NOTE: Reader, before you browsing to reading please make sure you read fanfiction in here according to your age. If you not yet 17 yo, we suggest you to read fanfiction with rating G, PG-13, PG-15. Rating NC-17 and NC-21 just for addult. Please follow this rule shake your self!
Showing posts with label Length: Short Story. Show all posts
Showing posts with label Length: Short Story. Show all posts

Saturday, March 23, 2013

[Short Story] Ini cerita cintaku,apa ceritamu? [1/2]



Author : Nikhe a.k.a Bini Yamada Ryosuke
Title     : Ini cerita cintaku, apa cerita cintamu?
Genre  : mudah-mudahan Romantis & comedy

Rating : General
Pemeran : sepuluh member Hey Say Jump
Attention : semua jalan cerita ini milik saya dan dunia khayal saya

***
BRUKKK,,, Ryutaro melempar tasnya dan menggelepar di sofa, Ryutaro tersenyum-senyum angker, dia asyik berkelana di dunia khayalnya.
“hehhhh, apa yang terjadi? Sepertinya kau bahagia sekali?”tanya Yuya yang sedang asyik berpijat-pijat ria dengan Inoo dan Daiki.
“ahh, tidak” jawab Ryutaro tanpa menghilangkan sedikitpun senyum dari wajahnya.
“huh dusta,”timpal Daiki,”pasti telah terjadi hal yang menyenangkan di sekolah tadi?”
“kalau melihat wajahmu seperti ini kau pasti habis melakukan hal aneh,” tebak Inoo asal,”soalnya, ketika kau melihat anjing sebelah sedang buang air wajahmu persis seperti ini”
“enak saja, reputasiku tidak seburuk itu. Aku sedang jatuh cinta” Ryutaro menutup wajahnya dengan bantal.
“benarkah?wanita apes mana yang mendapatkan cobaan itu?” tanya Yuya sambil menatap wajah Ryutaro penuh serius diiringi Daiki dan Inoo yang melakukan hal sama.
“hehh,sebuah anugerah dicintai pria seperti saya,”Ryutaro lempar poni.
“kasihan wanita itu, nasib cintanya apes sekali” celetuk Daiki.
“apakah wanita itu cantik?” Inoo semakin penasaran.
“tidak, tetapi wanita itu sanggup membuat hatiku dugem” Ryutaro tersipu .
Ditengah diskusi akbar tersebut masuklah Yamada yang baru saja pulang dari bermain di empang tetangga.
“hey yama-chan, lihatlah adik kecil kita ini yang sedang jatuh cinta” Inoo menunjuk Ryutaro. Yamada melihat kearah Ryutaro sambil cengir kuda.
“terusss gue harus bilang wooww, gitu. Gue harus ngerubah jokowi jadi jokowow gitu” Yamada kibas rambut.
“hehhh”Yuya,Daiki,Inoo dan Ryutaro garuk tembok.
Yamada berlalu, diiringi tatapan tajam dari Yuya,Daiki,Inoo dan Ryutaro.
“hey, jangan coba mengalihkan pembicaraan,”ujar Yuya,”siapa wanita apes itu?”
“mau tau ajah apa mau tau banget?,”goda Ryutaro”kalian kepo deh”
“siapaaaa?”teriak Yuya,Inoo,dan Daiki bersamaan.
“baiklah,”jawab Ryutaro,”kurasa namanya bidadari”
“ah, sudahlah. Rumahnya dimana?” Daiki juga melempar pertanyaan.
“kurasa dia sudah kembali ke kahyangan” jawab Ryutaro yang hatinya sedang berflower-flower.
Tiba-tiba
“HYAAAAAAAAAAAA….” teriak yamada dari kamar. Yuya,Inoo,Daiki, dan Ryutaro segera estafet dari ruang tamu menuju tempat kejadian perkara.
“ada apa, yama-kun?”tanya Ryutaro dengan nafas terseok-seok.
“stroberry-ku mana?kemana perginya ya tuhan?,”Yamada emosinya meledak-ledak karena sekotak stroberry yang dibelinya tadi pagi menghilang,”stroberryku yang cantik jelita”
“memangnya kau letakkan dimana?”tanya Daiki sambil memeriksa kamar.
“tadi kuletakkan di laci,”Yamada menunjuk ke laci meja.
“ahh,kau ini,ku kira kau kehilangan keperjakaan,”Yuya menggeleng-gelengkan kepalanya,”ternyata hanya stroberry”
“jangan-jangan kau yang mengambilnya?” Yamada menuduh Yuya.
“tentu saja tidak. Mana ada aku memiliki tampang titisan maling” Yuya menolak tuduhan Yamada.
“atau kau Inoo” Yamada memicingkan mata menatap horor ke arah Inoo.
“mana mungkin tampang imut sepertiku mencuri stroberrymu” Inoo mengelak.
“aku akan menghubungi densus 88”ujar Ryutaro merogoh ponsel di sakunya dan menelepon.
“hisss, kau ini. Ini kasus kehilangan stroberry,bukan pembomman” Daiki mengambil ponsel Ryutaro dan mematikannya.
Semua tempat sudah di geledah, namun barang bukti masih belum ditemukan.
“aku tau kepada siapa kita harus bertanya” Inoo memberi saran.
“kepada siapa?” tanya Yuya.
“kepada mbah google,”jawab Inoo sambil mengangguk-ngangguk,”dia tau segalanya”
“ah, bohong. Buktinya dia tidak tau siapa cinta sejatiku” Daiki menyangkal.
“kalian ini, membuat keadaan samakin pelik, kacau balau, dan tak terkendali. Pergi sana”usir Yamada dengan murka sambil mendorong Yuya,Inoo,Daiki, dan Ryutaro keluar kamar.
“pemirsa, hilangnya stroberry yama-kun masih menjadi misteri” gumam Ryutaro.
