NOTE: Reader, before you browsing to reading please make sure you read fanfiction in here according to your age. If you not yet 17 yo, we suggest you to read fanfiction with rating G, PG-13, PG-15. Rating NC-17 and NC-21 just for addult. Please follow this rule shake your self!
Showing posts with label # Language: Indonesian. Show all posts
Showing posts with label # Language: Indonesian. Show all posts

Saturday, May 4, 2013

[Oneshot] Aku Juga Menyukaimu


Title                      : Aku Juga Menyukaimu
Author                 : Yu_I (Yuyuu)
Link of Author     : https://twitter.com/YulindaIsnania
                             https://www.facebook.com/yuyulupylupyaya

Rating                  : PG-16
Genre                   : Romance
Lenght                  : Oneshot
Cast                      : Auriza Mika (Imaginary name) as female lead
            Yamada Ryosuke (Hey! Say! JUMP) as Nakata Ryu
             Hayate Megu (Imaginary name) as Nakata Ryu and Auriza       -Mika Friend. 

Summary             : Aku berpikir kalau Ryu menyukai Megu. Itu artinya aku tidak dalam keadaan koma lagi, melainkan mati. aku tidak ingin bersaing untuk mendapatkan Ryu, dan aku juga tidak ingin Ryu memilih antara aku dan Megu, karena aku bukan pilihan. Lebih baik aku tetap menyimpan perasaanku hingga tiba saatnya nanti, entah kapan.      
             

********************************************

****************************************************

Aku Mika, Auriza Mika. Seorang siswi kelas X di sekolah swasta di jepang, tepatnya di Kanagawa. Aku sudah lama sekali dalam keadaan koma karena menyukai teman sekelasku, namanya Ryu, Nakata Ryu. ku sebut koma karena aku memang terlihat seperti sedang koma, tidak hidup, dan juga tidak mati. Aku menyukainya bukan hanya karena dia tampan dan pintar, tapi karena aku menyukai senyumnya. Aku akan ikut tersenyum ketika dia tersenyum, seperti ada magnet yang menariku untuk tersenyum pula. Dan itu tidak ku temukan pada senyuman teman-temanku yang lain. Senyuman Ryu sungguh berbeda.

Aku sudah sangat lama menyukainya, sejak aku bertemu dengannya 12 tahun yang lalu, tapatnya ketika aku dan dia berada di satu taman kanak-kanak yang sama. Sejak saat itu aku mulai menyukainya, dan sejak itu pula aku selalu mengikuti semua kegiatan yang di ikuti oleh Ryu. Aku ikut karate, olahraga basket, renang, apapun yang dia suka, aku mati-matian pula untuk menyukainya, seperti berusaha untuk menyukai pelajaran Matematika dan Sejarah. Aku ingin, jika suatu saat dia berbicara kepadaku mengenai apapun, aku akan bisa mengikuti pembicaraannya, aku juga tidak ingin jika suatu saat akan membuatnya bosan karena ketidak tahuanku tentang apapun, dan setidaknya dia tahu kalau kami mempunyai hobby yang sama. Aku tidak tahu apakah itu akan berhasil untuk menarik perhatianya. Dulu aku pikir itu hanya perasaan anak kecil saja, tapi sepertinya jelas bukan, karena perasaan itu kini tumbuh semakin besar, hingga sekarang. Aku selalu memperhatikannya, aku juga mengetahui semua tentangnya. Aku benar-benar terobsesi untuk memilikinya. Tapi aku tidak punya keberanian yang cukup untuk mengakuinya. Untuk mengatakan kalau aku menyukainya. Sungguh menyukainya.

Aku sedang dalam perjalanan menuju sekolahku, aku selalu berjalan kaki. Kebanyakan siswa maupun siswsi di jepang berjalan kaki. Tiba-tiba terdengar suara seseorang menyapaku, aku pun berbalik untuk menyapa kembali. Ternyata Ryu, dia menyapaku pagi ini.

“ Selamat pagi Mika..” Ryu menyapaku dengan senyumannya pula.

“ Selamat pagi.... Ryu...” belum selesai lagi aku menyapanya, dia berlari meninggalkanku.

Sesampainya di ruang kelas, aku kembali menatap Ryu. berharap dia akan menyapaku kembali, entah karena alasan apapun. Tapi sampai pelajaran terakhir pun tidak ada tanda-tanda kalau dia akan menyapaku kembali. Dia tetap seperti biasa, berkumpul ketika istirahat  dengan teman-temannya dan dengan beberapa siswi lain yang memang suka mengikuti kemanapun dia pergi, seperti penguntit. Pelajaran hari ini berakhir, aku memasukan buku-buku ku ke dalam tas dan mulai berjalan meninggalkan kelasku dan kini aku sudah berjalan keluar dari pagar sekolah hingga akhirnya aku menghentikan langkahku karena aku mendengar  teriakan seseorang yang memanggil namaku dari kejauhan.

“ Um, Ryu....” ucapku pelan, dan hampir tidak terdengar.

“ Kenapa kamu tidak menungguku ?” nafasnya tersengal-sengal karena berlari cukup jauh.

“ Eh......” sahutku sambil sedikit memiringkan kepalaku ke arah kiri.

“ Iya, kenapa kamu tidak menungguku ? kita kan pulangnya searah.” Sahutnya lagi, kini dengan nafas yang teratur.

“ Eh... kita kan... tidak pernah pulang bersama ? aku pikir.... makanya aku tidak menunggumu.” Aku kembali menjawab, tapi kali ini dengan suara yang terdengar cukup jelas.

“ Aahh.. aku lupa, kita memang tidak pernah pulang bersama. Um, bagaimana kalau hari ini kita pulang bersama. Oke ? ayo.”

Dia mulai melangkahkan kakinya dan berjalan di depanku. Itu membuatku kebingungan. Dia bilang ingin pulang bersama tapi dia sama sekali tidak menghiraukanku yang berjalan tepat di belakangnya. Ini sama saja dengan pulang sendiri, tidak ada bedanya. Dia bahkan mulai memasang earphone dan menyanyikan lagu sambil berjalan.sedangkan aku, aku hanya membuntutinya, seperti penguntit. Tapi setidaknya itu karena jalan kami searah. Sepanjang perjalanan aku hanya berbicara tidak karuan dalam pikiranku. Memperdebatkan duniaku yang terlihat tidak seimbang ini. Hingga tidak terasa akhirnya Ryu mulai berhenti di persimpangan dan membalikkan badannya.

“ Aaahh... kenapa anak wanita selalu berjalan seperti keong ? lambat, sangat lambat. Pulang bersama, tapi terlihat seperti biasa. Berjalan sendiri-sendiri.” Dia berbicara lumayan keras, hingga aku cukup bisa mendengarnya.

Aku sedikit berlari untuk bisa sampai di persimpangan itu dan berdiri tepat di depannya.

“ Hei, lagi pula kamu yang berjalan terlalu cepat, seperti di kejar hantu.” Aku sedikit membela diriku.

“ Haa... benarkah ? kalau begitu.. bagaimana kalau kita kembali kesekolah dan mengulang perjalanan ini kembali ? tapi dengan langkahku yang sedikit pelan. Bagaimana ?” dia terlihat seperti serius ketika mengatakannya.

“ Eh....” aku kembali hanya bisa mengucapkan itu, Ryu benar-benar membuatku kebingungan.

“ Um, aku hanya bercanda. Bye .. Mika..” ucapnya sambil tersenyum dan berjalan menuju arah lain dan meninggalkanku kembali, mengulangi hal yang dia lakukan ketika menyapaku tadi pagi, tapi kali ini dia membalikkan badan dan melambaikan tangannya padaku.

