NOTE: Reader, before you browsing to reading please make sure you read fanfiction in here according to your age. If you not yet 17 yo, we suggest you to read fanfiction with rating G, PG-13, PG-15. Rating NC-17 and NC-21 just for addult. Please follow this rule shake your self!
Showing posts with label Genre: Romance. Show all posts
Showing posts with label Genre: Romance. Show all posts

Saturday, May 4, 2013

[Oneshot] Aku Juga Menyukaimu


Title                      : Aku Juga Menyukaimu
Author                 : Yu_I (Yuyuu)
Link of Author     : https://twitter.com/YulindaIsnania
                             https://www.facebook.com/yuyulupylupyaya

Rating                  : PG-16
Genre                   : Romance
Lenght                  : Oneshot
Cast                      : Auriza Mika (Imaginary name) as female lead
            Yamada Ryosuke (Hey! Say! JUMP) as Nakata Ryu
             Hayate Megu (Imaginary name) as Nakata Ryu and Auriza       -Mika Friend. 

Summary             : Aku berpikir kalau Ryu menyukai Megu. Itu artinya aku tidak dalam keadaan koma lagi, melainkan mati. aku tidak ingin bersaing untuk mendapatkan Ryu, dan aku juga tidak ingin Ryu memilih antara aku dan Megu, karena aku bukan pilihan. Lebih baik aku tetap menyimpan perasaanku hingga tiba saatnya nanti, entah kapan.      
             

********************************************

****************************************************

Aku Mika, Auriza Mika. Seorang siswi kelas X di sekolah swasta di jepang, tepatnya di Kanagawa. Aku sudah lama sekali dalam keadaan koma karena menyukai teman sekelasku, namanya Ryu, Nakata Ryu. ku sebut koma karena aku memang terlihat seperti sedang koma, tidak hidup, dan juga tidak mati. Aku menyukainya bukan hanya karena dia tampan dan pintar, tapi karena aku menyukai senyumnya. Aku akan ikut tersenyum ketika dia tersenyum, seperti ada magnet yang menariku untuk tersenyum pula. Dan itu tidak ku temukan pada senyuman teman-temanku yang lain. Senyuman Ryu sungguh berbeda.

Aku sudah sangat lama menyukainya, sejak aku bertemu dengannya 12 tahun yang lalu, tapatnya ketika aku dan dia berada di satu taman kanak-kanak yang sama. Sejak saat itu aku mulai menyukainya, dan sejak itu pula aku selalu mengikuti semua kegiatan yang di ikuti oleh Ryu. Aku ikut karate, olahraga basket, renang, apapun yang dia suka, aku mati-matian pula untuk menyukainya, seperti berusaha untuk menyukai pelajaran Matematika dan Sejarah. Aku ingin, jika suatu saat dia berbicara kepadaku mengenai apapun, aku akan bisa mengikuti pembicaraannya, aku juga tidak ingin jika suatu saat akan membuatnya bosan karena ketidak tahuanku tentang apapun, dan setidaknya dia tahu kalau kami mempunyai hobby yang sama. Aku tidak tahu apakah itu akan berhasil untuk menarik perhatianya. Dulu aku pikir itu hanya perasaan anak kecil saja, tapi sepertinya jelas bukan, karena perasaan itu kini tumbuh semakin besar, hingga sekarang. Aku selalu memperhatikannya, aku juga mengetahui semua tentangnya. Aku benar-benar terobsesi untuk memilikinya. Tapi aku tidak punya keberanian yang cukup untuk mengakuinya. Untuk mengatakan kalau aku menyukainya. Sungguh menyukainya.

Aku sedang dalam perjalanan menuju sekolahku, aku selalu berjalan kaki. Kebanyakan siswa maupun siswsi di jepang berjalan kaki. Tiba-tiba terdengar suara seseorang menyapaku, aku pun berbalik untuk menyapa kembali. Ternyata Ryu, dia menyapaku pagi ini.

“ Selamat pagi Mika..” Ryu menyapaku dengan senyumannya pula.

“ Selamat pagi.... Ryu...” belum selesai lagi aku menyapanya, dia berlari meninggalkanku.

Sesampainya di ruang kelas, aku kembali menatap Ryu. berharap dia akan menyapaku kembali, entah karena alasan apapun. Tapi sampai pelajaran terakhir pun tidak ada tanda-tanda kalau dia akan menyapaku kembali. Dia tetap seperti biasa, berkumpul ketika istirahat  dengan teman-temannya dan dengan beberapa siswi lain yang memang suka mengikuti kemanapun dia pergi, seperti penguntit. Pelajaran hari ini berakhir, aku memasukan buku-buku ku ke dalam tas dan mulai berjalan meninggalkan kelasku dan kini aku sudah berjalan keluar dari pagar sekolah hingga akhirnya aku menghentikan langkahku karena aku mendengar  teriakan seseorang yang memanggil namaku dari kejauhan.

“ Um, Ryu....” ucapku pelan, dan hampir tidak terdengar.

“ Kenapa kamu tidak menungguku ?” nafasnya tersengal-sengal karena berlari cukup jauh.

“ Eh......” sahutku sambil sedikit memiringkan kepalaku ke arah kiri.

“ Iya, kenapa kamu tidak menungguku ? kita kan pulangnya searah.” Sahutnya lagi, kini dengan nafas yang teratur.

“ Eh... kita kan... tidak pernah pulang bersama ? aku pikir.... makanya aku tidak menunggumu.” Aku kembali menjawab, tapi kali ini dengan suara yang terdengar cukup jelas.

“ Aahh.. aku lupa, kita memang tidak pernah pulang bersama. Um, bagaimana kalau hari ini kita pulang bersama. Oke ? ayo.”

Dia mulai melangkahkan kakinya dan berjalan di depanku. Itu membuatku kebingungan. Dia bilang ingin pulang bersama tapi dia sama sekali tidak menghiraukanku yang berjalan tepat di belakangnya. Ini sama saja dengan pulang sendiri, tidak ada bedanya. Dia bahkan mulai memasang earphone dan menyanyikan lagu sambil berjalan.sedangkan aku, aku hanya membuntutinya, seperti penguntit. Tapi setidaknya itu karena jalan kami searah. Sepanjang perjalanan aku hanya berbicara tidak karuan dalam pikiranku. Memperdebatkan duniaku yang terlihat tidak seimbang ini. Hingga tidak terasa akhirnya Ryu mulai berhenti di persimpangan dan membalikkan badannya.

“ Aaahh... kenapa anak wanita selalu berjalan seperti keong ? lambat, sangat lambat. Pulang bersama, tapi terlihat seperti biasa. Berjalan sendiri-sendiri.” Dia berbicara lumayan keras, hingga aku cukup bisa mendengarnya.

Aku sedikit berlari untuk bisa sampai di persimpangan itu dan berdiri tepat di depannya.

“ Hei, lagi pula kamu yang berjalan terlalu cepat, seperti di kejar hantu.” Aku sedikit membela diriku.

“ Haa... benarkah ? kalau begitu.. bagaimana kalau kita kembali kesekolah dan mengulang perjalanan ini kembali ? tapi dengan langkahku yang sedikit pelan. Bagaimana ?” dia terlihat seperti serius ketika mengatakannya.

