergetar menyebut nama itu.

“Wah, tidak kusangka kau masih mengingat namaku.” Jawab pria itu dengan senyuman iblis khasnya.

Tubuh Ryosuke mengeras, masih belum percaya dengan kenyataan yang ada didepan matanya. Dalang dibalik kematian orang tuanya.

Jadi.. bukan Yuri?

“Yama-chan, aku sangat senang bertatap muka denganmu lagi. Aku kangen denganmu. Sejak kau pindah, aku sangat sedih, tidak bisa bertemu kau lagi.” Kata pria bernama Yuto itu dengan tampang tak berdosa.

Tangan Ryosuke bergetar, mengepalkan tangannya marah.

“Tapi, 3 bulan yang lalu aku juga pindah ke Tokyo. Saat itu aku sangat senang. Berharap bisa ketemu kau lagi.” Yuto berhenti sejenak.

“Sebulan lebih aku mencari keberadaanmu sejak aku pindah, tapi hasilnya nihil. Saat itu aku memutuskan untuk menyerah. Dan saat berbalik badan untuk pulang, aku menemukanmu! Betapa senangnya aku saat itu. Tapi, aku melihatmu jalan dengan teman – temanmu. Khususnya Chinen itu. Dia menempel denganmu, bermanja – manja denganmu, membuat aku sangat marah! ‘Berani – beraninya Yama-chan ku diambil. Dia hanya milik aku’, pikirku saat itu.”

“Da-dari mana kau tahu namanya?” Tanya Ryosuke gagap.

“Aku mengikutimu, dan menyelidiki Chinen. Bukan hanya Chinen, tapi juga 3 temanmu yang lain. Tapi yang paling membuatku sangat kesal adalah dengan Chinen itu. Dimana – mana setiap aku mengikutimu, dia selalu ada.” Yuto mengalihkan pandangannya dari Ryosuke, marah.

“Jadi kau membunuhnya?” Tanya Ryosuke dengan mantap menyembunyikan emosinya yang meluap – luap sedari tadi.

“Un! Benar sekali.. Dari dulu sampai sekarangpun dia menyebalkan. Tidak pernah berubah, selalu saja mendekatimu. Padahal dulu aku sudah mencelakainya.”

Kelopak mata Ryosuke terbuka lebar ketika Yuto dengan santainya mengakui bahwa ia yang membunuh Yuri. Seketika ada perasaan menyesal di hati Ryosuke karena sudah menuduh Yuri. Tapi hal itu ditepisnya.

Orang ini sudah gila. Dengan mudahnya membunuh orang tanpa merasa bersalah. Tidak kusangka dia temanku saat kecil. Tapi.. dia mengatakan hal yang aneh..

“Apa maksudmu ‘dari dulu’?” dahi Ryosuke berkerut keheranan.

“Mou Yama-chan, kau bahkan tidak ingat? Chinen, dia adalah orang yang aku larang kau berteman dengannya dulu! Kalian dulu begitu akrab, aku tidak bisa menerimanya. Aku merasa kau meninggalkanku. Dan saat kau pindah, aku merasa sangat sedih. Dan aku merasa ini semua gara – gara Chinen. Terbesitlah dalam benakku untuk mencelakakannya. Lalu aku memanggilnya ke tepian sungai dan mendorongnya ke sungai. Dia kan tidak bisa berenang. Tapi sayangnya ada orang yang menolongnya waktu itu.” Jelas Yuto berdecak kesal. “Tapi aku senang sejak kejadian itu dia hilang ingatan. Dia tidak lagi bisa mengingatmu.”

Yuri.. Kau dulu juga temanku.. Kau juga temanku. Aku tidak tahu kita begitu dekat dulu. Sial! Kenapa aku tidak ingat?!

“Bagaimana cara kau membunuh Yuri?” Tanya Ryosuke.

“Saat aku memasuki apartemennya, aku menemukan obat yang memberikan efek simultan, obat untuk mengurangi rasa sakit kepala karena tumor otak. Terbesit dalam kepalaku untuk mengganti obatnya dengan simofili, obat yang berfungsi untuk menyembuhkan sakit mata. Tapi memiliki efek samping yang sangat kuat jika digunakan untuk penderita tumor otak. Tentu saja terima kasih untuk Hikaru dan teman – temannya.” Jelas Yuto menunjuk Hikaru cs dengan bangga. “Mereka yang membantuku menjalankan rencana ini. Tentu saja obat itu tidak menaruh curiga kepada polisi, karena komposisinya sangat mirip.”

Ryosuke kembali dikejutkan dengan penjelasan Yuto. Tidak menyangka Yuto membunuh Yuri dengan cara dingin namun kejam seperti itu.

“Dakara Yama-chan, sejak dulu dan sekarang kau Cuma milikku. Kita ditakdirkan untuk bersama. Kau kembali padaku ya. Kita mulai dari awal lagi.” Ujar Yuto tersenyum.

“Huh, neraka aku kembali padamu. ” Ryosuke menyunggingkan senyum malas.