          Aku pun berjalan tertunduk menuju arah yang berlawanan. Sesampainya aku di rumah, aku langsung menuju kamarku, dan meletakkan tasku. Mandi, dan membantu ibuku untuk membuat makan malam. Malam ini berlalu seperti biasa, setelah makan malam bersama ayah dan ibuku selesai , aku membantu mencuci piring dan kembali ke tempat tidurku untuk belajar, kemudian tidur. Keesokan harinya, setelah mandi dan sarapan, aku kemudian membuka pintu dan berjalan keluar untuk pergi ke sekolah. Tapi aku menghentikan langkahku ketika aku keluar dan menemukan Ryu bersandar pada pagar rumahku sambil menekan-nekan handphonenya, seperti sedang mengirim pesan.

“ Ah, kamu sudah siap. Ayo kita berangkat.” Ryu memulai percakapan.

Tapi dia tidak langsung berjalan, dia tetap diam. Tidak bergerak sama sekali. Bahkan dia masih memainkan handphonenya.

“ Eh...??”

“ Um, kita pergi.” Dia tersenyum, dan mulai memasukkan handphonenya ke dalam saku.

Aku semakin koma, tidak tahu apa yang harus aku katakan. Dan kenapa dia tersenyum ? aku mulai merasa ingin melompat-lompat kegirangan, tapi dia masih berada di depanku saat ini.

“ Eeehh.... apa yang kamu lakukan Mika ? kita bisa terlambat...” Ryu berjalan sambil menarik lengan bajuku, membuatku semakin tidak karuan saat itu.

Aku memikirkan, kenapa dia, Ryu berbicara denganku akhir-akhir ini ? tepatnya 2 hari ini. Sejak kami 1 sekolah dulu, dia orang yang sangat jarang berbicara kepadaku, kecuali memang benar-benar ada hal penting yang ingin dia katakan. Tapi kenapa sekarang berbeda ? aku kembali berdebat degan tenangnya, hingga aku tidak mendengar lagi apa yang di katakan Ryu padaku saat  ini. Aku terlalu sibuk untuk  mendengarkannya. Hingga akhirnya kami tiba di sekolah.

“ Ryu... selamat pagi...” terdengar suara perempuan yang tidak asing bagiku sedang menyapa Ryu.

“ Hei, Megu.. selamat pagi.” Kulihat Ryu tersenyum sangat manis tapi juga terlihat malu-malu ketika menyapa Megu.

Ya, Megu, Hayate Megu. Teman satu kelas kami. Megu teman yang baik, dia pintar dan cantik. Dan semua orang menyukainya, termasuk aku. Mungkin juga Ryu, karena aku tidak pernah melihat senyuman Ryu yang seperti ini selama ini. Aku berpikir kalau Ryu menyukai Megu. Itu artinya aku tidak dalam keadaan koma lagi, melainkan mati. aku tidak ingin bersaing untuk mendapatkan Ryu, dan aku juga tidak ingin Ryu memilih antara aku dan Megu, karena aku bukan pilihan. Lebih baik aku tetap menyimpan perasaanku hingga tiba saatnya nanti, entah kapan.

Aku menatap Megu dan Ryu yang saling tersenyum sambil berjalan menuju ruang kelas, dan aku kembali menundukan kepalaku, berjalan di belakang mereka. Hari ini jantungku seakan mau berhenti ketika jam istirahat kedua, dimana Ryu menarik tangan Megu dan membawanya keluar kelas, entah kemana. Aku menangis, dalam hati. Kenapa harus aku yang menyukainya ? dan, kenapa dia menyukai Megu ? aku tidak tahan untuk tidak meneteskan air mataku, tapi tidak di depan teman-temanku. Akhirnya aku memutuskan untuk menangis di kamar mandi sekolah. Sepanjang perjalanan menuju kamar mandi aku berusaha menahan air mataku agar tidak menetes. Tapi sia-sia, ketika aku melihat keluar jendela. Ryu dan Megu, mereka sedang duduk di bangku taman sekolah, saling menatap dan tersenyum satu sama lain. Dan Ryu kembali terlihat malu-malu. Air mataku menetes saat ini, tapi aku tetap meneruskan langkahku hingga akhirnya tiba di kamar mandi dan menangis sejadi-jadinya. Aku tidak masuk pelajaran terakhir, aku pulang sebelum pelajar di mulai. Aku tidak tahu apa yang terjadi di kelas setelah aku pulang, mungkin teman-temanku sedang mengejek Ryu dan Megu karena ketahuan menjalin hubungan.

Aku tidak ingin ke sekolah pagi ini. Aku merasa sakit, tapi hanya perasaanku saja yang sakit, yang lainnya tidak, mereka baik-baik saja. Aku berjalan keluar rumah dan aku kembali terkejut, Ryu kembali ada di depan rumahku. Tepatnya bersandar di pagar dan kali ini aku yang menyapanya terlebih dahulu karena dia terlihat sibuk mengirimkan pesan, mungkin untuk Megu.

“ Selamat Pagi.” Ucapku sambil berjalan meninggalkannya.

“ Eh, Mika. Selamat pagi.” Ryu menjawab dengan semangat, kemudian berlari kecil mengikutiku.

Hari ini perjalanan menuju sekolah terasa sangat melelahkan. Sudah hampir 10 menit kami berjalan, tapi tidak ada satupun yang berbicara. Ryu terlihat asik dengan ponselnya. Dia sesekali tertawa-tawa kecil ketika membaca pesan yang dia terima. Itu membuatku semakin tersiksa, aku semakin mempercepat langkah kakiku. Aku benar-benar sekarat saat ini.

“ Um, Mika. Kamu berteman dengan Megu kan ? dia teman kita sejak sekolah menegah pertama. Dia selalu duduk di depanku. Apakah kamu ingat ?” Ryu memulai percakapan dan membuatku harus menjawabnya.

“ Um, aku berteman.. hanya saja tidak begitu dekat. Tidak sedekat kamu dan dia.” Jawabku sambil tersenyum menatap Ryu, dan dia hanya membalas senyumanku tanpa membantah kalau dia dan Megu tidak berteman dekat.

Sesaat, perjalanan kami sepi kembali. Hingga 10 menit kemudian Ryu kembali memulai percakapan. Dan lagi-lagi tentang Megu. Aku hampir menabrak anak kecil yang berjalan di depanku karena menutup mataku agar tidak menangis. Lagi pula aku tidak ingin terlihat seperti gadis aneh yang menangis di tengah-tengah pembicaraan.

“ Dia gadis yang baik bukan ? dia juga pintar dan cantik. “ Ryu kembali tersenyum ketika membicarakan Megu.

“ Um, dia pintar dan cantik. Megu benar-benar sempurna.” Sahutku dengan nada yang datar.

“ Apakah menurutmu Megu sudah punya kekasih ?” kali ini Ryu menarik lengan bajuku kembali, dan menghentikan langkahnya.

Aku sempat berpikir, kenapa dia hanya menarik lengan bajuku ? kenapa bukan tanganku ? apa tangannya itu hanya untuk menggenggam tangan Megu ? aku mulai kesulitan untuk menjawab pertanyaan Ryu. jika ku jawab sudah, Ryu mungkin akan sakit hati, dan aku tidak ingin melihat Ryu sedih. Tapi jika ku jawab belum, aku yang akan sedih sekaligus sekarat, karena kemungkinan besar Ryu akan mengejar Megu.

“ Uumm... aku tidak tahu.. sebaiknya kamu tanyakan saja  langsung pada Megu..” jawabku perlahan dan meletakan tasku kemudian duduk dan mengeluarkan buku pelajaranku.

“ Um, kamu benar. Aku akan memikirkannya nanti.” Ryu kemudian berjalan menuju tempat duduknya.

Tidak lama, Megu datang dan tersenyum menatap Ryu. kemudian merubah arah tatapannya kepadaku. “

“ Selamat pagi Mika..” senyuman Megu benar-benar manis.