“ Eh....” aku kembali hanya bisa mengucapkan itu, Ryu benar-benar membuatku kebingungan.

“ Um, aku hanya bercanda. Bye .. Mika..” ucapnya sambil tersenyum dan berjalan menuju arah lain dan meninggalkanku kembali, mengulangi hal yang dia lakukan ketika menyapaku tadi pagi, tapi kali ini dia membalikkan badan dan melambaikan tangannya padaku.

          Aku pun berjalan tertunduk menuju arah yang berlawanan. Sesampainya aku di rumah, aku langsung menuju kamarku, dan meletakkan tasku. Mandi, dan membantu ibuku untuk membuat makan malam. Malam ini berlalu seperti biasa, setelah makan malam bersama ayah dan ibuku selesai , aku membantu mencuci piring dan kembali ke tempat tidurku untuk belajar, kemudian tidur. Keesokan harinya, setelah mandi dan sarapan, aku kemudian membuka pintu dan berjalan keluar untuk pergi ke sekolah. Tapi aku menghentikan langkahku ketika aku keluar dan menemukan Ryu bersandar pada pagar rumahku sambil menekan-nekan handphonenya, seperti sedang mengirim pesan.

“ Ah, kamu sudah siap. Ayo kita berangkat.” Ryu memulai percakapan.

Tapi dia tidak langsung berjalan, dia tetap diam. Tidak bergerak sama sekali. Bahkan dia masih memainkan handphonenya.

“ Eh...??”

“ Um, kita pergi.” Dia tersenyum, dan mulai memasukkan handphonenya ke dalam saku.

Aku semakin koma, tidak tahu apa yang harus aku katakan. Dan kenapa dia tersenyum ? aku mulai merasa ingin melompat-lompat kegirangan, tapi dia masih berada di depanku saat ini.

“ Eeehh.... apa yang kamu lakukan Mika ? kita bisa terlambat...” Ryu berjalan sambil menarik lengan bajuku, membuatku semakin tidak karuan saat itu.

Aku memikirkan, kenapa dia, Ryu berbicara denganku akhir-akhir ini ? tepatnya 2 hari ini. Sejak kami 1 sekolah dulu, dia orang yang sangat jarang berbicara kepadaku, kecuali memang benar-benar ada hal penting yang ingin dia katakan. Tapi kenapa sekarang berbeda ? aku kembali berdebat degan tenangnya, hingga aku tidak mendengar lagi apa yang di katakan Ryu padaku saat  ini. Aku terlalu sibuk untuk  mendengarkannya. Hingga akhirnya kami tiba di sekolah.

“ Ryu... selamat pagi...” terdengar suara perempuan yang tidak asing bagiku sedang menyapa Ryu.

“ Hei, Megu.. selamat pagi.” Kulihat Ryu tersenyum sangat manis tapi juga terlihat malu-malu ketika menyapa Megu.

Ya, Megu, Hayate Megu. Teman satu kelas kami. Megu teman yang baik, dia pintar dan cantik. Dan semua orang menyukainya, termasuk aku. Mungkin juga Ryu, karena aku tidak pernah melihat senyuman Ryu yang seperti ini selama ini. Aku berpikir kalau Ryu menyukai Megu. Itu artinya aku tidak dalam keadaan koma lagi, melainkan mati. aku tidak ingin bersaing untuk mendapatkan Ryu, dan aku juga tidak ingin Ryu memilih antara aku dan Megu, karena aku bukan pilihan. Lebih baik aku tetap menyimpan perasaanku hingga tiba saatnya nanti, entah kapan.

Aku menatap Megu dan Ryu yang saling tersenyum sambil berjalan menuju ruang kelas, dan aku kembali menundukan kepalaku, berjalan di belakang mereka. Hari ini jantungku seakan mau berhenti ketika jam istirahat kedua, dimana Ryu menarik tangan Megu dan membawanya keluar kelas, entah kemana. Aku menangis, dalam hati. Kenapa harus aku yang menyukainya ? dan, kenapa dia menyukai Megu ? aku tidak tahan untuk tidak meneteskan air mataku, tapi tidak di depan teman-temanku. Akhirnya aku memutuskan untuk menangis di kamar mandi sekolah. Sepanjang perjalanan menuju kamar mandi aku berusaha menahan air mataku agar tidak menetes. Tapi sia-sia, ketika aku melihat keluar jendela. Ryu dan Megu, mereka sedang duduk di bangku taman sekolah, saling menatap dan tersenyum satu sama lain. Dan Ryu kembali terlihat malu-malu. Air mataku menetes saat ini, tapi aku tetap meneruskan langkahku hingga akhirnya tiba di kamar mandi dan menangis sejadi-jadinya. Aku tidak masuk pelajaran terakhir, aku pulang sebelum pelajar di mulai. Aku tidak tahu apa yang terjadi di kelas setelah aku pulang, mungkin teman-temanku sedang mengejek Ryu dan Megu karena ketahuan menjalin hubungan.

Aku tidak ingin ke sekolah pagi ini. Aku merasa sakit, tapi hanya perasaanku saja yang sakit, yang lainnya tidak, mereka baik-baik saja. Aku berjalan keluar rumah dan aku kembali terkejut, Ryu kembali ada di depan rumahku. Tepatnya bersandar di pagar dan kali ini aku yang menyapanya terlebih dahulu karena dia terlihat sibuk mengirimkan pesan, mungkin untuk Megu.

“ Selamat Pagi.” Ucapku sambil berjalan meninggalkannya.

“ Eh, Mika. Selamat pagi.” Ryu menjawab dengan semangat, kemudian berlari kecil mengikutiku.

Hari ini perjalanan menuju sekolah terasa sangat melelahkan. Sudah hampir 10 menit kami berjalan, tapi tidak ada satupun yang berbicara. Ryu terlihat asik dengan ponselnya. Dia sesekali tertawa-tawa kecil ketika membaca pesan yang dia terima. Itu membuatku semakin tersiksa, aku semakin mempercepat langkah kakiku. Aku benar-benar sekarat saat ini.

“ Um, Mika. Kamu berteman dengan Megu kan ? dia teman kita sejak sekolah menegah pertama. Dia selalu duduk di depanku. Apakah kamu ingat ?” Ryu memulai percakapan dan membuatku harus menjawabnya.

“ Um, aku berteman.. hanya saja tidak begitu dekat. Tidak sedekat kamu dan dia.” Jawabku sambil tersenyum menatap Ryu, dan dia hanya membalas senyumanku tanpa membantah kalau dia dan Megu tidak berteman dekat.

Sesaat, perjalanan kami sepi kembali. Hingga 10 menit kemudian Ryu kembali memulai percakapan. Dan lagi-lagi tentang Megu. Aku hampir menabrak anak kecil yang berjalan di depanku karena menutup mataku agar tidak menangis. Lagi pula aku tidak ingin terlihat seperti gadis aneh yang menangis di tengah-tengah pembicaraan.

“ Dia gadis yang baik bukan ? dia juga pintar dan cantik. “ Ryu kembali tersenyum ketika membicarakan Megu.

“ Um, dia pintar dan cantik. Megu benar-benar sempurna.” Sahutku dengan nada yang datar.

“ Apakah menurutmu Megu sudah punya kekasih ?” kali ini Ryu menarik lengan bajuku kembali, dan menghentikan langkahnya.