**********
            Sesudah makan malam Inoo,Daiki,dan Yuya kembali ke kamar. Ryutaro sedang mandi, Hikaru,Keito dan Yabu sedang bersantai di ruang tamu,Chinen membaca buku di balkon,s Yamada masih mengurung diri dikamar meratapi hilangnya stroberry, sementara Yuto berjalan-jalan keluar.
“Huhh, malam ini panas sekali ya”ujar Hikaru melepas baju dan mengibas-ngibaskannya, memperlihatkan badan Hikaru yang seksoy,asoy, geboy.
“iya, sepertinya neraka bocor”Yabu yang sejak tadi kegerahan.
“hey keito, dari tadi kau diam saja. Ada apakah gerangan? Mengapa kau bermuram durja? Katakanlah padaku wahai anak muda” Hikaru melirik ke arah Keito yang wajahnya manyun dan di tekuk-tekuk.
“ne, benar sekali. Apakah kau dikejar satpol PP lagi?” yabu ikut bertanya,” makanya Keito segera permak mukamu yang abstrak itu agar tidak disangka gembel”
“yabu-chan,hika-chan. Aku sedang patah hati” jawab Keito pelan.
“hah? Sumpeh lu. Demi rumput yang bergoyang, kok bisa?” Hikaru menatap lekat-lekat wajah keito.
FLASHBACK :
Dibawah pohon jengkol yang rindang, dengan angin yang sepoi-sepoi duduklah sepasang sejoli yang dimabuk jengkol(?). Pasangan yang sedang kasmaraan ini beradu pandang, dan sesekali si wanita menutup wajahnya karena tersipu malu.
“bang kalau eneng jadi bunga, abang jadi apa?”tanya wanita itu. Sebut saja Melati 19 tahun.
“abang akan menjadi akar, yang akan selalu berusaha menjadi sumber kehidupan buat eneng” jawab Keito sambil tersenyum.
“ah, abang bisa aja” Melati menepuk pelan bahu Keito.
“neng, taukah eneng kalau abang sekarang sedang hobi menyusun”
“loh, nyusun apa bang? Menyusun puzle?”
“bukan, abang  menyusun namamu di langit bersama jutaan bintang agar semua orang tau bahwa eneng milik abang”
“abang so swit bener”
“neng, bapaknya pengedar ganja ya?” tanya Keito sambil melemparkan senyum maut.
“apa? Bang kalau ngomong jangan asal dong. Saya tau bapak saya Cuma tukang jahit, jangan bawa-bawa bapak dong. Bapak kamu tuh perampok bank” Melati lempar sepatu.
“ya nggak usah pake lempar sepatu juga” Keito banting harga diri.
“yang bawa-bawa bapak duluan siapa” Melati menjambak Author.
“jangan jambak Author unyu juga dong” meluk Author dengan erat. #kyaaaaaa, author memeluk Keito lebih erat.
“ya, istri saya jangan di ikut campur kan dalam masalah ini” Yamada menarik paksa Author.
“hey, ini apa sih. Pergi sana” Yamada dan Author dilempar ke segitiga bermuda.
“mukanya biasa aja dong, nggak usah diganteng-gantengin” Melati nyolot.
“aku ganteng sejak dalam kandungan kaleee. Masalah?” Keito berpose di pohon jengkol.
“masalah banget,ya terus sekarang kamu mau apa?” tanya Melati emosiyong.
“aku ingin disayangi sepenuh hati, dicintai segenap jiwa dan raga serta diberi kebahagiaan seutuhnya” jawab Keito sambil berkaca-kaca.
PLAKKKKK… muka Keito dipenuhi cap lima jari.
“dihhh najiss gilaa. eloh,gue, kelaaaaaarrrr” Melati tebang pohon jengkol.
“okehhh, jangan rinduin aku, jangan pikirin aku, dan kalau ketemu hantu jangan panggil namaku tiga kali” Keito nyambung pohon jengkol dengan selotip.
FLASHBACK END.
“sudahlah Keito, tak usah terlalu dipikirkan. Yang lalu biarlah berlalu, patah hati adalah jatuh cinta yang tertunda”Yabu menepuk-nepuk bahu Hikaru.
“nanti kalau memang benar-benar kepepet, dan jodohmu tercecer entah dimana, mamang siomay sebelah masih jomblo kok”Hikaru memberi semangat.
“kau tidak membantu sama sekali,”Yabu mempelototi Hikaru,”sudahlah, Author yang cantik hatinya itu siap kok menjadi istrimu” #author dibakar masa.
“kalian ini sudahlah, Author itu milik Yama-chan” Keito menghapus air matanya. #Author dicincang Jumper.
“lagi pula, menemukan cinta yang salah itu anugerah agar kita tau nikmatnya menemukan cinta yang tepat”sambung Hikaru.
“yang sabar,inilah lika-liku kehidupan anak muda,”Yabu memantapkan pandangannya ke arah Keito,”cinta itu seperti Bis yang datang dan pergi, kadang-kadang kau juga akan menaiki bis yang salah. Jadi, tunggulah bis yang tepat itu datang”
“hmmm,,kalau saran dariku, lebih baik kau naik taksi atau naik becak. Bisa mengantar sampai alamat, jadi kau tak akan pernah tersesat” Hikaru menambahkan.
“jika kau tersesat cari saja Ayu tong tong” Yabu memperlihatkan foto Ayu tong-tong.
“ahhh, kau ini bagaimana, dia saja sampai sekarang belum ketemu dengan alamat yang di carinya” sela Hikaru.
“huhhhh,,, Melaaaaattttttiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…. Aku tanpamu Butiran Debu” teriak Keito.
“tolong mas, jangan terlalu mendalami peran” ujar Yabu dan Hikaru bersamaan.
Dalam pembicaraan serius datanglah Yuto dari pintu depan menuju ruang tamu, sambil menggosok-gosok perutnya karena kekenyangan.
“egggggggggggggkkkkkkhhh..”Yuto bersendawa panjang.