“ Selamat... pagi Megu..” balasku dengan senyuman pula.

          Pelajaran hari ini benar-benar sulit di mengerti. Aku menguras habis konsentrasiku agar bisa mengikuti pelajaran dengan baik, tapi sia-sia. Semua yang ada di pikiranku hanya bayangan Ryu dan Megu yang tertawa, dan bercanda sepanjang hari ini. Hingga waktunya pulang, aku bergegas memasukkan buku-buku ku ke dalam tas dan melangkah pergi. Malam ini aku tidak makan malam bersama, karena aku mengatakan kalau aku sudah makan sebelum pulang kerumah. Aku mengambil sebuah bingkai foto yang terletak di atas meja belajarku dan metapnya. Itu adalah foto di mana aku sedang manghadiri perpisahan sekolah 1 tahun yang lalu. Aku berfoto seorang diri, dengan mengenakan seragam sekolah dan memegang sebuah surat kelulusan di tanganku. Itu adalah foto yang di berikan oleh Ryu, dia yang memotretnya, dia juga yang menyerahkannya padaku. Dengan sebuah kotak kado berwarna merah, dan waktu itu fotoku sudah berada di dalam bingkainya. Dia menyerahkannya tepat di saat hari pertama aku masuk sekolah ini.

          Hari-hari berlalu seperti biasa, aku masih memendam perasaanku. Aku masih belum ingin mengatakannya. Belum saatnya. Ryu pun masih terlihat bersama Megu. Walaupun aku tidak mendengar kabar kalau Ryu dan Megu menjalin hubungan, aku tidak ingin merusak kedekatan mereka, karena aku tidak ingin jika suatu saat ada yang merusak kedekatanku dengan pria idamanku, siapa pun itu.Pagi ini pun aku kembali menemukan Ryu yang bersandar di pagar rumahku dengan menggenggam sebuah ponsel di tangannya.

“ Selamat pagi.. “ Ryu menyapaku beserta senyumannya.

“ Selamat pagi... “ balasku dan mulai berjalan.

“ Mika, aku ingin menceritakan sesuatu padamu.” Ryu terlihat sangat serius.

Aku mulai memikirkan hal terburuk, mungkin Ryu dan Megu sudah menjalin hubungan. Itu yang ada di pikiranku saat ini. Tapi aku masih bersikap wajar dan mengangkat alisku seolah sedang bertanya.

“ Aku menyukai seseorang, aku sungguh menyukainya. Tapi... aku belum berani untuk mengatakan padanya apa yang aku rasakan.”

Ryu tertunduk, dan membuatku dalam detik-detik terakhir. Aku kalah. Ryu menyukai wanita lain. Aku hampir saja mengucapkan sesuatu sebelum akhirnya dia berbicara kembali.

“ Apakah kamu ingin tahu siapa wanita yang selama ini membuatku tdak bisa tertidur di malam hari karena memikirkan apa yang sedang dia lakukan, dan apakah dia juga memikirkannku....”

Aku sangat ingin tahu, tapi aku juga tidak ingin tahu. Jika aku tahu siapa wanita itu, aku mingkin akan membencinya selama-lamanya karena telah membuat Ryu seperti itu. Yang bisa ku lakukan hanya mengambil jalan utama, tidak ingin mengetahuniya.

“ Umm... aku rasa tidak. Aku tidak ingin mengetahuinya Ryu. lagi pula aku tidak akan bisa membantumu untuk mendapatkannya. Kamu harus berusaha sendiri jika kamu benar-benar menyukainya.” Aku terlihat seperti orang yang berpengalaman ketika mengatakannya.

“ Tapi... aku ingin kamu mengetahuinya. Lalu  bagaimana caranya ? dia bahkan tidak terlihat menyukaiku ?” Ryu kembali melemparkan pertanyaannya padaku.

“ Uum, kamu bisa pikirkan nanti...” aku tersenyum padanya solah memberikan semangat, padahal aku sendiri perlu menyemangati diriku.

Ryu tersenyum, kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju sekolah. Di sekolah, pada saat jam kosong Ryu selalu terlihat bersama Megu. Dan mereka terlihat sangat dekat. Tapi kenapa Ryu tidak mengatakannya pada Megu ? dia bisa kapan saja mengatakan kalau dia menyukai Megu, tapi tidak dia lakukan.

          Malam ini aku kembali menatap fotoku. Besok pagi, aku berniat untuk mengatakannya pada Ryu. Apa yang aku rasakan. Walaupun dia menyukai wanita lain, setidaknya dia juga tahu apa yang aku rasakan padanya. Aku tidak bermaksud membuatnya kebingungan nantinya. Aku hanya ingin dia tahu, aku menyukainya.Aku tertidur dan terbangun keesokan harinya dengan masih memeluk foto itu. pagi ini, aku benar-benar berantakan. Aku menjatuhkan banyak benda karena terburu-buru, salah satunya bingkai foto itu. aku memecahkannya. Aku berniat membersihkannya nanti, tapi bagaimana jika ibu masuk ke kamarku dan pecahan bingkai ini mengenai kakinya. Aku kembali memungut pecahan itu, dan mengeluarkan foto itu dengan perlahan kemudian menaruhnya di atas meja.

“ aku berangkat....” aku berpamitan dengan kedua orang tuaku setelah aku menyantap sarapanku.

Aku membuka pintu dan aku sudah siap untuk menyatakan perasaanku pada Ryu, tapi kali ini Ryu tidak menungguku. Aku ke sekolah sendiri. Aku hampir membatalkan niatku karena ku pikir Ryu pagi ini menjemput wanita idamannya itu. Logika dan perasaanku kembali berdebat henbat kali ini. Aku sampai bingung, mana yang harus ku ikuti.

Sekolah berakhir  hari ini.Aku sudah di depan gerbang sekolah ketika Ryu memanggilku. Dia berlari mendekat, nafasnya tidak beraturan, dia terlihat sangat berantakan dengan keringat yang menetes di seluruh tubuhnya. Aku hanya memandangnya dan membiarkan dirinya tenang agar aku bisa mengatakan apa yang aku rasakan. Tapi aku masih belum tahu memulainya dari mana. Di sela-sela kebingunganku, Ryu mulai berbicara padaku, dan dia  juga terlihat gugup, seperti aku.

“ Mika... apa kamu tahu, siapa yang selama ini mengirimkan pesan padaku ?”

Aku tidak ingin tahu. Aku katakan seperti itu dalam benakku. Kenapa Ryu ingin aku mengetahui itu. aku membalikan badanku dan mulai berjalan meninggalkannya.

“ Megu. Kami selalu saling mengirimkan pesan.”

Langkahku terhenti. Aku sudah yakin Ryu dan Megu menjaling hubungan. Aku kembali membalikkan badanku menatapnya.

“ Apa kamu tahu kenapa aku malu ketika berbicara dengannya ?” pertanyaan Ryu membuatku ingin berjalan meninggalkannya kembali.

“ Apa kamu tahu siapa wanita yang aku sukai selama ini ?”

Pertanyaan Ryu kali ini membuatku benar-benar berjalan meninggalkannya. Aku membatalkan niatku. Karena Ryu telah memberitahukan padaku semuanya. Dia menyukai Megu. Aku memilih mengubur perasaanku selama ini. Tapi tiba-tiba Ryu berbicara pelan, aku masih bisa mendengar apa yang dia katakan, masih sangat jelas, dan itu membuat langkahku terhenti.