Aku sempat berpikir, kenapa dia hanya menarik lengan bajuku ? kenapa bukan tanganku ? apa tangannya itu hanya untuk menggenggam tangan Megu ? aku mulai kesulitan untuk menjawab pertanyaan Ryu. jika ku jawab sudah, Ryu mungkin akan sakit hati, dan aku tidak ingin melihat Ryu sedih. Tapi jika ku jawab belum, aku yang akan sedih sekaligus sekarat, karena kemungkinan besar Ryu akan mengejar Megu.

“ Uumm... aku tidak tahu.. sebaiknya kamu tanyakan saja  langsung pada Megu..” jawabku perlahan dan meletakan tasku kemudian duduk dan mengeluarkan buku pelajaranku.

“ Um, kamu benar. Aku akan memikirkannya nanti.” Ryu kemudian berjalan menuju tempat duduknya.

Tidak lama, Megu datang dan tersenyum menatap Ryu. kemudian merubah arah tatapannya kepadaku. “

“ Selamat pagi Mika..” senyuman Megu benar-benar manis.

“ Selamat... pagi Megu..” balasku dengan senyuman pula.

          Pelajaran hari ini benar-benar sulit di mengerti. Aku menguras habis konsentrasiku agar bisa mengikuti pelajaran dengan baik, tapi sia-sia. Semua yang ada di pikiranku hanya bayangan Ryu dan Megu yang tertawa, dan bercanda sepanjang hari ini. Hingga waktunya pulang, aku bergegas memasukkan buku-buku ku ke dalam tas dan melangkah pergi. Malam ini aku tidak makan malam bersama, karena aku mengatakan kalau aku sudah makan sebelum pulang kerumah. Aku mengambil sebuah bingkai foto yang terletak di atas meja belajarku dan metapnya. Itu adalah foto di mana aku sedang manghadiri perpisahan sekolah 1 tahun yang lalu. Aku berfoto seorang diri, dengan mengenakan seragam sekolah dan memegang sebuah surat kelulusan di tanganku. Itu adalah foto yang di berikan oleh Ryu, dia yang memotretnya, dia juga yang menyerahkannya padaku. Dengan sebuah kotak kado berwarna merah, dan waktu itu fotoku sudah berada di dalam bingkainya. Dia menyerahkannya tepat di saat hari pertama aku masuk sekolah ini.

          Hari-hari berlalu seperti biasa, aku masih memendam perasaanku. Aku masih belum ingin mengatakannya. Belum saatnya. Ryu pun masih terlihat bersama Megu. Walaupun aku tidak mendengar kabar kalau Ryu dan Megu menjalin hubungan, aku tidak ingin merusak kedekatan mereka, karena aku tidak ingin jika suatu saat ada yang merusak kedekatanku dengan pria idamanku, siapa pun itu.Pagi ini pun aku kembali menemukan Ryu yang bersandar di pagar rumahku dengan menggenggam sebuah ponsel di tangannya.

“ Selamat pagi.. “ Ryu menyapaku beserta senyumannya.

“ Selamat pagi... “ balasku dan mulai berjalan.

“ Mika, aku ingin menceritakan sesuatu padamu.” Ryu terlihat sangat serius.

Aku mulai memikirkan hal terburuk, mungkin Ryu dan Megu sudah menjalin hubungan. Itu yang ada di pikiranku saat ini. Tapi aku masih bersikap wajar dan mengangkat alisku seolah sedang bertanya.

“ Aku menyukai seseorang, aku sungguh menyukainya. Tapi... aku belum berani untuk mengatakan padanya apa yang aku rasakan.”

Ryu tertunduk, dan membuatku dalam detik-detik terakhir. Aku kalah. Ryu menyukai wanita lain. Aku hampir saja mengucapkan sesuatu sebelum akhirnya dia berbicara kembali.

“ Apakah kamu ingin tahu siapa wanita yang selama ini membuatku tdak bisa tertidur di malam hari karena memikirkan apa yang sedang dia lakukan, dan apakah dia juga memikirkannku....”

Aku sangat ingin tahu, tapi aku juga tidak ingin tahu. Jika aku tahu siapa wanita itu, aku mingkin akan membencinya selama-lamanya karena telah membuat Ryu seperti itu. Yang bisa ku lakukan hanya mengambil jalan utama, tidak ingin mengetahuniya.

“ Umm... aku rasa tidak. Aku tidak ingin mengetahuinya Ryu. lagi pula aku tidak akan bisa membantumu untuk mendapatkannya. Kamu harus berusaha sendiri jika kamu benar-benar menyukainya.” Aku terlihat seperti orang yang berpengalaman ketika mengatakannya.

“ Tapi... aku ingin kamu mengetahuinya. Lalu  bagaimana caranya ? dia bahkan tidak terlihat menyukaiku ?” Ryu kembali melemparkan pertanyaannya padaku.

“ Uum, kamu bisa pikirkan nanti...” aku tersenyum padanya solah memberikan semangat, padahal aku sendiri perlu menyemangati diriku.

Ryu tersenyum, kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju sekolah. Di sekolah, pada saat jam kosong Ryu selalu terlihat bersama Megu. Dan mereka terlihat sangat dekat. Tapi kenapa Ryu tidak mengatakannya pada Megu ? dia bisa kapan saja mengatakan kalau dia menyukai Megu, tapi tidak dia lakukan.

          Malam ini aku kembali menatap fotoku. Besok pagi, aku berniat untuk mengatakannya pada Ryu. Apa yang aku rasakan. Walaupun dia menyukai wanita lain, setidaknya dia juga tahu apa yang aku rasakan padanya. Aku tidak bermaksud membuatnya kebingungan nantinya. Aku hanya ingin dia tahu, aku menyukainya.Aku tertidur dan terbangun keesokan harinya dengan masih memeluk foto itu. pagi ini, aku benar-benar berantakan. Aku menjatuhkan banyak benda karena terburu-buru, salah satunya bingkai foto itu. aku memecahkannya. Aku berniat membersihkannya nanti, tapi bagaimana jika ibu masuk ke kamarku dan pecahan bingkai ini mengenai kakinya. Aku kembali memungut pecahan itu, dan mengeluarkan foto itu dengan perlahan kemudian menaruhnya di atas meja.

“ aku berangkat....” aku berpamitan dengan kedua orang tuaku setelah aku menyantap sarapanku.

Aku membuka pintu dan aku sudah siap untuk menyatakan perasaanku pada Ryu, tapi kali ini Ryu tidak menungguku. Aku ke sekolah sendiri. Aku hampir membatalkan niatku karena ku pikir Ryu pagi ini menjemput wanita idamannya itu. Logika dan perasaanku kembali berdebat henbat kali ini. Aku sampai bingung, mana yang harus ku ikuti.

Sekolah berakhir  hari ini.Aku sudah di depan gerbang sekolah ketika Ryu memanggilku. Dia berlari mendekat, nafasnya tidak beraturan, dia terlihat sangat berantakan dengan keringat yang menetes di seluruh tubuhnya. Aku hanya memandangnya dan membiarkan dirinya tenang agar aku bisa mengatakan apa yang aku rasakan. Tapi aku masih belum tahu memulainya dari mana. Di sela-sela kebingunganku, Ryu mulai berbicara padaku, dan dia  juga terlihat gugup, seperti aku.