“Kenapa? Aku sudah menyingkirkan orang yang menyusahkanmu. Tidakkah kau senang?” Yuto memelas.

“Termasuk orang tuaku? Terima kasih, kau membuatku sangat muak”

“Itu.. Ya.. Karena kupikir dengan membunuh orang tuamu juga, kau akan bergantung padaku, dan kau akan menjadi milikku sepenuhnya. Lagian mereka melarangku berteman denganmu. Tapi perkiraanku salah. Sejak kejadian itu, kau malah pindah..” Yuto murung. "Ah, Yama-chan, apa kau tidak ingin mengetahui kenapa Chinen cemas begitu kau membahas soal orang tuamu?"

Benar juga. Kenapa Yuri cemas ketika aku mengatakan hal itu? Padahal bukan ia yang membunuh mereka.., Batin Ryosuke bertanya - tanya. Memang hal itu yang mengganggu pikirannya saat ini.

"Kenapa?"

"Aku mengatakan padanya bahwa ia berkepribadian ganda dan secara tidak sadar mencelakakan orang tuamu. Dan aku tidak sengaja melihatnya melakukan hal itu, membuatnya sangat ketakutan. Lalu aku berjanji akan merahasiakannya padamu asalkan ia berhenti berteman denganmu. Ia menurut. Tapi setelah itu kau memutuskan pindah, membuatku sangat kalut. Yah, karena kesal aku panggil saja ia ke tepi sungai dan mencelakainya. Walaupun dia hilang ingatan, tapi kebohonganku soal dia yang membunuh orang tuamu masih menghantuinya. Mungkin karena itu dia tidak banyak teman. Tapi tidak ku sangka dia bertemu kau lagi."

“Sudah selesai?”

“Apa?”

“Kubilang kau sudah selesai? Siapa yang akan menjadi target mu selanjutnya hah?”

“Hm, entahlah. Bisa saja temanmu yang lain, jika mereka-“

“SUDAH, DIAM!! KAU ITU SAKIT! GILA!! NYAWA ORANG SEPERTI MAINAN BAGIMU, HAH?! SUDAH CUKUP KAU MENGAMBIL NYAWA ORANG TUA DAN TEMANKU, BRENGSEK!” kini Ryosuke mengeluarkan emosinya yang sudah mendidih.

“Yamada… Kau tidak berterima kasih padaku? Kau bilang aku gila? KAU PIKIR DEMI SIAPA AKU BERBUAT BEGINI HAH?!! UNTUK MELINDUNGIMU!! ORANG YANG MENYUSAHKAN BAGIMU, DAN ORANG YANG MENGHALANGIKU UNTUK MENDEKATIMU PANTAS MATI!!” bentak Yuto tak mau kalah dengan menghempaskan kursi kayu tua yang ada di dekatnya.

“MELINDUNGIKU?! BENAR KAN, KAU ITU SAKIT JIWA!! Kau merasa sudah melindungiku? AKU TIDAK PERNAH MERASA TERLINDUNGI. KAU SEMAKIN MEMBUATKU TERPURUK, SIALAN.”

“… Makanya, bergabunglah denganku dan Hikaru. Tinggalkan teman – temanmu. Aku yakin kau tidak akan menyesal. Kau akan senang” ujar Yuto melunak.

“Sampai kiamat pun aku  TIDAK AKAN PERNAH bergabung dengan kalian.” Kata Ryosuke dengan penekanan di setiap katanya.

Yuto terdiam. Lalu ia mendesah, kemudian tersenyum licik. “Apa boleh buat. Aku harus memaksamu dengan cara kekerasan.” Yuto melangkah maju ke arah Ryosuke. Ryosuke mundur seiring dengan langkah Yuto. Hikaru pun yang melihat santai dari tadi ikut maju.

“Kenapa kau mundur? Takut?”  Tanya Yuto dengan senyum liciknya.

“Huh, tidak ada yang perlu kutakutkan dengan pengecut dan orang sakit seperti kalian.” Jawab Ryosuke lantang.

“Haah.. Sungguh Yama-chan, aku tidak mau melakukan ini. Tapi karena kau melawan, ya terpaksa..” Yuto mendesah kecewa. “Hikaru, kalian bersedia membantuku kan?”

“Tentu saja Yuto-kun. Serahkan pada kami. Aku sudah lama ingin bermain – main lagi dengannya.” Jawab Hikaru yang tidak sabar.

Ryosuke melangkah mundur. Tetapi Hikaru dan teman – temannya bertindak cepat dengan beberapa dari mereka membawa balok kayu. Mereka langsung membentuk lingkaran mengepung Ryosuke.

Salah satu dari mereka maju mencoba menyerang Ryosuke. Tapi Ryosuke bisa menghindari serangan itu. Satu serangan lain menyusul ke arahnya, dan lagi - lagi bisa ia tepis. Tapi ia kalah jumlah. Perkelahian sengitpun tak dapat dihindari. Mereka saling meninju da menendang. Tetapi ada seseorang yang menyerang Ryosuke dari belakang dengan balok kayu panjang, membuat ia terjatuh.