“ Setiap pagi.. aku mengirimkan pesan pada Megu.. untuk bertanya.. hal apa yang hari ini akan aku bicarakan denganmu... karena aku takut.. kamu akan bosan padaku jika aku berbicara tentang hal yang aneh... aku sering mengajaknya duduk di taman sekolah... agar... jika suatu saat kita tidak sengaja bertemu disana aku tidak perlu merasa gugup lagi... aku tidak pernah berjalan sejajar denganmu... karena aku tidak ingin wajahku yang gugup akan terlihat olehmu... ? aku juga tersenyum malu ketika bertemu dia, karena dia tahu apa yang akau rasakan padamu.. dan... setiap hari.. aku tidak pernah menyentuh tanganmu.. melainkan hanya lengan bajumu.. karena.. aku.. aku takut kamu akan merasakan kalau tanganku gemetar setiap kali berada di dekatmu.. aku menunggumu di depan rumah.. karena aku ingin mengatakan apa yang aku rasakan.. tapi aku selalu meninggalkan nyaliku di tempat lain.... karena kamu terlihat tidak menyukaiku..”

Ryu berhenti bicara, dan aku membalikkan badanku. Aku tersenyum. Ini seperti mimpi. Orang yang selama ini ku kagumi, ternyata dia juga mengagumiku. Aku ingin mengatakan bahwa aku juga menyukainya, tapi lagi-lagi Ryu mengambil kesempatanku. Dia kembali melanjutkan kata-katanya.

“ Aku menyukaimu... Mika... bukan karena kita mempunyai hobby yang sama... aku tidak mempermasalahkan apa saja yang kamu suka.. dan apa saja yang tidak... aku hanya tahu.. aku menyukaimu... sejak.. sejak kamu... sejak pertama kali kamu tersenyum kepadaku.. karena aku menggunakan seragam yang salah waktu itu... di kelas pertama kita di sekolah menengah pertama...”

Aku kembali ingin mengatakan apa yang aku rasakan pada Ryu, perasaanku kali ini sungguh menggebu-gebu. Sulit sekali untuk di tahan. Tapi lagi-lagi Ryu melanjutkan kata-katanya.

“ Sejak saat itu... aku menyukaimu Mika... senyumanmu... membuat duniaku menjadi lebih baik..

“ Ryu.... aku....” belum selesai aku bicara, Ryu kembali melanjutkan kata-katanya.

Kali ini Ryu mengucapkannya dengan tersenyum. Dan dia berjalan mendekatiku, tetap dengan senyumannya yang selalu membuatku mengaguminya.

“ Aku menyukaimu Mika.. aku sungguh menyukaimu..”

Sesaat, aku terdiam. Aku berusaha menyusan kalimat yang indah untuk dia dengar. Tapi itu justru membuatku menderita penyakit alzemir. Aku tersenyum menatap Ryu. Dia sungguh-sungguh membuatku mengaguminya.

“ Aku.. juga menyukaimu Ryu...” aku kembali tersenyum menatap Ryu.

          Kali ini aku benar-benar membatalkan niatku untuk mengatakan apa yang aku rasakan padanya. Bahkan lebih dari yang dia rasakan padaku selama ini. Aku memilih menyimpannya. Membiarkan dia tidak mengetahui bahwa kau juga sangat menyukainya, sejak pertama kali bertemu dengannya. Aku tiba di rumah dengan hati yang berbunga-bunga. Setibanya di kamar, aku menemukan fotoku terjatuh di lantai dalam keadaan terbalik karena tertiup angin yang berasal dari jendela kamarku. Aku mengambilnya, dan.... ternyata di belakang foto itu selama ini ada sebuah tulisan ( Aku menyukaimu Mika... 02-09-2009) Ryu menuliskan kata-kata itu tepat di saat dia mengambilkan gambar untukku. dan aku baru melihatnya sekarang. Perlahan aku berjalan menuju meja belajarku, aku mengambil salah satu pensilku, sambil tersenyum aku menuliskan sesuatu pada foto itu, ( Aku juga menyukaimu.. Ryu... 02-09-1999).

- End -

Note : Bukan ahli dalam membuat ataupun mengarang cerita. Dan mohon ma’af apabila ada kesalahan dalam penulisan yang mengurangi kenyamanan dalam membaca cerita ini. Jadi harap di maklumi, dan silahkan meninggalkan komentar yang membangun bagi sang penulis, agar dapat memperbaiki setiap kesalahan dan menerapkannya di cerita yang lainnya.

        

                                                                             Yulinda Isnaniah

                                                                                      (Yu_I)

Thursday, May 2, 2013

[Series] Let Me Be Empty (5/5)



Ryosuke mengerjapkan matanya pelan. Kilatan cahaya putih terang menyapanya kasar. Ia memangdang ke sekeliling ruangan dan mendapati Yabu tertidur disebelahnya dengan posisi duduk. Kepalanya yang dibalut perban berdenyut keras, perut bagian belakangnya terasa perih. Badannya terasa seperti remuk semua ketika ia mencoba bangkit dari kasur, membuat ia mengurungkan niatnya.

Aku masih hidup? Sial, tuhan menyelamatkanku.. Apa salahnya jika aku mati? Aku tidak akan merasakan penderitaan lagi.., Pikirnya lemah sambil meremas tangannya sendiri.

Yabu terbangun. Raut wajahnya berubah gembira saat mendapati Ryosuke sudah membuka matanya. "Yamada! Kau sudah bangun! Syukurlah!"
Muka Ryosuke terlihat datar. Lalu ia memalingkan wajahnya keluar jendela.

"Ah, aku akan menghubungi teman - temanmu." Ujar Yabu tanpa diperintah. Ia mengambil ponselnya, lalu menekan tombol - tombol yang ada kemudian memposisikan ponselnya ditelinga, menghubungi Daiki.

Setelah selesai, Yabu membalikkan badannya ke arah Ryosuke. "Ayah dan Ibu tadi datang. Ia membawakan buah - buahan untukmu. Kalau mau bilang saja, biar aku kupaskan kulitnya." Tawar Yabu sambil menunjuk setumpuk buah yang terletak diatas lemari kecil disamping ranjang.

Ryosuke menggeleng pelan. "Tidak usah."

"Oh, baiklah." Jawab Yabu santai, seperti tidak terjadi apa - apa malam kemaren.

"Ne, Yabu-kun. Apa yang terjadi setelah aku pingsan?" Ryosuke yang penasaran akhirnya bertanya.

"Kau tenang saja. Yuto dan Hikaru sudah ditangkap polisi. Tapi teman - temannya melarikan diri. Yuto berteriak - teriak seperti orang gila saat dia dibawa. 'Jangan halangi aku! Yama-chan harus bersamaku!' katanya sambil berteriak. Hahaha, dasar. anak itu benar - benar terobsesi denganmu." Jelas Yabu sambil tertawa kecil.

Ryosuke tersenyum memaksa. Yabu yang mengerti akhirnya mendekati Ryosuke. "Aku tahu kau masih terpukul dengan kenyataan yang ada. Tapi tidak ada gunanya melihat masa lalu. Yang ada hanya kepahitan dan kesedihan. Lebih baik kau melihat sekarang. Ketika kau merasa sendiri, ada banyak orang yang menyayangimu. Tidak semua yang meninggalkanmu, bukan?"

"Terima kasih.." Jawab Ryosuke datar. Yabu hanya bisa mendesah.

KLEK

Pintu yang terletak beberapa langkah dari posisi ranjang Ryosuke dibuka. Mereka memandang ke arah pintu yang terbuka itu.

Daiki, Takaki, Keito.

Ryosuke refleks duduk, tapi perutnya terasa perih saat bergerak.

"Hei, kau tidak usah memaksakan diri untuk duduk." Omel Yabu. "Sini kubantu." Yabu lalu menegakkan badan Ryosuke pelan.

"Jadi, bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Takaki sambil berjalan ke arah Ryosuke dan duduk disebelahnya. Yabu yang tidak ingin mengganggu pembicaraan antar teman ini lalu keluar.

"Baik." Jawabnya pendek.

"Yamada, soal kemaren. Kenapa kau melakukannya?" Tanya Daiki tepat pada poinnya.