“ Mika... apa kamu tahu, siapa yang selama ini mengirimkan pesan padaku ?”

Aku tidak ingin tahu. Aku katakan seperti itu dalam benakku. Kenapa Ryu ingin aku mengetahui itu. aku membalikan badanku dan mulai berjalan meninggalkannya.

“ Megu. Kami selalu saling mengirimkan pesan.”

Langkahku terhenti. Aku sudah yakin Ryu dan Megu menjaling hubungan. Aku kembali membalikkan badanku menatapnya.

“ Apa kamu tahu kenapa aku malu ketika berbicara dengannya ?” pertanyaan Ryu membuatku ingin berjalan meninggalkannya kembali.

“ Apa kamu tahu siapa wanita yang aku sukai selama ini ?”

Pertanyaan Ryu kali ini membuatku benar-benar berjalan meninggalkannya. Aku membatalkan niatku. Karena Ryu telah memberitahukan padaku semuanya. Dia menyukai Megu. Aku memilih mengubur perasaanku selama ini. Tapi tiba-tiba Ryu berbicara pelan, aku masih bisa mendengar apa yang dia katakan, masih sangat jelas, dan itu membuat langkahku terhenti.

“ Setiap pagi.. aku mengirimkan pesan pada Megu.. untuk bertanya.. hal apa yang hari ini akan aku bicarakan denganmu... karena aku takut.. kamu akan bosan padaku jika aku berbicara tentang hal yang aneh... aku sering mengajaknya duduk di taman sekolah... agar... jika suatu saat kita tidak sengaja bertemu disana aku tidak perlu merasa gugup lagi... aku tidak pernah berjalan sejajar denganmu... karena aku tidak ingin wajahku yang gugup akan terlihat olehmu... ? aku juga tersenyum malu ketika bertemu dia, karena dia tahu apa yang akau rasakan padamu.. dan... setiap hari.. aku tidak pernah menyentuh tanganmu.. melainkan hanya lengan bajumu.. karena.. aku.. aku takut kamu akan merasakan kalau tanganku gemetar setiap kali berada di dekatmu.. aku menunggumu di depan rumah.. karena aku ingin mengatakan apa yang aku rasakan.. tapi aku selalu meninggalkan nyaliku di tempat lain.... karena kamu terlihat tidak menyukaiku..”

Ryu berhenti bicara, dan aku membalikkan badanku. Aku tersenyum. Ini seperti mimpi. Orang yang selama ini ku kagumi, ternyata dia juga mengagumiku. Aku ingin mengatakan bahwa aku juga menyukainya, tapi lagi-lagi Ryu mengambil kesempatanku. Dia kembali melanjutkan kata-katanya.

“ Aku menyukaimu... Mika... bukan karena kita mempunyai hobby yang sama... aku tidak mempermasalahkan apa saja yang kamu suka.. dan apa saja yang tidak... aku hanya tahu.. aku menyukaimu... sejak.. sejak kamu... sejak pertama kali kamu tersenyum kepadaku.. karena aku menggunakan seragam yang salah waktu itu... di kelas pertama kita di sekolah menengah pertama...”

Aku kembali ingin mengatakan apa yang aku rasakan pada Ryu, perasaanku kali ini sungguh menggebu-gebu. Sulit sekali untuk di tahan. Tapi lagi-lagi Ryu melanjutkan kata-katanya.

“ Sejak saat itu... aku menyukaimu Mika... senyumanmu... membuat duniaku menjadi lebih baik..

“ Ryu.... aku....” belum selesai aku bicara, Ryu kembali melanjutkan kata-katanya.

Kali ini Ryu mengucapkannya dengan tersenyum. Dan dia berjalan mendekatiku, tetap dengan senyumannya yang selalu membuatku mengaguminya.

“ Aku menyukaimu Mika.. aku sungguh menyukaimu..”

Sesaat, aku terdiam. Aku berusaha menyusan kalimat yang indah untuk dia dengar. Tapi itu justru membuatku menderita penyakit alzemir. Aku tersenyum menatap Ryu. Dia sungguh-sungguh membuatku mengaguminya.

“ Aku.. juga menyukaimu Ryu...” aku kembali tersenyum menatap Ryu.

          Kali ini aku benar-benar membatalkan niatku untuk mengatakan apa yang aku rasakan padanya. Bahkan lebih dari yang dia rasakan padaku selama ini. Aku memilih menyimpannya. Membiarkan dia tidak mengetahui bahwa kau juga sangat menyukainya, sejak pertama kali bertemu dengannya. Aku tiba di rumah dengan hati yang berbunga-bunga. Setibanya di kamar, aku menemukan fotoku terjatuh di lantai dalam keadaan terbalik karena tertiup angin yang berasal dari jendela kamarku. Aku mengambilnya, dan.... ternyata di belakang foto itu selama ini ada sebuah tulisan ( Aku menyukaimu Mika... 02-09-2009) Ryu menuliskan kata-kata itu tepat di saat dia mengambilkan gambar untukku. dan aku baru melihatnya sekarang. Perlahan aku berjalan menuju meja belajarku, aku mengambil salah satu pensilku, sambil tersenyum aku menuliskan sesuatu pada foto itu, ( Aku juga menyukaimu.. Ryu... 02-09-1999).

- End -

Note : Bukan ahli dalam membuat ataupun mengarang cerita. Dan mohon ma’af apabila ada kesalahan dalam penulisan yang mengurangi kenyamanan dalam membaca cerita ini. Jadi harap di maklumi, dan silahkan meninggalkan komentar yang membangun bagi sang penulis, agar dapat memperbaiki setiap kesalahan dan menerapkannya di cerita yang lainnya.

        

                                                                             Yulinda Isnaniah

                                                                                      (Yu_I)

Thursday, May 2, 2013

[Oneshot] Back In Peace



TITLE : Back In Peace
PAIRING: RyoMi’s Couple
CAST :
1.   Yamada Ryosuke as Ryo
2.   Author as Mia (OC)

GENRE : Hurt and Comfort, Fluff
RATING : PG-13
LENGTH : Oneshot
LANGUAGE : Indonesia
AUTHOR : Amaisora Lucifa

-TWITTER : @pramutya
-FB : http://www.facebook.com/amaisora
-SITE : http://milkylatte.tumblr.com
-ICHIBAN : Yamada Ryosuke

REASON OF JOINING THE PROJECT : I want to take revenge because I can’t join the project last year! Yatta!! I want to give birthday present for my lovely ichiban, Yamada Ryosuke through this fanfiction and make many people enjoy reading my fanfiction also fall for HEYSAYJUMP. But don’t fall for Yamada Ryosuke, he is mine :P

DICLAIMER : This is one of my big dream ever!

SUMMARY: Perbedaan itu jelas ada dan telah menjadi momok juga jurang nyata dalam hubungan mereka. Salah satu dari mereka harus mengalah agar mereka berdua bisa bahagia. Tapi mengalah? Yang benar saja!