“kau dari mana Yuto chan?” tanya Keito yang masih dalam keadaan berduka.
“kau seperti baru saja melakukan perjalanan panjang dari negeri antah berantah” sambung Yabu.
“aku baru saja makan sate yang dekat pengkolan sana,” Yuto menunjuk kearah luar rumah,”satenya maknyossss abiiisssss. Mamangnya, beeuuuhhh mendadak kece badai”
“maksudmu mamang duda kesepian penjual sate langganan kita?” Hikaru sangat antusias.
“iya yang rumahnya di luar komplek dekat tanjakan” Yuto menjelaskan.
“dihhh, mamang itu punya skandal loh sama janda kembang di komplek kita” Yabu membuka aib mamang sate.
“iya, katanya sih mereka terlibat cinta segitiga antara mamang sate, janda kembang dan pak RT”Hikaru ternyata sangat up to date.
“lah, lalu bagaimana dengan nasib buk RT kita terhina eh maksudnya tercinta?” tanya Yuto yang ikut-ikutan KEPO.
“dengar-dengar sihh,pak Rtnya sudah di talak tiga” Yabu memberi tahukan informasi terakhir yang di ketahuinya.
“HEIIIIII KAAALLLIIIIAAAANNN,, rumpppiiii dehh” teriak Keito.
“oh iya Yuto, kau tau tidak misteri hilangnya stroberry Yamada” tanya Hikaru.
“stroberry? Stroberry yang di laci?”Yuto mengkerutkan keningnya berlapis-lapis,”itu milik Yamada? Astaga, sudah ku habiskan tadi pagi”
“ehmmm, yuto sebaiknya…” belum sempat Keito menyelesaikan kata-katanya Yamada memegang pedang samurai sudah mengahampiri Yuto yang sejak tadi menguping pembicaraan.
GRRRRRRRRRRRRR,,,,TAAAAAAAAKKKK….DAARRRRRRRRRR
DUUUUUUUUUUUUUUUNGGGGG,,,,,, CCCCCCIIIIIIIIIIAAAAAAAAAATTT
KYYYYYAAAAAAAAAAA…………
Si tampan Yuto Nakajima babak belur total.
“pemirsa, misteri hilangnya stroberry yamada sudah dipecahkan, dan pelakunya berakhir dengan ironis” ujar Hikaru seperti presenter berita kriminal sambil menunjuk Yuto yang terkulai tak berdaya.
Sementara itu di tempat lain asrama HSJ :
Ryutaro yang sudah harum mewangi, berseri-seri sepanjang hari karena sudah mandi, mendatangi Chinen yang sedang membaca buku di balkon.
“Chii-chan, kau sedang apa?”tanya Ryutaro manja.
“ada apa?”Chinen menutup buku yang sedang dibacanya.
“Chii-chan pernah jatuh Cinta tidak?”tanya Ryutaro lagi.
“ne, mengapa kau tiba-tiba bertanya seperti ini?” Chinen balik bertanya.
“entahlah Chii-chan, ada seorang wanita yang telah merusak sistem kerja otakku. Dia mendoktrinku untuk selalu memikirkan dia”
“sungguh, wanita itu harus tanggung jawab atas kelancangan telah membuatmu jatuh hati padanya”
“raut wajahnya, senyumnya tak pernah lepas dari pandanganku. Tawanya selalu mengusik renungan dan mengacaukan mimpi-mimpiku”
“wah wah hebat sekali wanita itu mampu melakukannya”
“sejak pertama bertemu dia, aku merasa sesuatu berubah. Aku tak tau harus bagaimana” Ryutaro mengingat moment pertama bertemu.
“ah, mungkin cinta, sayang atau apalah namanya” ujar Chinen pelan.
“setiap bertemu dia, nyaliku menciut, badanku kaku dan beku seketika”
“luar biasa dahsyat wanita itu, kau lumpuh dihadapannya”
“tetapi sulit untuk mengunkapkan ke dia” Ryutaro menarik nafas dalam.
“ne,mengapa, dia sudah punya pasangan?” Chinen menoleh ke arah Ryutaro dengan penuh perasaan.
“aku akan melukai orang lain jika melakukannya” Ryutaro mengangguk pelan.
“jangan menyerah,cinta itu butuh perjuangan,”Chinen sangat berfire-fire,”ingatkah kamu slogan “Pacarmu adalah Pacarku yang tertunda”.
“biarlah, aku bahagia mencintainya diam-diam seperti ini. Lagipula cinta tak harus memiliki” Ryutaro lalu bernyanyi lagu de’nasib.
“aah,omong kosong itu,”Chinen menepuk meja,”lagu itu mengajari kemunafikan, melihat orang yang kita sayangi dipelukan pria lain itu merupakan suatu pembunuhan karakter, panasnya melebihi panas jahanam”
“tidak apa-apa, apapun yang membuatnya bahagia akan aku lakukan” Ryutaro menahan sekuat tenaga air mata yang akan meluncur seperti bendungan yang jebol.
“siapa wanita itu, aku akan membawakannya plus hatinya untukmu” Chinen mengepalkan tangan dan mengangkatnya dengan tinggi.
“dii….dii….diiiiiiiiiiiiiiaaaaaaaa,”Ryutaro terbata-bata,” dia dia dia cinta yang kutunggu- tunggu, dia dia dia lengkapi hidupku”
PLAKKKKKK,, Vas bunga mendarat di kepala Ryutaro.
“aku serius, baka” mata Chinen dan mata Ryutaro beradu.
“dia adalah istri yama-chan, author kita yang unyu-unyu, manis tiada tara dan cantik tiada duanya” Ryutaro tak mampu menahan air matanya lebih lama lagi.
Chinen menghantamkan kepalanya ke tembok, dan melompat dari balkon. Terkapar dengan sukses di halaman batu depan asrama, Ryutaro menggemakan lagu gugur bunga. #fanfiction di lempar ke luar angkasa.
Huhhhhh,, sungguh akhir yang indah dan dramatis.
Udah dulu ye, Author kaburrr –v