"Hei, Dai-chan. Baru datang kenapa malah langsung menanyakan hal itu sih?" Omel Keito berbisik.
Daiki diam tidak menjawab. Ia hanya melihat Ryosuke, menunggu jawaban.

"Tidak tahu. Aku juga bodoh, kenapa tiba - tiba bergerak dan menolong orang sepertimu." Jawab Ryosuke memalingkan wajahnya dari tatapan Daiki.

“Terserah apa katamu. Aku tahu kau sebenarnya orang baik. Aku berterima kasih sekali kau menolongku.”
Ryosuke masih mentap keluar jendela

“Yama-chan, kalau kau punya masalah kenapa tidak cerita sama kami? Kenapa kau bertindak gegabah seperi itu? Cari mati saja tau.” Kata Keito seraya mendekat ke Ryosuke.

“Kenapa kalian disini?” Tanya Ryosuke dengan ekspresi datar.

“Yak karena kami ingin menjengukmu.” Jawab Takaki.

“Kenapa? Aku kan sudah mengatakan hal kejam kepada kalian.” Jelas Ryosuke kini melihat mereka bertiga bergantian.

“Kami sudah membicarakan hal itu saat dirumah Daiki. Kami tidak peduli apa yang kau katakan waktu itu. Yang jelas kau tetap teman kami yang baik.” Ujar Takaki sambil melingkarkan tangannya dipundak Ryosuke.

“Oi, Bakaki! Kau membuatnya makin sakit!” Omel Daiki.

“Mou.. Penguin-chan. Aku kan cuma menghiburnya.” Kata Takaki cemberut.

Ryosuke tertawa kecil melihat tingkah Takaki yang seperti anak 5 tahun yang merengek minta es krim.

“Ah! Kau tertawa!” Keito dan Daiki serentak menunjuk Ryosuke. Takaki langsung melihatnya juga.

Ryosuke yang salah tingkah menghindari tatapan mereka. “Ti-tidak. Aku tidak tertawa.”

“Haa.. Aku tahu dia bohong Dai-chan. Kurasa kali ini tawanya alami.” Gumam Keito kepada Daiki dengan maksud menggoda Ryosuke.

Daiki tertawa. “Kurasa begitu”

Pipi Ryosuke memerah malu. “Chi-chigau yo!”

“Aaa.. Mou, kalian curang. Aku juga ingin melihat tawa Yamada juga..” rengek Takaki yang kembali membuat Ryosuke tertawa.

“Ah! Aku melihatnya! Aku melihatnya! Tawa mu manis sekali Yamada.” Papar Takaki terpana.

Ryosuke hanya menunduk menyembunyikan semburat merah yang ada di pipinya.

“Hei, hati – hati. Nanti lukamu terbuka lagi.” Kata Daiki menyudahi tawanya. “Anoo.. Soal Yuto, teman mu yang dulu itu.”

Raut muka Ryosuke berubah masam ketik nama ‘Yuto’ disebut. “Dia bukan temanku. Dia hanya orang gila.”

Daiki, Takaki dan Keito terdiam di tempat mereka berdiri masing – masing.

“Aku ingin membalas perbuatannya. Aku ingin membunuhnya. Dia sudah membunuh orang tuaku dan Yuri.”

“Sudahlah. Aku sudah mendengar semuanya dari Yabu. Lagian dia sudah ditangkap polisi. Tidak ada gunanya kau dendam. Aku juga sangat membencinya. Dia sudah membunuh teman kita. Kalau bisa aku juga ingin membunuhnya. Tetapi hal itu tidak akan mengubah apapun. Yuri tidak akan kembali. Masa lalu biarlah masa lalu..” Jelas Daiki tenang.

“TAPI TIDAK BISA! AKU SUDAH MENCURIGAI YURI‼ AKU SUDAH MENUDUHNYA! Sial.. KALAU BEGINI KENAPA AKU TIDAK MATI SAJA?! Aku bisa minta maaf dengannya disana, dan aku bisa bertemu orang tuaku.” Teriak Ryosuke mengubah atmosfer diruangan itu yang semula hangat menjadi suram..

PLAK!

Telapak tangan Daiki melayang di pipi Ryosuke. Memang Daiki lah yang berpikiran dewasa diantara mereka walaupun badannya sebelas duabelas dengan Ryosuke.

“JANGAN BERCANDA‼ KAU PIKIR MATI ITU ENAK?! ADA BANYAK YANG MENYAYANGIMU DISINI! CUMA KARENA KAU TIDAK PUNYA ORANG TUA LAGI, BANYAK ORANG YANG MENGKHIANATIMU, DAN CHINEN MENINGGALKANMU, JADI KAU MENGANGGAP DIRIMU ORANG YANG PALING MENDERITA, BEGITU?‼ APA KAU TIDAK SADAR, KAU SUDAH LEBIH BERUNTUNG DARI CHINEN!Dan kini kau bilang ingin mati? SUDAH CUKUP KAMI KEHILANGAN CHINEN, BAKA!” Bentaknya.

Ryosuke tertundung memegang pipinya. Takaki dan Keito hanya bisa melihat pertengkaran antara kedua teman mereka..
"Kau itu teman kami Ryosuke. Sahabat kami. Kami tidak akan pernah mengkhianati atau meninggalkanmu. Tolong, percayalah." Daiki melunak diikuti anggukan Takaki dan Keito. Ia memanggil nama depan Ryosuke, yang menandakan ia serius.

Aneh.. Baru kali ini ada orang yang memarahiku dan begitu ngototnya menganggapku sebagai sahabatnya.

"Maaf.." Lirih Ryosuke.

Daiki menghela napas. "Hah.. Aku juga minta maaf sudah membentakmu. Aku hanya minta kau jangan pernah sekalipun mengatakan ingin mati."

Ryosuke mengangguk pelan. "Ya."

Bisakah aku mempercayai mereka?

***

BRAK

"Ryosuke! Tadi suster bilang kau bisa pulang 5 hari lagi." Yabu seketika mengoceh setelah membuka pintu dengan keras. Tetapi terdiam ketika melihat keadaan didalam. "Sepertinya aku masuk disaat yang tidak tepat." Yabu berniat keluar, tapi dihalangi Keito.

"Aaa, tidak, tidak. Lanjutkan saja Yabu-san. Kami sudah selesai kok." Kata Keito.

"Tadi kau bilang Yamada bisa pulang 5 hari lagi? Itu kabar bagus!" Timpal Takaki.

"Iya. Tapi karena kau geger otak ringan -karena dipukul anak buah Hikaru- jadi 2 kali seminggu kau harus rutin periksa ke dokter." Lanjut Yabu seraya menatap Ryosuke.

Ryosuke mengangguk pelan. "un."

"Kalau begitu kami pamit dulu. Istirahat yang banyak ya, Yama-chan." Papar Keito melambaikan tangan kepada Ryosuke, diikuti Daiki dan Takaki
saat mereka berjalan keluar ruangan.

***

Mobil sedan Ryosuke yang dibawa Yabu melesat lurus di jalanan tanpa macet. Ryosuke duduk disampingnya, dengan kepala yang masih diperban. Yabu melihat Ryosuke yang sedang termenung.

"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Yabu membuka suara.

"Lumayan membaik." Jawabnya dengan tatapan kosong.

"Baguslah." Yabu tahu sifat Ryosuke bagaimana. Ia kemudian menepuk kepala Ryosuke pelan. "Hei, yang ceria dong. Kau kan pulang kerumah hari
ini.. Tapi kerumahku ya. Kalau di apartemenmu nanti tidak ada yang bisa mengurusmu. Ayah dan ibu sudah siap - siap untuk menyambutmu lho."

"Ne, Yabu-kun. Sebelum ke rumah, ada tempat yang ingin aku datangi." Ryosuke berhenti sejenak dan menelan ludah. "Ke makam Kaa-chan dan Tou-chan.. Juga Chinen."