Kepalanya berdarah, penglihatannya kabur. Hikaru duduk di atas badan Ryosuke dan kemudian memukul pipinya. Napas Ryosuke terengah - engah. Dia terbatuk - batuk. Wajahnya kini lebam, bibirnya berdarah. Tetapi penderitaan fisiknya tidak membuat mereka jera. Mereka lalu menendang - nendang tubuh Ryosuke yang tidak berdaya.

Sial! Aku memang ingin mati. Tapi tidak di tangan orang rendahan seperti mereka!, Teriak batinnya mendesau. Ryosuke yang tidak ingin diperlakukan rendah mencoba bangkit. Ia melebarkan matanya sampai tingkat maksimum, tidak peduli penglihatannya samar - samar atau kepalanya berdarah.

Ia menyerang membabi buta dengan lunglai. Hikaru dan teman - temannya hanya tertawa melihat Ryosuke seperti menyerang angin.

"STOP!! Aku hanya meminta kalian untuk sekedar menghajarnya, bukan malah membuatnya terluka!" bentak Yuto menghentikan baku hantam mereka.

Sesaat kemudian pintu gedung didobrak oleh beberapa orang. Suara langkah mereka berlari menuju tempat dimana Ryosuke dan orang - orang lainnya berada.

"Yama-chan!"
"Ryosuke!"
"Yamada!"
Teriak Keito, Takaki, Daiki dan Yabu. Mereka datang.

"Ck.. Dan beberapa serangga pengganggu pun datang." desah Yuto. Lalu ia mengeluarkan pisau lipat dari saku jaketnya.

Daiki berlari mendahului Takaki dan yang lainnya.Yuto pun berlari dari arah berlawanan menuju Daiki dengan mata pisau yang mengarah ke depan.

"Dai-chan!" Ryosuke yang melihat hal itu refleks bergerak mendahului Yuto dan kini berada di depan Daiki. Dan hal selanjutnya yang terjadi...

JLEB!

Ryosuke tersungkur..

"YAMADA!!" teriak Daiki melihat punggung Ryosuke yang kini berlumuran darah.Takaki dan Keito langsung menuju ke arah mereka.

Yuto kaget dengan apa yang ada di depan matanya. Tangan dan pisaunya berlumuran darah. Ia tidak mengira Ryosuke akan melakukan hal seperti itu. "Tidak.. Tidak.. Apa yang sudah kulakukan? Yama-chan ku tidak boleh terluka!! Tapi.. AAAAAAAHH!!!" ia menenggelamkan muka kedalam telapak tangannya dengan gemetar.

"Yamada! Bertahanlah! Aku sudah memanggil ambulans!" kata Yabu panik.

Kenapa aku menolong Dai-chan? Kenapa aku membahayakan nyawaku demi oran lain?

Sial. Kenapa untuk menggerakkan tangan dan kaki ku saja susah?Aku tidak sudi mati konyol begini di depan mereka. Yang harus membunuhku adalah diriku sendiri! Bukan orang lain!

……

Menyebalkan.. Penglihatanku semakin memudar dan menipis.. Kaa-chan, Tou-chan, Yuri.. Sepertinya aku akan menyusul kalian..


TBC


Glosarium :
Moshi moshi = halo
Yandere = diluarnya kayak orang normal, tapi dalamnya sadis. Semacam psikopat.
Dakara = Jadi,
Simofili = Cuma karangan saya nama obat itu.


[Series] Let Me Be Empty (3/5)




Ryosuke menghentikan mobilnya di parkiran gedung apartemen. Disana banyak mobil polisi dan sebuah mobil ambulan. Ryosuke masih syok melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Ia seperti tersambar petir di siang bolong. Ia ingin menyangkal apa yang Daiki katakana di telepon tadi. Tapi melihat mobil – mobil polisi ini ia menjadi ragu.

Ia buru-buru melepas seatbelt nya dan membuka pintu mobil untuk keluar. Ia berlari ke lantai 5 tempat dimana ruang apartemen Yuri menetap. Sesaat sampai di lantai 5, tepat di depan pintu 301 ia dihadang oleh petugas kepolisian.

“Biarkan aku masuk!” Ujar Ryosuke setengah membentak.

“Maaf, yang tidak berkepentingan dilarang masuk.” Kata petugas itu tegas.

“Maaf pak, biarkan dia masuk. Dia kerabat korban.”

“Dai-chan!” Seru Ryosuke dan kemudian langsung masuk menerobos pintu yang dijaga petugas itu. “Apa maksudmu dengan korban tadi?”

“Seperti yang ku katakan di telepon tadi. ” Daiki tampak murung saat mengatakan kalimat itu.

“Yamero yo, Dai-chan. Muri desu.. Kemaren aku masih berbicara dengannya, aku mengajaknya ke desa saat aku tinggal waktu kecil. Ia tampak sehat-sehat saja.”

“Kau boleh melihatnya ke dalam..” Ujar Daiki dengan lirih.