[Short Story] Ini cerita cintaku,apa ceritamu? [2/2]




Author             : Nikhe a.k.a BYR
Title                : ini cerita cintaku,apa cerita cintamu 2?
Genre             : romantis gagal & comedy

Rating             : General
Pemeran         : kesepuluh pangeran tampan dari negeri sakura.
Caution           : tenang, kali ini pemeran wanitanya bukan Author.

***
Setelah kisah cinta Ryutaro yang kandas ditengah jalan, Ryutaro memutuskan untuk cuti sejenak dalam masalah percintaan dan memulai bisnis baru. Chinen yang telah kembali dengan selamat dari sakaratul maut sejak adegan pelompatan dari balkon,mulai menjalani berobat jalan atas trauma terhadap kisah cinta.
Dipagi jum’at yang cerah, Yabu dan Ryutaro asik mengobrol di kamar mereka.
“Yabu-kun, kita sebaiknya memulai bisnis apa ya?”tanya Ryutaro mencomot pisang goreng yang ditaburi cinta dan kasih sayang.
“entahlah,tetapi yang pasti kita harus membuat bisnis yang belum banyak di pasaran” Yabu menyeruput kopi luwak yang masih hangat.
“hmmm, apa ya?,”Ryutaro mikir keras,”bagaimana kalau kita membuka usaha jasa”
“misalnya?”Yabu tidak mengerti apa yang Ryutaro maksud.
“begini,berhubung sebentar lagi musim panen,kita sewakan Hikaru kepada petani untuk mengusir burung, badannya kan tipis persis dengan orang-orangan sawah”Ryutaro menjelaskan.
“atau kalau ada yang butuh kuli bangunan kita sewakan Yuto, postur tubuh Yuto yang tinggi dan tegap sangat cocok”sambung Yabu.
“tepat sekali, kita juga akan menjual foto Yamada kepada ibu-ibu di komplek untuk menakut-nakuti tikus” Ryutaro semakin bersemangat.
“ah, tetapi rasanya tidak mungkin,”Yabu mulai pesimis,”apa mereka mau?”
“hmmmmm, aku ada ide” Ryutaro berteriak dengan keras. Teriakan Ryutaro mengagetkan Yabu dan spontan menumpahkan kopi hangat ke baju Yabu, Yabu melepaskan bajunya dibantu Ryutaro membersihkan noda kopi yang menempel.
Daiki,Chinen,Inoo dan Hikaru yang baru saja menyelesaikan senam poco-poco kembali ke kamar,tetapi langkah mereka terhenti di depan pintu ketika mendengar percakapan Ryutaro dan Yabu.
“Aaaauuuuuu, pelan pelan Ryutaro”
“iya sebentar, aku tarik dulu”
“ahh ahhh, tuh kan lengket”
“duuuuuhhhh,nanti kita bersihkan. Sekarang lepas dulu Yabu-kun”
Daiki,Chinen,Inoo,dan Hikaru berpandangan satu sama lain.
“Dai-chan,apa yang mereka lakukan di dalam?”tanya Chinen.
“sstttthhh,ini urusan orang dewasa, kau masih belum cukup umur”bisik Daiki.
“mengapa mereka mengeluarkan suara seperti itu?”Hikaru ikut bertanya.
“mungkin mereka melakukan klimaks dari sunah rasul, semalam kan malam jum’at. Kurasa ini ronde kedua mereka”jawab Inoo.
“husss,sembarangan. Jangan berisik, nanti mereka terganggu” Daiki mengacungkan telunjuknya ke bibir.
Perlahan-lahan Chinen membuka sedikit pintu dengan sangat hati-hati, dilihatnya Yabu sedang membuka aurat dan mempertontonkan dengan Ryutaro. Inoo,Daiki dan Hikaru berjejer rapi didekat pintu yang agak renggang.
“uuhhhh,tuh kan jadi seperti ini”Yabu mengipas-ngipas perutnya.
“sabar,sebentar lagi juga selesai”Ryutaro duduk disebelah Yabu dan mengelap dada Yabu.
“aaaaaahhhhhhh,rasanya agak perih”
“kalau sudah agak lama tidak akan terasa lagi kok”
“ahhhhh, akhirnya selesai juga” ujar Yabu lega.
“ini,ganti bajumu Yabu-kun”Ryutaro memberikan baju kaos kepada Yabu.
“aaahhhh,kau ini.aku tidak mau tau,kau harus tanggung jawab terhadap apa yang baru saja kau lakukan padaku”Yabu memakai baju yang di berikan Ryutaro.
“tenang saja,tidak akan terjadi apa-apa terhadap tubuhmu” Ryutaro menepuk bahu Yabu
Tiba-tiba Hikaru memaksa masuk dan menggrebek kegiatan Ryutaro dan Yabu, diikuti oleh Chinen,Inoo,dan Daiki.
“tak kusangka, kau yang selama ini sangat jantan dimataku berbuat yang tidak senonoh terhadap adik kecil kita”Hikaru menunjuk ke arah Ryutaro.
“benar sekali, dan kau Ryutaro,”Daiki membela Hikaru,”umurmu masih balita tetapi kau sudah merenggut kepolosan Yabu”
“ternyata tampang lugumu itu hanya topeng untuk menyembunyikan kebusukanmu” Inoo melirik horor kepada Ryutaro.
“wah,ini judulnya pencemaran nama baik,”Ryutaro membanting muka,”akan kuadukan kalian ke komnas perlindungan anak”
“aku tau kau masih patah hati terhadap Author lecek itu, tapi bukan berarti kau harus jeruk makan jeruk”sambung Chinen.
Ryutaro dan Yabu memandang satu sama lain, mereka tidak mengerti sama sekali apa yang dibicarakan Inoo,Hikaru,Daiki, dan Chinen.
“heh, jeruk makan jeruk,”ujar Yabu,”aku jeruk makan jeruk juga pilih-pilih. Tidak mungkin dengan sendok nasi seperti dia”
“cihh,aku juga tidak mau dengan sesepuh bangkotan yang sudah bau tanah sepertimu” bantah Ryutaro.
“lalu tadi apa yang kalian lakukan? Mengapa kalian berdesah-desah Ria bersama” Inoo menginvestigasi tersangka.
“wah, otak kalian sepertinya sudah setengah watt” Ryutaro menempelkan tangannya ke kening Inoo.
“sudahlah, mengaku saja. Kami melihat sendiri dengan dua mata kepala,dua mata kaki dan mata hati kami” Chinen semakin menyudutkan.
“Chii-chan, kurasa ketika kau terjatuh tempo hari, kepalamu yang mendarat duluan” Yabu menggeleng-gelengkan kepala.
“tadi aku menumpahkan kopi hangat ke baju Yabu-kun,jadi aku membantu membersihkan noda kopi yang tembus dari baju di dada Yabu-kun dengan Tisu”Ryutaro mengangkat barang bukti berupa beberapa helai tisu.