A/N: This story will not ending yet honey readers~ enjoy and RCL~



= Back In Peace =
        

Musim Semi 2013

Kyoto

         

           Bunga sakura mulai bermekaran, menandakan bergantinya musim dingin menjadi musim semi. Angin berhembus pelan, sepoi-sepoi menerbangkan helaian anak-anak rambut pengunjung taman itu. Tak terlalu ramai mengingat senja mulai beranjak menenggelamkan sang matahari berpulang ke peraduannya. Menyisakan beberapa orang termasuk dua insan yang duduk bersisihan di atas bangku taman itu.


          “Bagaimana kau tahu aku di Kyoto?”tanya gadis berambut pastel itu sembari memandangi lelaki yang tak ia sangka akan dijumpainya lagi di taman ini. Lelaki itu menemuinya tanpa pemberitahuan setelah perpisahan mereka yang sekian lama. Tak ayal ini mengejutkannya.


          “Apa yang tak aku tahu tentangmu? You knew, I am your stalker.”jawab lelaki itu setengah bercanda. Tak ada tawa yang muncul dari gadis itu, hanya senyum tipis yang cenderung sinis.


           Suasana tegang itu membiarkan hening menggenang di permukaan. Hanya terdengar bisik desau angin yang lebih kencang bertiup. Hingga pada akhirnya menciptakan suara gesekan ranting pohon sakura yang mulai bermekaran. Mereka terdiam, terjebak pada pikiran mereka masing-masing.


          “Kenapa kau menemuiku, Yo?”tanya gadis itu lagi guna memecah kesunyian yang mulai terasa menyesakkan. Sepasang onyx matanya memandangi pohon-pohon sakura di seberang danau. Mencoba menguatkan dirinya sendiri.


          “Aku merindukanmu. Merindukan kita.”tukas Ryo singkat, cepat dan lugas. Ada deru dalam tiap hembusan napasnya.


          “Merindukanku? Kita? Bukankah kau memiliki orang lain yang lebih pantas untuk kau rindukan?”seloroh gadis itu dengan nada kesal setengah menyindir, jelas tak dapat mengendalikan geram yang ia rasakan. Gadis itu melirik Ryo dari ujung mata bulan sabitnya, membuat tatapan mereka bertumbukan.


          “Tidak ada orang lain sejak perpisahan kita.”ujar Ryo tenang. Ada lega yang ia rasakan begitu melihat respon gadis di sampingnya.


          “Sudahlah. Hubungan kita telah berakhir lama. Semenjak pertengkaran itu, kita tak lagi menjalin ikatan. Tidak setelah aku menolak lamaranmu saat itu.”


          “Mia, itu keputusanmu. Keputusan sepihak yang kau voniskan pada kita. Tapi bagiku kita masih bersama meski sekian lama berjauhan dan bahkan tanpa komunikasi sama sekali. Aku diam untuk memberi waktu pada kita.”kata Ryo lagi. Ia memiringkan posisi duduknya memberi kesempatan pada mata cokelatnya untuk memandangi gadis di hadapannya. Gadis yang telah lama memenuhi ruang hati dan pikirannya meski mereka terpaksa berjauhan untuk beberapa lama karena perpisahan dan perbedaan yang mereka miliki. 


          “Maafkan aku, tapi kita tak bisa kembali seperti dulu lagi. Setelah sekian lama, ada banyak hal yang berubah. Kau, aku dan kita sudah tak sama lagi. Tak ada gunanya. Dan aku tak ingin menyakitimu untuk kedua kalinya.” Nada bicara Mia berubah sendu. Kedua bola mata indahnya menghindari tatapan Ryo yang sedari tadi terus memerhatikan dirinya.


          “Justru ini menyakitiku. Juga menyakiti dirimu bukan? Berhentilah. Jangan menabur garam pada luka yang telah ada.”


          “Kau yang berhenti! Aku sudah memiliki yang lain begitu pun dirimu, kau akan segera menemukan yang lain. Kita tak ditakdirkan bersama.”balas gadis itu menanggapi ucapan Ryo. Pandangannya masih menghindari lelaki itu. Ia berusaha menahan dirinya sendiri. Mencoba menenangkan hatinya yang terasa semakin sesak dan hampir saja meledak.


         “Kalau begitu yakinkan aku bahwa aku salah, agar aku berhenti di sini. Mia, lihat aku. Pandang mataku dan katakan bahwa kau tak lagi mencintaiku!”pinta Ryo.


          Mia melihat Ryo sejenak dari sudut matanya lalu mengalihkan pandangannya. Setelah beberapa saat, Mia dengan ragu menatap tepat pada sepasang bolah mutiara bening milik Ryo. Samar ia menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan.


          “Aku tak lagi mencintaimu”katanya tak kalah perlahan hampir tak terdengar karena terbawa hembus angin. Napasnya kemudian terasa semakin memburu, mendesak-desak bersama airmata yang ia bendung.


          Ryo yang mendengar ucapan Mia justru tersenyum lebar dan menarik raga mungil gadis itu ke dalam rengkuhannya.


          “Bodoh! Kau tahu kan sejak dulu kau tak pandai berbohong. Kau tak pernah bisa membohongiku, Mia. Kenapa kau bersikukuh? Berhentilah, ku mohon. Aku juga mencintaimu. Masih sangat mencintaimu. Kembalilah padaku, pada kita yang dulu. Aku tahu kau juga tak pernah memiliki yang lain  sejak pertengkaran hebat kita saat itu. Jangan membohongi dirimu sendiri. Sudah cukup!”racau Ryo menumpahkan isi hatinya.


          Mia sejenak tertegun dengan tindakan Ryo. Ia tak membalas pelukan maupun ucapan Ryo. Airmata yang susah payah ia bendung, keluar bergitu saja tanpa dapat ia tahan lagi. Isakan pelan keluar dari celah bibirnya. Namun suara lirih itu kemudian terdengar oleh telinga Ryo. Lelaki itu mengeratkan dekapannya. Tangan lebar dengan jari jemari lentik miliknya, menepuk-nepuk punggung Mia pelan, mencoba menenangkan gadis itu. Diciuminya puncak kepala Mia, menghirup aroma shampo Mia yang tercium lebih memabukkan -atau ini karena efek perpisahan lama mereka? Namun, bukannya mereda. Isakan pelan itu justru berubah menjadi tangis.


          Ryo membiarkan Mia meluapkan segala perasaan yang selama ini berkecamuk dalam diri gadis itu –rasa yang juga ia miliki. Lama, Mia masih menenggelamkan wajah dan telapak tangannya dalam dada bidang Ryo.

Kedua lengan Ryo terus melingkari tubuh Mia, semakin mempersempit jarak di antara mereka –yang sudah jelas tak ada lagi. Tapi Mia justru melepaskan pelukan Ryo. Ia mendorong tubuh Ryo menjauh dengan wajah tertunduk, berusaha menyeka sisa-sisa airmatanya. Ia benci terlihat lemah, apalagi di hadapan Ryo.


           Tiba-tiba Ryo berlutut, tangannya membuka kotak kecil berlapis kain beludru merah yang barusaja ia keluarkan dari dalam sakunya. Perlahan ia meraih tangan Mia, memasangkan cincin itu di jari manis Mia lalu mengecup punggung tangan gadis manis itu dalam, lama. Mengulangi lamarannya yang terdahulu.


          “Mia, would you marry me?”