Ryosuke berjalan ke kamar Yuri yang pintunya sudah terbuka lebar. Saat ia melangkahkan kakinya kedalam, ia mendapati beberapa petugas forensik, Keito, Takaki, dan 2 petugas ambulans yang siap – siap untuk mengangkat tandu yang diatasnya terdapat sosok seseorang yang terbujur kaku yang diselimuti kain putih. Keito dan Takaki menatap sosok itu murung. Mata mereka menggambarkan kesedihan dan belasungkawa.

“Tunggu! Jangan dibawa pergi dulu. Aku ingin melihat jasad itu.” Pinta Ryosuke kepada 2 petugas ambulans yang bersiap untuk membawa tandu.
Ryosuke membuka kain putih itu perlahan, dan perlahan. Dan kini ia melihat sosok pria kecil terbujur kaku dengan wajah yang pucat pasi tapi bagaikan malaikat.

"Yu..ri? Oi, Chinen, bangun. Kubilang bangun!" Ryosuke mengguncang tubuh Yuri yang kaku itu dengan keras. Sontak hal itu langsung dihalangi oleh petugas. Keito dan Takaki pun ikut meleran Ryosuke.

"Yamada! Dia sudah meninggal! Tidak ada gunanya kau menyuruhnya bangun!" Takaki marah.

"Hah, gila. Aku masih berbincang dengannya kemarin! Dia masih tersenyum padaku. Dia tak terlihat seperti akan mati!" Keras Ryosuke emosi.

"Kau harus merelakannya.. Dia sudah pergi." Keito menepuk pundak Ryosuke untuk meredam amarahnya.

Berani sekali kau pergi, Yuri.. Ah, yang kemarin.. Dia pasti merasa bersalah, karena ia memang pelaku dibalik kematian orang tuaku. Haha, hebat. Aku bisa membuat orang bunuh diri.

2 petugas tadi akhirnya membawa jasad Yuri ke ambulans untuk dibawa kerumah sakit.

Ryosuke dan teman - temannya hanya bisa memandang membiarkan petugas itu membawa jasad teman kecil mereka yang sering mereka manjakan. Teman - temannya memandang sedih tubuh pria kecil dibalik kain putih itu. Seperti mimpi, tidak percaya mereka akan kehilangan teman yang paling mereka sayang, yang paling mereka manjakan. Terlalu cepat baginya untuk meninggalkan dunia ini.

Tapi tidak bagi Ryosuke. Batinnya bergejolak, antara marah dan senang, tapi juga merasa hampa. Ia marah karena Yuri terlalu cepat pergi, tanpa sempat Ryosuke balas perbuatannya. Tapi ia juga senang karena ia tidak perlu capek - capek menyingkirkan Yuri, karena sekarang ia sudah meninggal, dengan waktu yang sangat singkat. Di lain pihak, batinnya merasa hampa atas kepergian Yuri. Yuri yang setiap pagi datang ke apartemennya, Yuri yang sering mengajaknya hangout, Yuri yang selalu menempel kemanapun mereka pergi, Yuri yang selalu senang menjahilinya, kini tidak lagi bisa ia rasakan..

Salah satu detektif kepolisian menyuruh Ryosuke dan teman - temannya keluar meninggalkan TKP. Lalu detektif itu memberi tahu bahwa obat - obatan yang berceceran di lantai diduga jatuh karena sakit kepala yang hebat dan mendadak oleh penyakit yang dideritanya, sehingga saat ia mengambil obat itu, serangannya terlalu parah dan ia tidak bisa lagi menahannya sehingga obat - obat itu jatuh ke lantai, bersama Yuri. Disimpulkanlah kasus ini sebagai kecelakaan.

"Paling juga dia bunuh diri karena merasa bersalah." Gumam Ryosuke berbisik, tanpa tahu Daiki mendengarnya.

***

Upacara pemakaman Yuri berlangsung seadanya.. Orang orang yang melayat tidak banyak. Beberapa teman - teman kampus, Daiki, Keito, Takaki, Ryosuke, dan ibu Yuri yang sedang menangis.Saat memberi tahu kepada ibunya, ia sangat sedih dan langsung berangkat ke Tokyo. Maklum, Yuri tinggal sendiri di kota dan mengontrak apartemen murah di dekat kampus.

Usai upacara, Ryosuke langsung pergi tanpa berpamitan dengan siapapun. Daiki, diikuti dengan Takaki dan Keito langsung mengejar Ryosuke.

"Tunggu! Kau mau kemana?" Tanya Daiki membalikkan tubuh Ryosuke.

"Aku mau pulang." Jawab ryosuke malas.

"Aku perlu bicara denganmu."

"Ada apa?"

"2 hari yang lalu, saat kau pergi dengan Chinen, kalian membicarakan apa?" Tanya Daiki langsung pada poinnya.

"Tidak ada apa -apa. Hanya obrolan tidak penting." Jawab Ryosuke melengah.