Lama Yabu menjawab dengan masih menatap ke arah jalan. "Baiklah." Ia memutar mobilnya ke arah yang berlawanan.

***

Ryosuke duduk didepan sebuah batu nisan di pemakaman itu. Ia merapatkan kedua tangannya, kemudian menutup mata dan mulai berdoa. Lama ia berdoa, akhirnya ia membuka matanya.

"Chinen.. Tidak, maksudku Yuri. Bagaimana kabarmu? Aku harap kau baik - baik saja..."

"...Haha, aku seperti orang bodoh berbicara sendiri dengan batu." Ryosuke berhenti sejenak, menenangkan diri.

"Aku menyesal.. Telah menuduhmu membunuh orang tuaku. Maaf, aku sangat menyesal. Mungkin orang tuaku marah kepadaku karena telah menuduhmu." Ia berhenti lagi, kemudian melanjutkan. "Dan aku memang teman yang tidak berguna. Aku hanya memikirkan diri sendiri. Aku tidak peka terhadapmu. Aku tidak tahu kau mengidap penyakit parah seperti itu. Bahkan aku tidak pernah melihatmu sakit didepanku. Aku tahu setelah Daiki memberi tahukan kepadaku. Bodoh. Aku memang bodoh.." Papar Ryosuke menyesali dirinya.

"Dan Yuto.. Aku tidak menyangka saat kecil kita bertiga berhubungan. Kini aku sangat ingin membunuhnya. Tapi, tidak akan ada gunanya.. Kau dan orang tuaku tak akan kembali.."

"Aku rasa sampai disini saja. Aku berharap ada malaikat yang memberi tahu kau baik - baik saja disana."

Ia berdiri, dan berjalan ke depan beberapa blok dari makan Yuri. Dan berhenti tepat diantara 2 makam, makam orang tuanya. Memang setelah kecelakaan -yang sebenarnya disebabkan oleh Yuto- ayah dan ibu Ryosuke dikuburkan tidak jauh dari kota tempat tinggalnya sekarang. Lalu ia duduk dan mulai berdoa. Setelah selesai berdoa, ia tersenyum.

"Kaa-chan, Tou-chan. Sudah lama aku tak mengunjungi makam kalian. Maaf, baru sempat menjenguk."

Tubuh Ryosuke gemetar. Ia meringis. Sedih yang ia tahan akhirnya membuncah menguasai dirinya.

Aku akan mulai jalan lagi, menapaki tangga kehidupanku. Walaupun sepi, tidak ada kalian berdua, tapi ada banyak orang di sekitarku yang tulus menyayangiku. Kalian tidak perlu cemas

"Aku sayang Kaa-chan dan Tou-chan.." Gumam Ryosuke lembut, namun tulus.

Ryosuke menyeka air mata yang ada di pipinya, kemudian tersenyum. Ia berdiri dan kembali ke tempat Yabu menunggu.

"Sudah selesai?" Tanya Yabu.

"Sudah." Jawab Ryosuke. "Hei, bukankah kau bilang ingin mengunjungi makam Yuri?" Tanya dia kepada Yabu.

"Aku sudah mengunjunginya 2 hari yang lalu dengan Daiki, saat kau masih di rumah sakit."

"Souka.."

Dan mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.

***

Mentari yang terbit dibalik bukit menyinari pagi nan dingin hari itu. Sinarnya masuk melalui selah selah jendela sebuah kamar di suatu rumah. Seorang pemuda keluar dari kamar itu ke beranda. Menyambut sinar matahari yang terang, hangat, dan damai. Ia melebarkan kedua tangannya dan meregangkan tubuh. Pria itu tersenyum..

TING TONG!

“Yamada! Teman – temanmu datang!” Panggil Yabu dari lantai bawah.

Ryosuke yang semula berada di beranda kamar kini beranjak dan berjalan menuruni tangga ketika namanya dipanggil.

“OTANJOUBI OMEDETOU YAMA-CHAN!!” Tiga teman sepermainannya tiba – tiba berteriak sambil membawa kue ulang tahun yang diatasnya menyala lilin angka 20.

Ryosuke tersenyum. Ia sendiri bahkan lupa kalau hari ini hari ulang tahunnya. Ryosuke lalu meniup lilin yang ada di atas kue itu. Teman – temannya tertawa, lalu menggosok – gosok kepalanya.

Sekarang aku mengerti. Ada sesuatu yang dipunya manusia di bumi ini. Kasih sayang.. Aku merasakan kehangatan yang begitu nyata. Mereka, yang ada disekitarku..

Aku percaya mereka. Entahlah, aku yang dulunya memegang teguh prinsip bahwa semua orang yang ada di muka bumi ini munafik, sekarang bisa mempercayai mereka.Memang tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa mereka tulus. Tapi aku percaya.

Sahabat, dan keluarga... Mereka adalah cahayaku.


-FIN-


Glosarium :
Chigau = bukan
Baka = bodoh
Otanjoubi omedetou = selamat ulang tahun

Writer Desire :
Happy Birthday to my dearest ichiban, Yamada Ryosuke. 20th, the first adult age, can't believe you're this mature now~
I love you just the way you are, the sensitive one, the humble one, and the one that love JUMP so much. One of my big wish is to meet you someday :)



[Series] Let Me Be Empty (4/5)




Ryosuke datang ke gedung tua dekat SMU Tsukishima  tepat jam 8 malam. Suasana yang remang – remang dengan penerangan seadanya dari sinar bulan yang masuk melalui celah – celah atap membuat Ryosuke tidak dapat melihat jelas sosok seseorangpun.

“ Datang juga kau rupanya.” Tiba – tiba suara seseorang terdengar dari ujung ruangan.

Ryosuke sepertinya mengenal suara itu. Terdengar suara langkah seseorang semakin dekat kearahnya. Tidak, bukan hanya seseorang. Suara langkah itu terdengar banyak. Ryosuke kaget, melihat orang – orang yang mendekatinya saat wajah mereka diterangi sinar bulan yang masuk dari celah – celah atap yang bolong.

“Hikaru!” teriak Ryosuke spontan melihat Hikaru dan teman – temannya. “Kau yang mengirim surat itu padaku?! Kau yang membunuh Yuri, hah?!!”

“Ma, ma.. Tenang, jangan meledak begitu Yamada.Bukan aku yang mengirimnya.” Jawab Hikaru santai dengan tatapan meremehkan.

“Lalu siapa? Jawab!”

“Ck, kau tidak bisa diajak santai ya.” Kata Hikaru malas. “Hei, keluarlah.” Hikaru menoleh ke belakang, memanggil seseorang untuk menunjukkan wajahnya.

Sebuah langkah kaki berjalan mendekati tempat Ryosuke dan Hikaru cs dari belakang.

“Hisashiburi, Yama-chan.”

***
TOK TOK TOK

“Yama-chan, kau ada di dalam?” Lama Yabu menunggu, tidak ada jawaban.

“Oii, Yama-chan. Kau ada di dalam?” masih belum ada jawaban. Yabu yang tidak sabar akhirnya memegang kenop pintu dan memutarnya. Pintu terbuka.

“Dasar anak ini. Selalu saja tidak mengunci pintunya.” Omel Yabu.

Tapi saat ia melihat ke dalam , tidak ada siapa siapa. Yabu mencari keberadaan Ryosuke ke seluruh sudut ruangan. Tidak ada…

“Paling – paling dia pergi ke supermarket dekat sini.” Pikir Yabu. Ia memutuskan untuk menunggu kepulangan Ryosuke. Tapi saat ingin duduk, ia melihat sebuah kertas terletak diatas meja.