           Mia menatap Ryo ragu. Tanpa ia sadari kepalanya telah mengangguk begitu saja. Ryo yang melihat gerakan samaritu segera bangkit dan kembali merengkuh gadis itu ke dalam dekapan hangatnya. Memeluk Mia sekali lagi –lebih erat.


          Raut bahagia jelas terpancar dari wajah Ryo yang berseri-seri. Tapi euforia itu hanya sekejap. Api girang yang tersulut segera padam. Perkataan Mia kembali membuatnya lemas, “Ya, aku akan menikah denganmu setelah kau mengikuti keyakinanku.”


          Ryo menatap Mia lekat. Senyum telah musnah dari wajahnya. Desah kesal terhembus keluar dari celah kedua bibirnya. Hembusan napas cepat yang terdengar sedikit kasar, penuh kegusaran. Sejenak ia menutup mata, berharap apa yang ia dengar tadi bukanlah sebuah kenyataan. Dan tanpa membuka  matanya, Ryo berkata, “Meski aku telah menduganya. Tapi aku tetap tak menyangka kau akan mengatakan kalimat itu lagi.”


          Ryo terdiam sejenak. Membuka matanya untuk melihat gadis itu dari jarak yang lebih dekat, sebelum ia melanjutkan perkataannya yang belum usai, “Dengarkan aku, kenapa kita tak bisa menikah meski berbeda keyakinan? Maksudku, bukankah Pemerintah Jepang memperbolehkannya? Tak ada larangan menikah berbeda keyakinan di negara ini. Jadi seharusnya tak masalah bukan jika kita menikah di sini?”


          Mia hanya menggelengkan kepalanya. Ia menarik tangan Ryo untuk kembali duduk di sampingnya. Tapi Ryo tak bergeming, dengan halus melepas genggaman Mia di tangannya. Sorot kesal jelas terpancar dari matanya yang berkilat-kilat.


          “Mia, jawab aku. Jelaskan padaku agar aku mengerti. Kenapa? Jika orang lain bisa, kenapa kita tidak? Lihatlah pasangan berbeda keyakinan di luar sana. Mereka menikah, membangun rumah tangga meski dengan banyak perbedaan yang mereka miliki. Mereka bahagia menjalaninya. Bukankah kita dulu juga begitu? Perbedaan itu tak mencegah kita merasakan bahagia. Kita sama-sama nyaman dengan apa yang kita jalani berdua bukan? Menikah hanya satu jenjang lebih tinggi dan lebih serius daripada yang telah kita jalani selama ini. Jika selama ini kita baik-baik saja. Kenapa kita takut menjalani yang selanjutnya. Kau punya aku, kita saling memiliki. Kau tak menghadapinya sendirian. Apa kau tak lelah dengan siklus putus-nyambung kita? Lihatlah, kita tak bisa hidup sendiri-sendiri. Kita saling membutuhkan dan sudah seharusnya bersanding. Alasan apalagi yang akan kau utarakan?”


            Ryo mengatakan semua itu cepat. Apa yang ia pendam keluar begitu saja seolah terucap dalam satu tarikan napas. Dadanya naik turun, terengah-engah. Mia kembali mengenggam tangan Ryo. Mengisi celah di antara jari mereka. Dengan lembut Mia menarik Ryo untuk duduk. Mata mereka terus bersitatap, saling berbicara tanpa suara.


            “Ini masalah prinsip, Yo. Jika keyakinan kita saja berbeda, bagaimana mungkin kita bisa menyatukan perbedaan-perbedaan lain yang kita miliki? Kita sama-sama tahu, kita teramat berbeda –dalam berbagai hal. Kau tak ingat pertengkaran kita yang acap kali timbul tenggelam selama kita menjalin hubungan? Yah, meski kita kerap menganggapnya lelucon semata, menertawakan semua perbedaan yang ada. Menganggapnya angin lalu. Tapi pernikahan itu berbeda, Yo. Aku ingin pernikahanku menjadi yang pertama dan terakhir, hingga maut memisahkan. Dan dalam keyakinan yang aku anut, diajarkan tentang kehidupan setelah kematian. Aku ingin apa yang aku jalani tak hanya untuk kesenangan duniaku saja. Dunia fana yang sesaat.”seru Mia lembut. Ia berusaha menjelaskan pada Ryo agar lelaki itu mengerti dan pertengkaran mereka dapat dihindari.


              “Kau sudah mengatakan hal itu dulu. Tapi lihatlah kenyataannya! Kau tersiksa juga dengan perpisahan kita bukan? Tak bisakah kau mengerti? Mengerti hatimu sendiri, dengarkan kata hatimu. Bukankah kau nyaman saat bersamaku? Kau mencintaiku begitupun aku mencintaimu. Tidakkah cinta saja cukup? Apa keyakinan yang sama akan menjamin kebahagiaanmu?”gerutu Ryo. Ia meremas lembut tangan Mia yang berada di genggamannya.


               Mia sekali lagi menggelengkan kepalanya. Ia tak tahu lagi bagaimana caranya untuk membuat Ryo mengerti. Pikirannya sudah buntu, tak ada lagi kata-kata yang bisa ia ucapkan untuk menjelaskan hal ini pada Ryo tanpa membuat mereka terpancing emosi masing-masing. Airmatanya kembali menetes. Rasa sakit dalam hatinya kian terasa semakin perih setelah mendengar rentetan kata-kata yang keluar dari bibir Ryo. Mia menenggelamkan wajahnya ke dalam telapak tangannya yang menangkup seperti sedang berdoa.
        

               “Kau tak paham Ryo. Meski aku bukan yang terbaik dalam urusan keyakinanku tapi aku tahu apa yang seharusnya aku lakukan dan tidak aku lakukan –sesuai dengan ajaran keyakinan yang aku anut.” kata Mia masih menutupi wajahnya yang tertunduk.


               “Ya, kau memang bukan yang terbaik. Tapi tetap, kau yang terbaik bagiku. Kau pendamping hidup terbaik untukku...”tutur Ryo lembut. Bibirnya menyunggingkan senyum simpul.


               “CUKUP!!” potong Mia. Ia menatap Ryo lekat dengan mata memerahnya –karena airmata yang sedari tadi terus menerus keluar. Mia berusaha mencari dusta dalam kedua onyx Ryo tapi nihil, ia hanya menemukan ketulusan di sana. Sikap Ryo melunak setelah keterkejutannya mendengar seruan Mia keras yang lebih mirip bentakan –teriakan lebih tepatnya. Ryo tahu jika mereka meneruskan ini, pertengkaran hebat mereka dulu akan terulang dan mungkin akan membuat hubungan mereka semakin merenggang. Ia tak ingin itu terjadi lagi. Sudah terlalu lama mereka berjauhan demi memberi waktu untuk memikirkan semuanya kembali.


               “Apa ini karena orang tuamu?”tukas Ryo pelan. Suaranya sarat kegelisahan dan kekhawatiran yang tiba-tiba menyerbu pikirannya. Memenuhinya dengan berbagai prasangka dan ketakutan berlebihan.


                Mia menggelengkan kepalanya cepat lalu menjawab, “Tidak. Ini murni karena segala perbedaan kita.”


               “Lalu kenapa tak kau saja yang menganut keyakinanku? Yang penting kita memiliki keyakinan yang sama bukan?”