"Jawab yang jujur! Kemaren aku mendengarmu bergumam kalau Chinen bunuh diri. Apa maksudmu?!" Tanya Daiki yang sekarang meledak.

"...." Ryosuke masih melengah tidak menjawab.

"Jawab Yamada!"

"Dia sudah membunuh orang tuaku!!" Bentak Ryosuke, yang membuat Daiki, Takaki dan Keito terperanjat. Mereka bergeming. Jadi, orang tua Ryosuke dibunuh? Oleh Chinen? Jadi, kejadian itu bukan kecelakaan?

"Pasti dia bunuh diri karena aku mengetahui apa yang dia perbuat. Kesal sih, harusnya aku yang membalas perbuatannya. Tapi tidak kusangka, ia mati lebih dulu.Ya, memang orang seperti dia sejak awal memang pantas mati." Daiki langsung melayangkan kepalan tangannya ke muka Ryosuke dengan keras. Selepas penjelasannya. Ryosuke tersungkur ke tanah. Daiki sudah sangat emosi atas apa yang Ryosuke katakan.

"Jaga omonganmu! Apa yang membuatmu yakin kalau ia yang membunuh orang tuamu hah?!" Geram Daiki yang tidak percaya atas perubahan sikap Ryosuke terhadap Yuri. Padahal kemaren, saat di apartemen Yuri, ia seperti tidak percaya Yuri meninggal.

"Karena dia kelihatan panik saat aku mengatakannya." Jawab Ryosuke melunak.

"Itu tidak cukup bukti!! Tega sekali kau menuduh temanmu sendiri. Dan orang seperti Chinen? Tidak mungkin ia bisa berbuat seperti itu! Orang tuamu meninggal saat kau berumur 9 tahun. Tidak mungkin anak kecil, apalagi Chinen membunuh orang tuamu!" Bentak Takaki nyalang yang tidak lagi bisa menahan emosinya.

Ryosuke menatap mereka panjang dalam hening. "Teman? Haha, aku tidak pernah menganggapnya teman. Dan kalian juga tidak pernah sekalipun aku anggap teman. Kalian cuma orang munafik."

Sejak kapan aku membuka topeng seperti ini? Bukankah aku berakting sebagai orang baik? Yuri...

Daiki, Takaki dan Keito kaget atas pernyataan Ryosuke. Napas mereka turun naik. Ryosuke tidak pernah sekalipun menganggap mereka sahabat atau teman. Jadi selama ini Ryosuke hanya pura - pura? Cuma sekedar main - main saja?Tidak pernah menganggap serius mereka.

"Kau.. Apa kau tahu apa yang dialami Yuri selama ini?" Tanya Daiki geram menahan kepalan tangannya untuk tidak menonjok Ryosuke.

Ryosuke tertegun, tidak menjawab...

"Aku tidak minta kau peduli dengan hal ini. Tapi kuharap kau mau mendengarku sampai selesai." Daiki berhenti sejenak.. Kemudian ia melanjutkan.

"Dulu di kelasku Chinen tidak pandai bergaul. Akulah yang mengajaknya berteman pertama kali dan mengenalkannya kepada kalian. Saat ia berteman dengan kalian, hari - harinya jadi lebih cerah. Ia lebih mudah bersosialisasi. Dan khususnya kau Yamada.Dia menganggapmu teman yang saat berarti, karena kau baik, memikirkan perasaan teman, perhatian, dan asik. Setidaknya itu yang ia pikirkan."


Daiki menghela napas sebentar, dan melanjutkan lagi. "Sampai ia didiagnosis dokter bahwa ia sakit tumor otak kronis, dan umurnya tidak lama lagi."

Mata Ryosuke, Takaki, dan Keito membesar, seakan tidak percaya apa yang barusan Daiki katakan. Tapi Ryosuke kembali mengalihkan pandangannya seakan tidak peduli.

Yuri? Ia mengidap penyakit seperti itu? Kenapa ia tidak pernah mengatakannya  kepadaku? Lagian, ia tidak pernah menunjukkan tanda - tanda kalau ia sakit setiap kali didepanku..

"Apa?! Kupikir selama ini dia hanya sakit anemia. Setiap aku bertanya saat ia sakit kepala dan pusing, ia hanya menjawab karena anemia. Kenapa ia tidak mengatakannya kepada kami kalau ia sakit kronis seperti itu?!" Keito meledak.

"Dia bilang tidak ingin menyusahkan kalian. Aku yang diberi tahunya pun tidak percaya ia mengidap penyakit seperti itu. Tuhan terlalu kejam untuk memberinya penyakit di tubuh pria yang tidak bersalah. Setiap kali aku melihatnya tertawa, bahagia seperti orang normal didepan kita, aku merasa sangat sakit. Tapi juga merasa kagum, ia masih bisa tertawa di tengah kondisinya yang seperti itu." Mata Daiki kini berkaca - kaca. Ia melempar pandangannya ke sembarang arah, menahan air matanya agar tidak jatuh.