Yabu mengambil kertas itu. Dan saat membaca kalimat pertama, matanya membesar. Ketika selesai membaca keseluruhan kalimat yang tertera disana, dia berdiri tiba – tiba dengan memukul meja.

Yabu mencoba menghubungi ponsel Ryosuke. Tetapi nada deringnya terdengar dari dalam kamar Ryosuke.

“Sial! Dia lupa membawa ponsel lagi.” Yabu mengambil ponsel Ryosuke dan melihat kontak yang ada didalamnya, mencoba menghubungi Daiki.

“Moshi moshi Yamada?”

“Daiki! Ini Yabu. Sekarang juga kau dan dua temanmu yang lain pergi ke gedung kosong dekat SMU Tsukishima yang akan dihancurkan minggu depan itu! Aku akan menunggumu disana!” Perintah Yabu panik.

“Tunggu, Yabu-san. Memangnya ada apa?” Tanya Daiki.

“Aku tidak tahu. Yang penting ini menyangkut temanmu yang meninggal itu, Chinen! Yamada sepertinya disana. Berangkat, sekarang!”

Yabu menutup ponsel Ryosuke dan memasukkannya ke saku belakang. Dengan segera ia menutup pintu apartemen Ryosuke dan langsung menuju mobilnya. Kemudian menyalakan mobil dan langsung melesat ke jalan raya.

***

Seorang pria tinggi nan kurus dan berwajah tirus, dengan warna kulit yang putih pucat.

“Kau.. siapa?”

“Kau lupa siapa aku?” Tanya pria tinggi itu. Kini ia tersenyum licik.

DEG!

Chi.. Chinen? Bukan, bukan Yuri. Dia bocah yang di mimpiku itu!

Ryosuke membatu. Kilasan – kilasan masa lalu kini berputar di kepalanya, saat ia masih kecil. Dimana pada saat itu dia masih bisa tersenyum tulus, bermain – main dengan bahagia dengan teman – temannya. Saat ia bertemu dan menjadi teman pertama anak yang tidak bisa bersosialisasi itu. Saat anak itu melarangnya berteman dengan orang lain. Dan sampai pada saat anak itu memberi tahu bahwa ia yang sengaja mencelakakan orang tua Ryosuke. Kini ia ingat wajah anak itu. Ya, priayandere yang sekarang berdiri didepannya ini.

“Yu..to?” mulut Ryosuke bergetar menyebut nama itu.

“Wah, tidak kusangka kau masih mengingat namaku.” Jawab pria itu dengan senyuman iblis khasnya.

Tubuh Ryosuke mengeras, masih belum percaya dengan kenyataan yang ada didepan matanya. Dalang dibalik kematian orang tuanya.

Jadi.. bukan Yuri?

“Yama-chan, aku sangat senang bertatap muka denganmu lagi. Aku kangen denganmu. Sejak kau pindah, aku sangat sedih, tidak bisa bertemu kau lagi.” Kata pria bernama Yuto itu dengan tampang tak berdosa.

Tangan Ryosuke bergetar, mengepalkan tangannya marah.

“Tapi, 3 bulan yang lalu aku juga pindah ke Tokyo. Saat itu aku sangat senang. Berharap bisa ketemu kau lagi.” Yuto berhenti sejenak.

“Sebulan lebih aku mencari keberadaanmu sejak aku pindah, tapi hasilnya nihil. Saat itu aku memutuskan untuk menyerah. Dan saat berbalik badan untuk pulang, aku menemukanmu! Betapa senangnya aku saat itu. Tapi, aku melihatmu jalan dengan teman – temanmu. Khususnya Chinen itu. Dia menempel denganmu, bermanja – manja denganmu, membuat aku sangat marah! ‘Berani – beraninya Yama-chan ku diambil. Dia hanya milik aku’, pikirku saat itu.”

“Da-dari mana kau tahu namanya?” Tanya Ryosuke gagap.

“Aku mengikutimu, dan menyelidiki Chinen. Bukan hanya Chinen, tapi juga 3 temanmu yang lain. Tapi yang paling membuatku sangat kesal adalah dengan Chinen itu. Dimana – mana setiap aku mengikutimu, dia selalu ada.” Yuto mengalihkan pandangannya dari Ryosuke, marah.

“Jadi kau membunuhnya?” Tanya Ryosuke dengan mantap menyembunyikan emosinya yang meluap – luap sedari tadi.

“Un! Benar sekali.. Dari dulu sampai sekarangpun dia menyebalkan. Tidak pernah berubah, selalu saja mendekatimu. Padahal dulu aku sudah mencelakainya.”

Kelopak mata Ryosuke terbuka lebar ketika Yuto dengan santainya mengakui bahwa ia yang membunuh Yuri. Seketika ada perasaan menyesal di hati Ryosuke karena sudah menuduh Yuri. Tapi hal itu ditepisnya.

Orang ini sudah gila. Dengan mudahnya membunuh orang tanpa merasa bersalah. Tidak kusangka dia temanku saat kecil. Tapi.. dia mengatakan hal yang aneh..

“Apa maksudmu ‘dari dulu’?” dahi Ryosuke berkerut keheranan.

“Mou Yama-chan, kau bahkan tidak ingat? Chinen, dia adalah orang yang aku larang kau berteman dengannya dulu! Kalian dulu begitu akrab, aku tidak bisa menerimanya. Aku merasa kau meninggalkanku. Dan saat kau pindah, aku merasa sangat sedih. Dan aku merasa ini semua gara – gara Chinen. Terbesitlah dalam benakku untuk mencelakakannya. Lalu aku memanggilnya ke tepian sungai dan mendorongnya ke sungai. Dia kan tidak bisa berenang. Tapi sayangnya ada orang yang menolongnya waktu itu.” Jelas Yuto berdecak kesal. “Tapi aku senang sejak kejadian itu dia hilang ingatan. Dia tidak lagi bisa mengingatmu.”

Yuri.. Kau dulu juga temanku.. Kau juga temanku. Aku tidak tahu kita begitu dekat dulu. Sial! Kenapa aku tidak ingat?!

“Bagaimana cara kau membunuh Yuri?” Tanya Ryosuke.

“Saat aku memasuki apartemennya, aku menemukan obat yang memberikan efek simultan, obat untuk mengurangi rasa sakit kepala karena tumor otak. Terbesit dalam kepalaku untuk mengganti obatnya dengan simofili, obat yang berfungsi untuk menyembuhkan sakit mata. Tapi memiliki efek samping yang sangat kuat jika digunakan untuk penderita tumor otak. Tentu saja terima kasih untuk Hikaru dan teman – temannya.” Jelas Yuto menunjuk Hikaru cs dengan bangga. “Mereka yang membantuku menjalankan rencana ini. Tentu saja obat itu tidak menaruh curiga kepada polisi, karena komposisinya sangat mirip.”

Ryosuke kembali dikejutkan dengan penjelasan Yuto. Tidak menyangka Yuto membunuh Yuri dengan cara dingin namun kejam seperti itu.

“Dakara Yama-chan, sejak dulu dan sekarang kau Cuma milikku. Kita ditakdirkan untuk bersama. Kau kembali padaku ya. Kita mulai dari awal lagi.” Ujar Yuto tersenyum.

“Huh, neraka aku kembali padamu. ” Ryosuke menyunggingkan senyum malas.

“Kenapa? Aku sudah menyingkirkan orang yang menyusahkanmu. Tidakkah kau senang?” Yuto memelas.

“Termasuk orang tuaku? Terima kasih, kau membuatku sangat muak”

“Itu.. Ya.. Karena kupikir dengan membunuh orang tuamu juga, kau akan bergantung padaku, dan kau akan menjadi milikku sepenuhnya. Lagian mereka melarangku berteman denganmu. Tapi perkiraanku salah. Sejak kejadian itu, kau malah pindah..” Yuto murung. "Ah, Yama-chan, apa kau tidak ingin mengetahui kenapa Chinen cemas begitu kau membahas soal orang tuamu?"