***********
Selepas sholat jum’at Yuya janjian untuk kencan dengan pacarnya, berhubung persediaan dana terbatas karena bank berjalan Inoo tidak mungkin diajak dalam moment ini, Yuya mengajak Inem untuk nongkrong diperempatan jalan.
-FLASHBACK-
Hari itu Yuya yang sedang buru-buru karena terlambat ke kampus tidak sengaja menabrak Inem dan menjatuhkan buku yang dibawanya,Yuya dengan gagah berani berbalik arah dan membantu Inem mengumpulkan buku yang berserakan. Dibuku yang terakhir tangan Yuya dan Inem bertemu,Yuya langsung semriwing merasakan tangan Inem yang halus bagaikan batu kali. #author korban pelem.
“maaf,tadi aku buru-buru”ujar Yuya.
“iya tidak apa-apa,”jawab Inem,”aku duluan ya, aku sudah terlambat”
Inem berlalu meninggalkan Yuya, Yuya sama sekali tidak berkedip melihat kepergian Inem. Beberapa langkah Inem berbalik dan memberikan senyum pamungkasnya dengan efek rambut terbang-terbang persis seperti adegan di sinetron yang berseason-season, Yuya menggelepar-gelepar dilantai kehabisan oksigen.
“oh tuhan sebaiknya ku cepat mengabsen para dayang-dayang di surga, ku rasa salah satu dari mereka melarikan diri” gumam Yuya yang hatinya baru saja di bom bardir.
-FLASHBACK END-
            Yuya menyemprotkan dua liter parfum di bajunya yang aromanya masih tercium dalam jarak radius dua ratus meter, dan memoleskan tepung dua kilo di wajahnya. Wajah Yuya tampak berseri-seri dan bercahaya seperti lampu petromak yang baru diisi ulang, Yuya juga mengobral senyumnya ke setiap sudut penjuru ruangan.
Yuya menyempatkan diri mampir ke toko kembang langganan dan membeli tiga tangkai mawar putih dalam rangka hari jadi yang ke tiga bulan, setelah menunggu beberapa menit datanglah sang pujaan hati.
“Inem-chan ini untukmu”Yuya menyerahkan mawar yang dibelinya.
“arigatou yuya-kun”ujar Inem sambil mencium mawar tersebut.
“kau menyukainya?”tanya Yuya,dibalas anggukan pelan oleh Inem.
“Yuya-kun, mengapa kita bertemu ditempat seperti ini?”tanya Inem,”disini kan banyak debu, nanti aku alergi,gatal-gatal,terserang flu terus mati bagaimana?”
Pertanyaan Inem menohok-nohok hati Yuya, tetapi Yuya menyembunyikannya.
“ne,mengapa?ini romantis” Yuya memandang lekat-lekat wajah inem yang legit.
“romantis apanya? Masa kita pacaran di perempatan jalan,”keluh Inem,”mengapa tidak sekalian kita pacaran dikolong jembatan saja”
“ide yang bagus itu” balas Yuya.
“tidak Yuya-kun,aku tidak bisa terus-terusan menjalin hubungan seperti ini” sambung inem.
“apa maksudmu?”Yuya menggenggam erat-erat tangan Inem.
“lepaskan ! aku ingin hubungan kita berakhir sampai disini, aku sudah menemukan pria lain yang bisa membahagiakanku” Inem memalingkan muka.
Datanglah seorang pria berbadan tipis nan rupawan mendekati Inem yang disinyalir bernama Sako Tomohisa.
“dia adalah pacarku” Inem menggandeng pria yang akrab dipanggil T-kun.
“jadi, ini yang kudapat setelah bekerja keras menjaga hatimu. Apa kurangku dan apa kelebihannya dibanding aku”Yuya menunjuk wajah T-kun.
“oh tentu sangat banyak, dia lebih tampan,lebih kaya dan badannya lebih menggoda dibanding perut buncitmu itu”Inem memeluk mesra T-kun.
Yuya merasa seperti dihujani beribu Durian dari langit, tanah yang dipijaknya serasa berubah menjadi ribuan belati.
“tetapi kita sudah berjanji untuk sehidup semati” Yuya berderai air mata.
“ya. Aku yang hidup,kau yang mati” Inem tersenyum sinis.
“kita juga sudah berjanji untuk seiring sejalan” Yuya mengingat janji yang mereka ikrarkan dibawah monas.
“cihhh, kau yang di siring, aku dijalan” Inem menaikkan alis kirinya.
“tak pernahkah kau sadari akulah yang kau sakiti,engkau pergi dengan janjimu yang telah kau ingkari” teriak Yuya penuh penghayatan.
“ini, ambil kembali bungamu,”Inem melempar bunga ke arah Yuya,”hari gini masih ngasih mawar. Hello, sekarang sudah jaman bunga deposito”
Inem pergi meninggalkan Yuya setelah mengiris hatinya seperti setipis keripik mak icih, Yuya terjatuh bersimpuh ditanah.
“sabar sob,inilah realita kehidupan. Hidup memang keras” T-kun menepuk bahu Yuya, dan pergi bersama inem mengendarai jaguarnya dan melesat dijalanan.
Dengan sisa-sisa nyawanya Yuya berjalan ngesot ke asrama, Yuya merasa dadanya seperti ditimpa gajah ribuan ton, sesak sekali. Yamada,Yuto dan Keito yang sedang merujak di ruang tamu, mengehentikan perjalanan Keito.
“Yuya-kun apa yang terjadi?” tanya Yuto dan Yamada bersamaan.
Yuya hanya terdiam, memandang wajah tampan Yuto dan wajah imut Yamada sama sekali tidak mengobati hatinya yang terluka.
“apakah kencanmu berjalan dengan lancar?”tanya Keito.
“hhhhhhuuuuuuuuuuaaaaaa,, hiks hiks hiks” Yuya menangis dengan keras sampai terisak-isak, karena pertanyaan Keito mengingatkan pada moment jlebb yang baru saja dialaminya.
“baka, bisa kau lihat wajah Yuya-kun lusuh begitu. Pasti sesuatu yang tidak mengenakkan telah terjadi” ujar Yuto.
“benarkah begitu,”tanya Yamada lagi,”ceritakan saja, kau bisa membagi derita itu bersama kami”
“iya Yama-chan,aku telah dikhianati,”jawab Yuya dengan tampang prihatin,”sakit sekali rasanya ditikam oleh orang yang kita cintai”