Setelah beberapa lama berhenti, Daiki melanjutkan ceritanya. "Dan, apa kau tahu, Ryosuke? Chinen sering bersamamu , ia sering datang ke apartemenmu, itu bukan tanpa sebab. Ia bilang, sikapmu mirip seseorang yang sangat berarti baginya."

"Itu sudah jelas. Karena dia teman masa kecilku. Wajar saja ia menganggapku orang yang berarti baginya karena aku teman pertamanya dulu. Tapi ia sudah membunuh orang tuaku. Aku tidak bisa memaafkannya." Jelas Ryosuke dengan ketusnya.

"Terserah apa katamu. Yang jelas aku percaya Chinen tidak akan tega melakukan hal seperti itu. Kau menuduhnya, tidak ada bukti konkret bahwa ia pelakunya. Soal teman masa kecilmu, yang membunuh orang tuamu, itu pasti karena mimpimu bukan? Karena itu kau mengajaknya kesana? Karena  kau mencurigainya? Aku yakin dia bukan orang seperti itu."

"Ya, aku yakin dia. Di dunia ini tidak ada yang benar, semua orang itu munafik. Semua akan mengkhianatiku." Ryosuke tersenyum miris.

"Jangan samakan kami dengan mereka!! Kami sahabatmu yang siap membantu dalam kondisi apapun yang kau alami! Apa kau lupa itu?" Seru Takaki disusul anggukan Daiki dan Keito.

"Omong kosong! Aku sudah mendengar kalimat itu ratusan kali! Nyatanya? Semuanya berbalik ninggalin aku. Semuanya mengkhianatin aku!!" Bentak Ryosuke nyalang.

"Kami berbeda! Kami sahaba-"

"DIAM! Aku tidak percaya dan tidak akan pernah percaya sama kalian. Sejak awal KALIAN TIDAK PERNAH JADI SAHABTKU. TIDAK PERNAH!" Kata Ryosuke memalingkan wajah, dingin.

.... Hening

Daiki mengacak -acak rambutnya kesal, dan berbalik membelakangi Ryosuke. "Oi Bakaki, Keito ayo pergi. Tidak ada gunanya kita disini."
Takaki mengikuti Daiki sambil menggumam umpatan karena Daiki masih sempatnya memanggil dia 'Bakaki'. Sedangkan Keito hanya menunduk.

Ya, lebih baik begini.. Biarkan aku sendiri. Aku tidak peduli lagi. Aku capek berpura - pura didepan mereka. Semuanya bakal meninggalkan ku. Semuanya munafik.. Kau juga, Yuri.

***

"Aku tidak percaya Yama-chan bisa mengatakan hal kejam seperti itu." Keito menundukkan kepalanya di kursi.

Mereka sekarang berada di rumah Daiki setelah dari gereja dan membicarakan hal yang tidak mengenakkan hati mereka. Daiki berdiri sambil menyilangkan tangannya di sudut pintu, melihat keluar.

"Aku juga tidak percaya. Jadi selama ini kita main - main, ketawa- ketawa dengan dia itu tidak ada artinya? Dia tidak menganggap kita siapa - siapa." Ujar Takaki geram.

"Aku yakin, jauh di dasar hatinya Yamada sangat peduli dengan Chinen. Aku rasa ia lagi terpuruk saja atas kematian Chinen." Gumam Daiki. "Ia juga sama menderitanya dengan Chinen.."

***

Sesampainya di apartemen, Ryosuke dikagetkan oleh 2 sosok pria yang tinggi nan kurus, -Yabu- kakak sepupunya dan teman kakak sepupunya, -Inoo- didalam apartemen. Yabu memegang sesuatu di tangannya.

"Yo. kau dari mana?" Tanya Yabu.

"Dari pemakaman teman. Ngomong - ngomong kenapa kau bisa masuk ke dalam?"

"Pemakaman siapa? Kau tidak mengunci pintu apartemenmu, bodoh!"

Ryosuke mengangguk mengakui kalau ia lupa mengunci pintu. Kemudian ia menjawab pertanyaan Yabu tadi. "Chinen Yuri.."

"Chinen?!!Temanmu yang 'cantik' itu?! Kenapa ia meninggal?! Kenapa tidak memberi tahu ku!" Yabu histeris.

“Chinen siapa?” Tanya Inoo yang tidak mengenal Yuri.

“Dia teman akrab Yamada. Dia juga cantik, sepertimu.” Jawab Yabu sambil menoleh ke Inoo, yang membuatnya tersipu malu, entah kenapa.

“Ka-kau ini, jangan bercanda disaat kabar duka seperti ini!” Omel Inoo yang masih tersipu malu. Entah ada hubungan apa diatara mereka berdua, Ryosuke tidak peduli.

“Ah, maaf. Jadi, kenapa ia meninggal?!” Tanya Yabu histeris, dengan mengulang intonasi yang sama.

"Dia sakit. Maaf, aku tidak memberi tahumu." Jawab Ryosuke tidak semangat.

“Aku turut berduka cita..” Gumam Inoo, simpati.