Benar juga. Kenapa Yuri cemas ketika aku mengatakan hal itu? Padahal bukan ia yang membunuh mereka.., Batin Ryosuke bertanya - tanya. Memang hal itu yang mengganggu pikirannya saat ini.

"Kenapa?"

"Aku mengatakan padanya bahwa ia berkepribadian ganda dan secara tidak sadar mencelakakan orang tuamu. Dan aku tidak sengaja melihatnya melakukan hal itu, membuatnya sangat ketakutan. Lalu aku berjanji akan merahasiakannya padamu asalkan ia berhenti berteman denganmu. Ia menurut. Tapi setelah itu kau memutuskan pindah, membuatku sangat kalut. Yah, karena kesal aku panggil saja ia ke tepi sungai dan mencelakainya. Walaupun dia hilang ingatan, tapi kebohonganku soal dia yang membunuh orang tuamu masih menghantuinya. Mungkin karena itu dia tidak banyak teman. Tapi tidak ku sangka dia bertemu kau lagi."

“Sudah selesai?”

“Apa?”

“Kubilang kau sudah selesai? Siapa yang akan menjadi target mu selanjutnya hah?”

“Hm, entahlah. Bisa saja temanmu yang lain, jika mereka-“

“SUDAH, DIAM!! KAU ITU SAKIT! GILA!! NYAWA ORANG SEPERTI MAINAN BAGIMU, HAH?! SUDAH CUKUP KAU MENGAMBIL NYAWA ORANG TUA DAN TEMANKU, BRENGSEK!” kini Ryosuke mengeluarkan emosinya yang sudah mendidih.

“Yamada… Kau tidak berterima kasih padaku? Kau bilang aku gila? KAU PIKIR DEMI SIAPA AKU BERBUAT BEGINI HAH?!! UNTUK MELINDUNGIMU!! ORANG YANG MENYUSAHKAN BAGIMU, DAN ORANG YANG MENGHALANGIKU UNTUK MENDEKATIMU PANTAS MATI!!” bentak Yuto tak mau kalah dengan menghempaskan kursi kayu tua yang ada di dekatnya.

“MELINDUNGIKU?! BENAR KAN, KAU ITU SAKIT JIWA!! Kau merasa sudah melindungiku? AKU TIDAK PERNAH MERASA TERLINDUNGI. KAU SEMAKIN MEMBUATKU TERPURUK, SIALAN.”

“… Makanya, bergabunglah denganku dan Hikaru. Tinggalkan teman – temanmu. Aku yakin kau tidak akan menyesal. Kau akan senang” ujar Yuto melunak.

“Sampai kiamat pun aku  TIDAK AKAN PERNAH bergabung dengan kalian.” Kata Ryosuke dengan penekanan di setiap katanya.

Yuto terdiam. Lalu ia mendesah, kemudian tersenyum licik. “Apa boleh buat. Aku harus memaksamu dengan cara kekerasan.” Yuto melangkah maju ke arah Ryosuke. Ryosuke mundur seiring dengan langkah Yuto. Hikaru pun yang melihat santai dari tadi ikut maju.

“Kenapa kau mundur? Takut?”  Tanya Yuto dengan senyum liciknya.

“Huh, tidak ada yang perlu kutakutkan dengan pengecut dan orang sakit seperti kalian.” Jawab Ryosuke lantang.

“Haah.. Sungguh Yama-chan, aku tidak mau melakukan ini. Tapi karena kau melawan, ya terpaksa..” Yuto mendesah kecewa. “Hikaru, kalian bersedia membantuku kan?”

“Tentu saja Yuto-kun. Serahkan pada kami. Aku sudah lama ingin bermain – main lagi dengannya.” Jawab Hikaru yang tidak sabar.

Ryosuke melangkah mundur. Tetapi Hikaru dan teman – temannya bertindak cepat dengan beberapa dari mereka membawa balok kayu. Mereka langsung membentuk lingkaran mengepung Ryosuke.

Salah satu dari mereka maju mencoba menyerang Ryosuke. Tapi Ryosuke bisa menghindari serangan itu. Satu serangan lain menyusul ke arahnya, dan lagi - lagi bisa ia tepis. Tapi ia kalah jumlah. Perkelahian sengitpun tak dapat dihindari. Mereka saling meninju da menendang. Tetapi ada seseorang yang menyerang Ryosuke dari belakang dengan balok kayu panjang, membuat ia terjatuh.

Kepalanya berdarah, penglihatannya kabur. Hikaru duduk di atas badan Ryosuke dan kemudian memukul pipinya. Napas Ryosuke terengah - engah. Dia terbatuk - batuk. Wajahnya kini lebam, bibirnya berdarah. Tetapi penderitaan fisiknya tidak membuat mereka jera. Mereka lalu menendang - nendang tubuh Ryosuke yang tidak berdaya.

Sial! Aku memang ingin mati. Tapi tidak di tangan orang rendahan seperti mereka!, Teriak batinnya mendesau. Ryosuke yang tidak ingin diperlakukan rendah mencoba bangkit. Ia melebarkan matanya sampai tingkat maksimum, tidak peduli penglihatannya samar - samar atau kepalanya berdarah.

Ia menyerang membabi buta dengan lunglai. Hikaru dan teman - temannya hanya tertawa melihat Ryosuke seperti menyerang angin.

"STOP!! Aku hanya meminta kalian untuk sekedar menghajarnya, bukan malah membuatnya terluka!" bentak Yuto menghentikan baku hantam mereka.

Sesaat kemudian pintu gedung didobrak oleh beberapa orang. Suara langkah mereka berlari menuju tempat dimana Ryosuke dan orang - orang lainnya berada.

"Yama-chan!"
"Ryosuke!"
"Yamada!"
Teriak Keito, Takaki, Daiki dan Yabu. Mereka datang.

"Ck.. Dan beberapa serangga pengganggu pun datang." desah Yuto. Lalu ia mengeluarkan pisau lipat dari saku jaketnya.

Daiki berlari mendahului Takaki dan yang lainnya.Yuto pun berlari dari arah berlawanan menuju Daiki dengan mata pisau yang mengarah ke depan.

"Dai-chan!" Ryosuke yang melihat hal itu refleks bergerak mendahului Yuto dan kini berada di depan Daiki. Dan hal selanjutnya yang terjadi...

JLEB!

Ryosuke tersungkur..

"YAMADA!!" teriak Daiki melihat punggung Ryosuke yang kini berlumuran darah.Takaki dan Keito langsung menuju ke arah mereka.

Yuto kaget dengan apa yang ada di depan matanya. Tangan dan pisaunya berlumuran darah. Ia tidak mengira Ryosuke akan melakukan hal seperti itu. "Tidak.. Tidak.. Apa yang sudah kulakukan? Yama-chan ku tidak boleh terluka!! Tapi.. AAAAAAAHH!!!" ia menenggelamkan muka kedalam telapak tangannya dengan gemetar.

"Yamada! Bertahanlah! Aku sudah memanggil ambulans!" kata Yabu panik.

Kenapa aku menolong Dai-chan? Kenapa aku membahayakan nyawaku demi oran lain?

Sial. Kenapa untuk menggerakkan tangan dan kaki ku saja susah?Aku tidak sudi mati konyol begini di depan mereka. Yang harus membunuhku adalah diriku sendiri! Bukan orang lain!

……

Menyebalkan.. Penglihatanku semakin memudar dan menipis.. Kaa-chan, Tou-chan, Yuri.. Sepertinya aku akan menyusul kalian..


TBC


Glosarium :
Moshi moshi = halo
Yandere = diluarnya kayak orang normal, tapi dalamnya sadis. Semacam psikopat.
Dakara = Jadi,
Simofili = Cuma karangan saya nama obat itu.