                Hampir saja Mia melayangkan tamparan keras ke pipi Ryo. Tapi ia dengan cepat menguasai emosinya –amarah yang terakumulasi dari berbagai rasa yang berkecamuk dalam dadanya. Ia menarik napas pelan, dalam, lalu menghembuskannya lebih perlahan. Senyum sinis lagi-lagi melengkung di bibir tipisnya.


               “Jika aku pindah keyakinan, Tuhanku saja bisa aku khianati apalagi dirimu?”


                Mendengar ucapan Mia, derai tawa keras justru pecah –tawa yang terdengar sumbang. Kini lengkung senyum sinis itu ter-copy, senyum itu membusur sempurna dan menjadi lebih miring di bibir Ryo.


               Dengan tenang ia membalas perkataan Mia, “Itu kata-kataku! Kau tak seharusnya membalikkan ucapanku dan menggunakannya sebagai senjata untuk melawanku!”protes Ryo masih dengan sisa sisa tawanya tadi.


               “Huh, itu memang kebenarannya bukan? Pada kenyataannya kita sama-sama tak mungkin mengkhianati Tuhan kita masing-masing.” seloroh Mia kemudian. Setelah ikut menghela tawa sumbang, senyum sinis kembali menghiasi bibir tipisnya. Ia tak lagi memandangi Ryo. Ia justru melempar tatapan kosong ke seberang danau yang dihiasi  pohon-pohon sakura. Meski tetap saja ia tak bisa menikmati keindahan yang disuguhkan kuncup-kuncup sakura yang mulai bermekaran di pohon-pohon itu.


               “Kenapa tidak?”seru Ryo singkat dengan nada yang terdengar bercanda. Nada suaranya sama seperti saat dulu mereka biasa membahas ini lalu menertawakannya begitu saja.


                Perkataan Ryo itu membuat Mia menghela napasnya lagi –lebih keras. Untuk sejenak, Mia sempat tersentak karena rasa sakit yang tiba-tiba menderanya seperti ada tangan yang menamparnya keras.


                Napasnya tersenggal karena sesak kembali menghinggapi ruang hatinya. Dadanya terasa perih bagai terhujam jarum. Hingga oksigen seakan tersendat, kesulitan untuk ia hirup maupun ia hembuskan keluar.


                Ryo membuka dompetnya tanpa sepengetahuan Mia. Ia kemudian menunjukkan sebuah kartu tepat di hadapan Mia yang segera saja membuat Mia membulatkan mata sipitnya dengan sia-sia. Cepat tangan Mia mengambil kartu itu dan membawanya semakin dekat agar bisa membaca kata-kata yang tertera disana secara lebih jelas. Berulang kali Mia mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya.


                Ryo yang melihat ekspresi Mia itu justru tertawa. Kejutannya berhasil. Ia menarik Mia kembali ke dalam kenyataan dengan ucapannya setelah membiarkan gadis itu terdiam lama. “Jadi, kapan kita akan menikah?”tanya Ryo dengan senyum lebar mengembang. “Hei! Kenapa kau malah menangis lagi? Bukankah kau seharusnya senang membaca itu?”lanjutnya kaget melihat airmata tiba-tiba mengalir di kedua pipi tembam Mia.


                “Bagaimana kau bisa melakukan ini padaku?!”teriak Mia keras sembari memukul-mukul Ryo hingga membuat lelaki itu meringis dalam tawanya yang berderai tak berkesudahan. Beberapa saat setelah aksi pukul itu, Ryo menggenggam kedua tangan Mia erat. Mereka saling berpandangan. Senyum bahagia tercetak jelas membingkai wajah mereka.


                “Jadi kau akan mengkhianatiku juga suatu hari nanti huh?”


                Tanpa kata, Ryo memeluk Mia erat sebagai ganti jawab pertanyaan itu. Ryo mengangkat tubuh Mia dan memutar-mutar raga kecil dalam pelukannya itu. Mereka berputar-putar sembari saling mendekap lekat.


                “Never.” kata Ryo kemudian setelah putaran mereka berhenti. Ia mengecup kening Mia singkat sebelum akhirnya menempelkan bibir mereka dengan background tenggelamnya matahari di balik Gunung Fuji yang terlihat sangat indah dari taman ini –mungkin karena ikut andilnya pantulan matahari dari permukaan danau yang menangkap cahaya senja.



= Back In Peace =



WRITER DESIRE : Hows? Wanna read squel? Hmm,... help me to make it come true... I know I am crazy and indisputable badgirl,  but yeah just enjoy ^^ thanks for RCL and read my other story :3


Happy birthday my one and only Ichigo prince. Your; smile, face, voice –your presence is my force. Thank you for coming to my world. I love you...





[Oneshot] My Orgel




Title          : My Orgel
Pairing       : YamaChii/NakaChii (keep calm, Imade them hetero)
Cast          : Ryosuke Yamada as himself
                   Yuto Nakajima as himself
Cross Gende : (Yuri Chinen be a female, okay to make it hetero-)
Genre          : Angst/Tragedy
Rating         : G (M for the words and mental intent)
Length        : Oneshot
Language    : Indonesia
Author          : Anis Ki
- FB Link       : https://www.facebook.com/anis.keybum
- Ichiban       : CHII! (yuyu-yayang )\\(>,<)//
- Reason join this project: bcs, it’s for the B’daaayyyyyy for the special boy~

Disclaimer      : I own world____nah! I’m not own the song and the boys (excp CHII. He is in my pocket)

Summary      : when you’re too nice for your best friend, but too in love to your loved one. But you still want both. you just can make your own melody box.

A/N              : this song from SHINee’s new mini album, stuck in my head~
and somehow, sometime Yama-chan can give me those cold creepy smile, ya know~







//If it’s not cramped locked in the small box
//If this world crashing with waves isn’t dizzying
//I hold your snow-white shoulders, I wind up the spring

Langit yang keunguan menyembunyikan cahaya lembayung yang seperti enggan pergi dibalik batas riak air danau kecil yang kehijauan. Angin hangat musim panas tidak menghangatkan hati Yuto yang hampir lima tahun ini sudah mendingin.

Seorang laki-laki kurus duduk di bangku taman coklat dengan pandangan yang entah kemana. Danau yang indah dengan pantulan langit senja, sama sekali tidak menarik perhatian mata dan pikiran nya. Rambut hitam nya yang lurus berkilau menyembunyikan scane-scane yang berceceran berputar putar di kepala nya. Tangan kurus nya menggenggam secarik kertas kusut dengan lemah.

Nakajima Yuto. Bintang muda dengan asa tak terbatas. Dengan kemampuan dan mimpi yang menyelimuti nya. Idol star yang nama nya tak pernah absent dari pembicaraan seantero tanah yang dipijak nya. Dia adalah Rising Star sampai musim panas lima tahun lalu. Sebelum titik waktu yang menjatuhkan nya dari tempat bintang yang tinggi. Kecelakaan yang mengambil suara dari setiap kata-katanya. Mengambil hangat dari hati nya. Akhir yang cukup ironic untuk karir secemerlang milik nya. Ketika sekarang hanya ada dia dan pikiran nya dalam tubuh yang kosong di tempat yang orang bilang ‘rumah terapi jiwa’. Kehilangan gadis yang dicintainya cukup untuk membuat mentalnya rusak.