Yabu menepuk pundak Ryosuke, merasa simpati. "Sudahlah, relakan saja dia. Nanti bawa aku ke makamnya ya." Kata Yabu. "Ah, ngomong - ngomong ini ada amplop di depan pintu apartemenmu tadi. Aku belum membukanya kok."

Ryosuke meletakkan amplopnya di atas meja. Rencananya nanti akan ia baca setelah Yabu dan temannya pergi.

"Ini, uangmu untuk bulan ini. Aku baru gajian." Yabu memberikan amplop  berisi uang yang jumlahnya lumayan banyak.

Yabu memang bekerja di perusahaan besar, yang tentu saja gajinya juga besar. Jadi uang yang ia berikan setiap bulan kepada Ryosuke bisa terpenuhi selama 30 hari, bahkan lebih jika ia bisa berhemat. Yabu sebenarnya sudah mengajak Ryosuke untuk tinggal bersama ibu dan ayahnya. Tapi Ryosuke menolak. Ia ingin hidup sendiri.

"Kalau begitu kami pergi dulu." Yabu menepuk - nepuk lembut kepala Ryosuke, memperlakukannya seperti adik kandung sendiri. Inoo tersenyum melihat adegan kakak-adik yang ada di depan matanya. "Sudahlah, jangan bersedih atas kepergiannya. Bawa aku ke makamnya besok." kata Yabu.

Setelah mereka berpamitan dan menutup pintu, Ryosuke mengambil amplop yang ia letakkan di meja tadi. Saat membuka, betapa kagetnya ia dengan tulisan yang tertera di kertas itu.


Chinen Yuri tidak bunuh diri atau kecelakaan.Ia dibunuh. Jika kau ingin tahu siapa pelakunya, datang ke gedung kosong dekat SMU Tsukishima, hari Minggu jam 8 malam.

Ryosuke kaget atas surat misterius yang ia baca. Siapa pengirimnya?

TBC


Glosarium :
Yamero yo = hentikan
Hangout = Jalan-jalan
-web�14 t x �B �|< width: 0px;word-spacing:0px'> “HAH?! Tidak, jangan salah paham! Aku tidak gay!” keras Ryosuke salah tingkah, tidak terima dengan perkataan Yuri.

“Hahaha. Aku hanya bercanda. Jangan anggap serius.”

Sialan, berani-beraninya orang ini mengerjaiku

“Oke, aku ikut. Jam berapa?” tanya Yuri menyudahi tawanya.

“Jam 2 siang. Aku akan menjemputmu.” Jawab Ryosuke kalem.

“Oke.” Jawab Yuri pendek, kemudian menutup telponnya.

Chinen Yuri, ia memang senang mengusili Ryosuke. Gelagat Ryosuke yang salah tingkah selalu membuatnya ingin tertawa. Biasanya Ryosuke akan marah setiap kali Yuri menggodanya. Tapi Yuri tidak pernah bosan untuk mengulangi perbuataan usilnya tersebut. Ia terus meng-ijime Ryosuke. Tapi, walaupun Ryosuke selalu marah setiap ia goda, Ryosuke akan baik dengan sendirinya 1 atau 2 jam kemudian.

***

Mobil sedan yang dibawa Ryosuke melaju menjauhi pusat kota.

Ya, sebenarnya ini mobil yang diberikan kakak sepupunya, Yabu. Ialah yang membiayai hidup Ryosuke sepeninggalan orang tua Ryosuke.

Chinen yang duduk di kursi sebelahnya memandang keluar jendela dengan ekspresi yang antusias. Gedung-gedung pencakar langit semakin lama tidak terlihat seiring dengan menjauhnya mobil dari pusat kota. Digantikan dengan pemandangan laut yang indah disisi jalan.

“Waa, suteki na..” Ujar Yuri melihat pemandangan laut dengan mata yang berbinar seperti baru pertama kali melihatnya.

“Kau belum pernah melihat laut sebelumnya?” Tanya Ryosuke heran.

“Tentu saja sudah. Hanya saja aku jarang keluar kota. Jadi pemandangan seperti ini jarang aku jumpai.” Sanggah Yuri.

“A.. souka” ujar Ryosuke mengangguk.

“Ryosuke.. sebenarnya kita mau kemana?”

“Ke suatu tempat. Desa terpencil saat aku tinggal waktu kecil.”

“Dimana?”

“Kau akan tahu nanti..” jawab Ryosuke datar.

***

Mobil Ryosuke berhenti di tengah jalan kecil. Di samping kirinya terdapat hutan lebat sedangkan di sebelah kanannya tampak sungai jernih yang cukup lebar. Rerumputan yang menyelimuti tanah di sepanjang tepian sungai dapat dijadikan tempat bermain untuk anak-anak, baik itu bermain bola kaki, bisbol atau untuk sekedar tidur-tiduran.

Sekitar 1 kilo dari mobil terlihat sebuah desa yang cukup terpencil. Suasana yang asri, udara yang segar adalah tempat yang cocok untuk melepas kepenatan kota. Ryosuke dan Yuri keluar dari mobil dan duduk di kap mobil tersebut.