“sudahlah Yuya,setiap orang pernah terluka. Jangan fokus pada sakitnya,fokuslah pada apa yang bisa kamu pelajari untuk jadi lebih baik” Keito sok bijak.
“ya ampun, nih anak curhat colongan”ujar Yuto ketus.
“jangan sedih yuya-kun, bebek angsa yang sudah dipotong saja masih bisa berdansa. Masa hal kecil seperti ini saja membuatmu terkena GEGANA (gelisah galau merana)” Yamada memberi semangat dan lagu potong bebek angsa pun menggema yang entah dari mana sumbernya.
“benar sekali Yuya. Sudah,makan dulu sana, ada Chinen goreng spesial” Yuto ngawur.
“surga yang engkau janjikan,neraka yang kudapatkan. Manis yang engkau janjikan, ahit yang aku rasakan. Tingginya janjimu padaku, mengalahkan langit yang biru. Manisnya janjimu padaku mengalahkan manisny madu” Yuya mendendangkan lagu dangdut lawas dengan segenap jiwa dan raga, Yuto,Keito dan Yamada gali liang lahat.
***********
Malam harinya semua member ditraktir Yuto makan bakso, sedangkan Yuya menyendiri di jamban. Setelah di paksa dan dirayu-rayu oleh member lain akhirnya Yuya mau bergabung di meja makan.
“itada kimasu” ucap Ryutaro,Inoo,Daiki, dan Yabu bersamaan.
“wahh, Yuto-chan bakso yang kau beli kelezatannya bertambah 3x lipat” puji Ryutaro sambil melahap bakso uratnya.
“ahh, kau ini. Barang gratisan itu memang jauh lebih nikmat” sambung Yabu.
“arigatou Yuto-chan” ujar Chinen.
Belum sempat mencicipi bakso di mangkuknya, Hikaru menarik Bakso Chinen dan membanding-bandingkan dengan bakso miliknya.
“ini Chi-chan, kau makan yang ini”Hikaru menyodorkan bakso miliknya.
“ne, mengapa kau tukar?”Chinen keheranan.
“sepetinya bakso milikmu jauh lebih banyak,”jelas Hikaru,”aku kan kurus, sedangkan kau lumayan berisi. Jadi, aku butuh asupan gizi lebih banyak”
“aku tau badanmu seperti triplek debelah tujuh,tapi aku tidak mau” Chinen mengambil kembali bakso yang direbut Hikaru.
“ah, kau ini memang pelit” Hikaru menatap lapar ke arah Chinen.
Sementara member lain asik melahap baksonya masing-masing, Yuya sama sekali tak menyentuh makanannya.
“apa baksonya kurang enak?”tanya Yuto pada Yuya.
“hmm,, tidak tidak, baksonya kurang banyak” celetuk Ryutaro.
“hisshh, kau ini. Sesepuh…!! bawa jauh-jauh peliharaanmu ini, anak bungsu tapi cerewet sekali” Yuto memanggil Yabu.
“entahlah Yuto-chan. Karena dia ku bimbang, makan tak kenyang, tidur pun ku tak tenang” Yuya kembali melankolis.
“ahh, kau masih memikirkannya. Ya ampun yuya-kun, populasi wanita dimuka ini  empat berbanding satu dengan pria. Kehilangan dia kau masih ada kesempatan untuk madu tiga, move on dong! Mantan tuh tidak usah dipikirkan beri saja pada yang lebih membutuhkan” Yuto berorasi layaknya demonstran yang meminta penurunan harga diri.
“kau bisa berbicara begitu karena kau tidak mengalami, coba saja kita tukar posisi. Rasanya itu seperti diaduk-aduk bersama cendol, di bolak-balik ikan hiu cadel, dan dikejar-kejar oleh banci amatir” Yuya kembali berderai air mata.
Setelah makan malam, Ryutro dan Yabu memimpin RBMH (Rapat Besar Member Hei say jump)
“sodara-sodara, maksud saya mengumpulkan kalian disini untuk membicarakan proposal bisnis kami” Yabu memulai rapat.
“benar sekali bung yabu, kami disini mempunyai ide yang sangat brilian untuk memulai usaha terbaru kami”sambung Ryutaro.
“bisnis, bisnis apa?”tanya Yamada.
“bisnis yang sangat menjanjikan” jawab Yabu dengan semangat.
“bisnis ini prospeknya sangat besar dan kemungkinan ruginya sangat kecil” Ryutaro tersenyum angker ke arah audience.
“bisnis ini akan membantu mengembangkan dunia nyata dan dunia kasat mata, bahkan dunia akhirat” Yabu meyakinkan para calon investor.
“benarkah, sepertinya bisnis bagus”Keito antusias.
“nah, maka dari itu kami butuh partisipasi anda semua” Yabu merespon niat baik yang sudah dipikirkan Keito.
“siap siap, bisnis kami, bisnis kami adalah” Ryutaro sengaja menyicil kata-katanya.
“BERTERNAK TUYUL”teriak Yabu dan Yuto bersamaan.
“AAPPPPAAAAAAAAA??”teriak ke delapan member bersamaan.
“Yamada dan Chinen kalian bertugas menyiapkan sesajeen” perintah Yabu.
“Yuto dan Yuya, berhubung badan kalian paling besar. Kalian bertugas menggendong peliharaan kemana-mana” Ryutaro mengangguk pasti.
“Daiki dan Inoo akan membantu menjaga mengawasi kelancaran operasi di lapangan” lanjut Yabu.
“Chinen dan Hikaru akan menjadi tumbal” Ryutaro menatap Hikaru dan Chinen.
“PRANGGG…”Hikaru memulai penyerangan pertama.
PLEEEETAAAAKKKK… Kyyyyyyya…BRRUUKKKK…………..
DEEEEEEEEEEEERRRRRRRR….JJJJGGGGGGGGGGGGGARRRRRRRRRRRR….
DDDDDDDDDDDDDUUUUUUGGGGGGGGGGGHHHH…..
CCCCCCCCCCCCEETTARRRRRRRR..
Vas bunga berterbangan, diiringi meja dan kursi yang mendarat dimana-mana.
“Yuto-chan, kau taburi apa makanan mereka berdua,”tanya Daiki,”mengapa otaknya menjadi acak-acakkan”
“tidak,aku tidak memberi apa-apa”Yuto membantah.
“ada yang salah dengan kalian,kurasa penunggu pohon beringin di depan berhasil menghasut kalian” sambung Inoo.
Semua member meninggalkan duo matre dalam keadaan sengsara, babak belur, dan hancur lebur.
“lagi-lagi, idemu selalu berakhir naas dan tragis” keluh Yabu yang dipenuhi pecahan kaca di tubuhnya.
“ck ck ck ck, kalian sungguh ironis” Yuya menggeleng-gelengkan kepala lalu pergi meninggalkan Ryutaro dan Yabu.
Udah dulu ye, author undur diri ^^v