Sebuah tangan familiar menepuk bahu kurus Yuto. Tanpa menoleh pun, Yuto tau siapa pemilik tangan kuning langsat di pundak nya. Selama lima tahun ini, hanya tangan ini yang masih menyentuhnya. Peduli. Tangan itu milik Yamada Ryosuke. Seorang Idol star, dokter, sahabat, teman kerja, dan … kekasih dari gadis yang dicintai nya. Gadis yang menghilang bersama dengan hangat dihati Yuto. Kehadiran sosok yang sekarang duduk di sebelahnya, membuat pecahan-pecahan scene dalam otak Yuto berputar lebih cepat, seperti kilasan-kilasan potongan film.

“Yuri –“

Mata Yuto membesar. Genggeman tangannya berubah menjadi cengkraman. Membuat kertas yang sudah lusuh di tangannya semakin kusut. Nafasnya mulai tak teratur. Yuto seperti ditarik mundur waktu. Dia bisa merasakan kembali rasa kaget ketika dia melihat kembali sosok putih mungil cantik yang sudah lama coba dilupakan nya. Yuri. Dia kembali merasakan rasa jengkel ketika Ryosuke merangkul sosok cantik yang dirindukannya itu. Amarah kembali menyentuhnya ketika scene dia melihat, mendengar Yuri terseyum malu ketika diperkenalkan Ryosuke sebagai kekasih nya. Hati nya kembali perih ketika terdengar kembali suara Yuri yang menolak kembali pada nya.

Hanya orang-orang terdekat mereka yang akan menganggap pemandangan ini aneh. Itu akan terlihat aneh, ketika seorang kekasih dan seorang selingkuhan dari seorang gadis yang sama, duduk berdampingan dengan akrabnya. Ya, hanya beberapa orang yang tau. Bahwa Yuto bersama kekasih Ryosuke ketika kecelakaan yang mengambil suara nya itu terjadi. Hanya beberapa orang yang tau. Bahwa Ryosuke membiarkan kekasih nya berkhianat dibelakang nya bersama Yuto. Hanya beberapa orang yang tau sosok gadis yang membuat kekacauan di mental Yuto, menghilang. Lenyap.

“itu sudah diputuskan dua jam lalu. Yuri-san dinyatakan meninggal.” Suara Ryosuke sedatar ekspresi nya yang memandang kilau air danau.

Seorang perawat, dengan sigap menghampiri Yuto yang mulai menangis meremas kepala nya sendiri. Seperti ingin menarik keluar semua memori yang berputar dikepala nya.

“Nakajima san! Ayo! Ayo kita kedalam! Nakajima san! “ dengan panik perawat berambut pendek itu merangkul Yuto dan membawa nya masuk ke gedung putih rumah sakit jiwa yang hanya berjarak 17 meter dari tempat mereka.

Kertas kecoklatan dengan garis-garis lipatan kusut, terbang ditiup angin musim panas, sebelum mendarat di sudut danau. Air danau mulai membuyarkan goresan-goresan tinta tua yang tertulis di atas kertas itu :

Yuto-kun, ternyata cinta yang kita paksakan, membohongi nya, melukai dia _ melihat nya menahan sakit, membuat aku merasa lebih sakit. Ternyata cinta kita yang dulu terasa berbeda. Ryosuke memeluk aku ketika kau meninggalkan aku. Ku rasa, kita tak bisa memaksakan cinta ini. Dia adalah hidupku sekarang.

                                                                                                                                Maaf,

                                                                                                                               Yuri

//Spinning and spinninng it turns, this song for me
//Spinning and spinning it’s so slow, melodybox just for me
//Spinning and spinning how dizzying
//My orgel





//Run from, so that only I can see your pretty face
//I stiffen my legs and I hate myself
//It gets foggy, the memories fade, an angel whispers Oh

Suara serangga musim panas seperti mengiringi irama langkah Ryosuke yang ringan. Senyum kecil terpasang di wajah mulus nya seakan mengikuti arah angin yang meraba pipi nya. Dengan jaket kulit hitam tergantung di lengan kiri nya, berkilau sangat kontras dengan jas dokter putih yang bertumpuk di atasnya. Ryosuke membuka santai pintu kayu coklat rumah kecil nya. Bau matahari masih menempel di kemeja hitam nya meski bulan malam yang menemani nya pulang. Senyum Ryosuke semakin santai, melonggarkan kancing kemeja nya dan berjalan santai melewati lorong kayu rumah nya, dia membuka pintu putih di ujung lorong. Bau bunga dan rempah pengawet langsung tercium di ruangan itu, membuat kamar dingin itu tersa hangat.

“aku pulang…” kata Ryosuke sambil tersenyum lembut. Meski tak ada sahutan selamat datang yang menyambutnya.

Ryosuke berjalan mendekati ranjang putih besar, senyum hangat tergambar di wajah nya, mata nya tidak terlepas dari sosok yang tertidur tenang di  tengah ranjang besar itu.

Seseorang memakai gaun putih dengan wajah pucat terbaring di tengah ranjang besar itu, badan nya tertutupi selimut putih lembut hingga dada nya, jari-jari pucat nya yang kurus, berjejer rapih di samping tubuh nya.

Ryosuke duduk di pinggir ranjang, dia memegang tangan putih sosok yang berbaring di samping nya.“Yuri–, sekarang, semua orang telah menganggap mu mati! Tidak ada yang mencari mu lagi-”.

“kau tidak akan meninggalkan aku lagi __ “ kata Ryosuke mendekati wajah tertidur Yuri “Yuri-ku “

Ryosuke menyentuh lembut kening Yuri, jari-jari nya turun menyentuh kulit Yuri, mengikuti setiap lekuk wajah Yuri, kelopak mata nya yang tertutup, hidung nya yang mancung, bibirnya yang indah, leher putih nya yang panjang terlihat sangat pucat dengan pita gaun putih yang di pakai nya, tangan Ryosuke berhenti ketika mencapai dada Yuri, ekpresi terpesona Ryosuke berubah menjadi ekspresi bingung.

//There’s only us two in the world, dance only for me
//You’re happy? since you’re always smiling?

Tangan Ryosuke di atas dada Yuri untuk waktu yang agak lama, pandangan nya kosong, sebelum dia kembali tersenyum “Yuri-chan, di setiap debaran jantung ku, selalu ada kau” katanya.

Ryosuke meletakkan kepala nya manja di atas dada Yuri, sambil tersenyum.

“jika tidak ada aku di setiap debaran jantung mu, — itu tidak apa-apa jika jantung mu tidak berdetak-“

“tidak apa-apa jika jantung mu tidak berdetak, asalkan jangan tinggalkan aku…” Ryosuke tersenyum.

“kau milik ku ……… Yuri chinen!”

//Twinkle Twinkle The tears on your eyes make me smile
//Glance glance I hate when other people look at you, smile for me
//With a sigh I drift farther, I’ve entered into a forest that I can’t escape
//I don’t care if I sink here and die in this unknown place so come to me…please…

——————————-

W/D: okay, sebenernya cerita ini daku pernah nge post di ‘dunia’ daku yang lain. tapi tokoh sama sebagian plot nya beda…terus muncul deh lagu baru ini. dan daku pikir, cocok sama senyum ‘sesuatu’ Yama-chan. Hope he’ll get his dream b’day this year \(>,<)/