“Hei Ryosuke! Aku tahu tempat ini! Aku pernah tinggal di daerah ini saat umurku 8 tahun. Natsukashii na..”

Apa? Yuri pernah tinggal disini? Oke, mungkin hanya kebetulan.

“Oh ya? Aku juga pernah tinggal disini saat umurku 6 tahun. Dan 3 tahun kemudian aku pindah ke kota.” Ryosuke berusaha bersikap normal dan mencoba menikmati suasana dan pemandangan yang ada.

“Eh? Hontou? Jangan – janga kita pernah kenal disini sebelumnya?” Tanya Yuri yang antusias.

“Mungkin saja.” Ryosuke membuka ranselnya dan mengeluarkan 2 kaleng cola, yang satunya ia berikan kepada Yuri

“Sankyuu.” Yuri membukatutup cola dan kemudian meneguknya. Hal serupa pun dilakukan oleh Ryosuke.

“Waktu kecil aku suka menjelajah di hutan ini dengan temanku.” Ryosuke menunjuk hutan yang ada di sisi kirinya.

“Wah? Aku juga sering! Jangan – jangan memang benar kita pernah kenal saat kecil?”

“Ya, mungkin saja kau temanku itu?” Ujar Ryosuke memperkuat asumsi Yuri. “Lalu, setelah menjelajah biasanya kami ke tepian sungai ini untuk sekedar beristirahat. Aku dan temanku berbaring disini sambil menengadah ke langit. Pemandangan yang sangat indah. Ah, natsukashii~” Ryosuke menutup matanya dan menghirup udara segar.

“Sekarang aku benar – benar yakin kita pernah kenal saat tinggal disini. Aku juga melakukan hal yang sama. Aku pasti temanmu itu.”

Yuri adalah temanku itu? Memang benar aku tidak mengingat wajahnya, tapi mendengar hal – hal yang ia katakan ini.. berarti ia adalah anak itu? Tapi bagaimana cara membuktikannya?

“Kau tahu, sebelum aku pindah orang tuaku dibunuh saat umurku 9 tahun, di desa ini.” Ujar Ryosuke datar menatap kakinya. Ia mulai ke pembicaraan serius.

“Ap-apa..? Benarkah? N-ne Ryosuke, kenapa kau berpikir orang tuamu dibunuh? Bu-bukankah itu kecelakaan?” Tanya yuri sambil gelagapan.

“Mimpi. Seorang bocah datang ke mimpiku dan mengatakan kalau ialah yang membunuh orang tuaku. Aku yakin ia teman masa kecilku?” Ryosuke menoleh ke arah Yuri dengan tatapan tajam.

“He-hei.. Apa kau mencurigaiku? Ti-tidak mungkin anak kecil bisa membunuh”. Jawab Yuri terbata-bata.

Kali ini Ryosuke mengalihkan pandangannya ke depan. “Ia berkelainan. Ia hanya ingin aku yang menjadi temannya. Apa bocah itu adalah orang yang duduk disampingku sekarang?”

“Ti.. Tidak mungkin! Aku tidak-“

Ryosuke menepuk pundak Yuri keras. “Hahahaa.. Aku hanya bercanda, Yuri. Tidak perlu panik begitu.”

“Huft.. Kau membuatku takut tahu!” Yuri menghembus napas panjang, merasa lega. Tapi keringat dingin mengucur dari pelipisnya, ekspresi cemas tergambar pada wajahnya.

“Tapi soal anak yang ada di mimpiku itu benar adanya..”

Kau orangnya. Aku yakin, kau yang membunuh orang tuaku. Kau panik saat aku mengatakan perihal orang tuaku. Bocah itu tidak mengizinkanku untuk berteman dengan yang lain. Dan melihat kau yang sekarang, kau sangat sering berdekatan denganku. Memang hebat kau bisa menyembunyikan sifat aslimu. Sekarang aku harus merencanakan balasan apa yang pantas untukmu.

***

TRIIING… TRIIING…

“moshi moshi?”

“Ryosuke! Kau harus datang ke apartemen Yuri! Sekarang!!”

“Hah? Memangnya ada apa?”

“Chinen!! Chinen!!”

“Tenang, kau tenang dulu.. Yuri kenapa?”

“Dia.. Dia sudah tidak ada..”

“Apa maksudmu? Dia kabur dari apartemen?”

“Tidak.. Chi-chinen ditemukan tewas di apartemennya!!”

“…. Oke, Dai-chan, candaanmu tidak lucu. Aku tutup sekarang”

“Aku tidak bercanda! Sekarang juga kau berangkat ke sini!”

TREK.

Daiki menutup teleponnya di seberang. Sedangkan Ryosuke masih bergeming dengan telepon yang masih ditelinganya.

Yuri.. meninggal?

TBC


Glosarium :
Nandemo nai = tidak ada apa – apa               
Urusai = diam                                                           
Suteki = indah                                                           
Hontou? = benarkah?
Natsukashii = kangennya
Souka = begitu
Moshi moshi = halo