Saturday, September 17, 2011

Don’t Believe In Anything (4/last part, English)

FOR READ FULL SCREEN CLICK "VIEW IN FULLSCREEN" in scribd button (^^) If you can see the fanfiction just click this Link below :D Don't Believe in Anything Part 4 Finish (English)

Don’t Believe In Anything (4/Last part, Indonesian)

Title    : Don’t Believe In Anything
Genre : Family, Friendship, Romance
Rating : General
Language       : Indonesia and English
Theme song  : YUI
Author            : Amel Chan

Synopsis:
Human is a pupil, pain is the teacher.

-Ryosuke Yamada-

Cats:
Ryosuke Yamada       as        Ryosukey (Nick name; Key)
Dyan patricia P.P        as        Diyanu     (out character)
Aneri (Diyanu’s best friend)
Otousan (Ryosuke’s Dad)
Furata (Ryosuke’s Brother)
Ishida Mura (Rival)


Part 4
Hi Key, How Are You?

June, 11st

“Key, wajah mu terlihat pucat.” Taka menghampiri ku di dapur. Sebagai waitress seharusnya aku tidak berada didapur. Tapi sekarang aku bukan sedang bekerja. Setelah mengantarkan pesanan pasta di meja 9, aku dengan sedikit terseok beristirahat didapur. Koki senior tampak sibuk dengan buku menu. Suara percikan minyak menguasai suasana dapur. Asisten koki tahu pasti apa yang harus dilakukan, tanpa ada aba-aba mereka bergerak sesuai dengan yang diinginkan koki ketua. 

Aku berdiri menyandar didinding dekat pintu dapur, “Tiba-tiba badan ku sedikit meriang, mungkin kelelahan.” 

Taka memeriksa suhu tubuh ku dengan punggung tangannya. “Oh god, badan mu panas sekali. Jangan dilanjutkan, sebaiknya kau pulang Key. Aku akan menggantikan perkerjaan mu malam ini.” Taka menarik lengan ku ke ruang ganti. “Ganti pakaian mu dan akan ku antar sampai halte bis.”

“Tidak, ini sudah yang kesekian kalinya kau menggantikan aku bekerja. Aku masih sanggup.” 

“Dasar bodoh. Cepat pulang, biar aku yang bilang dengan bos nanti. Lagi pula bos kan tidak datang malam ini.” 

Sebenarnya aku segan dengan kebaikan hati Taka. Tapi mau bagaimana lagi, tubuh ku tidak bisa diajak kompromi. Sekarang pun rasanya sudah tidak sanggup berdiri lagi. Keringat dingin mengalir dari tangan. Napas ku sudah mulai tidak teratur.

“Mohon bantuan mu malam ini Taka, aku pulang dulu.” Sendi kaki ku bergetar, perlahan-lahan kehilangan tenaga. Jangan disini.

Secepat mungkin aku memaksakan diri keluar dari restaurant dan menuju halte bis. Aku menaiki bis biru yang selalu kutumpangi saat pulang kerja. Sepi seperti biasanya. Nafasku terasa panas. Satu... dua... tiga halte sudah dilewati. Dan sekarang bis berhenti di halte ke empat. Aku berdiri menopang tubuh dengan berpegangan pada kursi-kursi. Kemudian menggesekkan kartu pada mesin otomatis didekat pintu sebagai transaksi pembayaran.  

Untuk sampai kerumah aku harus lanjut berjalan kaki sejauh 700 meter. Malam ini terasa sangat menyiksa. Tidak ada suara burung hantu, tidak ada suara seruan mobil, bahkan tidak terdengar suara hembusan angin. Waktu terasa berjalan sangat lamban, lamban sekali sampai aku tidak bisa merasakan nafasku sendiri.

“Bughh!!!” Sebuah pukulan kuat menghantam perut ku, disusul dengan tiga pukulan lain yang berhasil membuatku terjatuh tanpa perlawanan.

“Aku sudah lama menunggu mu disini”.

Seorang laki-laki seumuran dengan ku berdiri di tengah jalan. 

“Nama mu Key kan? Dengar, ini peringatan. Jangan pernah mendekati Diyanu lagi !!” 

“Mendekati Diyanu? Apa tidak salah? Aku sedang tidak ingin melayani omong kosong.” 

Kata-kata itu hanya untuk melarikan diri dari kondisi tubuhnya yang semakin tidak bisa dikontrol, pukulan tadi membuat inti rasa sakit berkembang mengganas. Satu titik diperutku bereaksi cepat menyebarkan rasa sakit keseluruh tubuh. 

“Jadi merebut kekasih orang lain menurut mu itu hanya omong kosong? Wah hebat sekali. Aku dan Diyanu sudah satu tahun berpacaran, terakhir sebelum pindah kemari dia berjanji hanya akan melukis wajah ku. Tapi apa? Semua buku sketsanya penuh dengan wajah mu. Sedikitpun tidak ada niatnya untuk melukis diriku. Kalau kau pintar seharusnya kau tahu apa arti itu semua.” Ia menarik paksa lenganku yang sudah tergeletak lemah. “Kenapa tidak melawan? Takut? Pengecut! Jangan hanya berani bertindak dari belakang, jika benar-benar hebat lawan aku sekarang!” Dengan penuh emosi orang ini menghantamkan beberapa pukulan lagi kewajah ku.

Rasanya ingin sekali melawan. Beraninya dia menginjak harga diriku. Tapi, mana mungkin aku minta break time dan bilang aku sakit. Tidak bisa bergerak. 

Ingatan dan penglihatanku tidak terlalu jelas malam ini, karena tubuh dan pikiranku sibuk mengatasi hentakan perih di perut. Terdengar suara samar orang yang ku kenal. Dia membela ku. Suaranya marah. Ada suara bantingan logam berat, seperti suara tempat sampah yang dibanting. Ada nada ancaman di kata-katanya. 

“Sekali lagi mengganggu sahabatku, aku akan membawa kasus ini ke polisi! Mengerti?” Orang itu ternyata Taka. Dengan brutal dia mengayunkan tongkat kayu kearah laki-laki yang tidak ku kenal. Laki-laki itu lari dengan beberapa memar dibadan.

“Awalnya aku hanya khawatir dengan kondisimu. Takut tumbang ditengah jalan. Eh malah ada yang menyerangmu. Masih bisa berdiri?” Taka membantu ku duduk dan bersandar dilengannya. 

“Hehh... breng..sek... lain kali tidak akan ku lepaskan.” Ringis ku.


“Sudah jangan sok jago. Masa melawan orang seperti itu saja tidak sanggup. Aku antar pulang sekarang.” Ia mengulurkan tangan untuk membantu ku berdiri. Aku menyambutnya dan...

Tidak bisa bergerak. Gerakkan membuat perut ku semakin sakit.

Aku meringis sambil membungkuk memegangi perut.

“Pukulan tadi keras sekali yah? Sampai tidak bisa berdiri.” Taka duduk berjongkok, “cepat naik, akan ku gendong sampai rumah.”

***


Bagaimana bisa suara hening terasa sangat ribut ditelinga dan membuat ku terbangun. Tubuh ku masih terasa tidak bertenaga. Warna putih dan biru, dan bau antiseptik ini membuat ku sadar dimana sekarang. Rumah sakit. Kenapa dia ada disini?

“Ryosukey, kamu sudah bangun yah?” tanya seorang perawat yang sudah cukup tua. 

“Siapa yang membawa ku kemari?” 

“Tengah malam kemarin kau digendong oleh temanmu yang bernama Taka. Saat itu kondisi mu hampir kritis. Apa kau berkelahi dengan berandalan sampai babak belur begitu?” Jelasnya.

“Aa... yah...” Aku ingat saat Taka menggendongku kepunggungnya. Ku kira saat itu dia akan mengantarkanku pulang kerumah. Tapi ternyata...

“Suster... Apa aku sudah bisa pulang sekarang?” 

“Ryosukey, tunggulah sebentar lagi, kau akan bertemu dokter yang menangani mu.” Belum selesai suster bicara panjang lebar pintu terbuka, dokter berumur 50 tahunan tersenyum hangat. 

“Dokter Won?!” aku sedikit terkejut melihat dokter yang sudah sangat sering kutemui. 

“Selamat pagi Key, sebenarnya aku tidak ingin kau berbaring disini, tapi ada masalah serius yang harus kita bicarakan sekarang. Kau sudah terlalu lama mengulur waktu.” Ucap dokter Won.

Nama lengkap dokter Won adalah Ji Won Young. Dia orang Korea Utara yang mendapat beasiswa kuliah di Universitas Tokyo Jurusan Kedokteran specialis penyakit dalam. Dan sebagai imbalan beasiswa itu Dokter Won harus mengabdi kepada pemerintahan Jepang dengan bekerja di rumah sakit ini.

Kami sudah lama saling kenal, sekitar satu setengah tahun yang lalu. Saat pertama kali aku merasakan ketidak beresan pada lambungku yang ayah bilang penyakit magh. Saat berobat dengannya aku sekalian bertanya meminta nasehat dan jalan keluar kepada dokter Won untuk menolong cacat kaki ayah. Mereka banyak membicarakan masalah itu, tidak mungkin menumbuhkan kembali kedua kaki ayah yang sudah di amputasi. Bila menggunakan kaki palsu ayah masih harus menggunakan tongkat. Untuk sementara ayah hanya menggunakan kursi roda. Aku berencana akan mengusahakan ayah untuk dibuatkan kaki robot. Sehingga bisa berjalan tanpa tongkat walaupun tidak akan seluwes kaki sesungguhnya. Ku rasa itu lebih baik, jadi ayah bisa menjalankan aktivitas, bekerja, dan pergi ketempat yang dia mau dengan ringan. 

Tapi itu semua butuh biaya besar. Dokter Won yang bersimpatik tidak mungkin menanggung semua biayanya. Lagi pula dia dokter spesialis penyakit dalam, amputasi atau pembuatan kaki robot bukan bidangnya. Tapi dokter Won berjanji kepada ku akan menghubungi dokter yang bisa menangani masalah itu dan membicara apa saja yang dibutuhkan, berapa biaya yang harus dikumpulkan. Aku meminta waktu dan pertolongan sekali lagi kepada teman dokter Won yang akan menangani ayah kalau sudah waktunya nanti, agar mau menunggu uang untuk hal itu terkumpul. “Beri waktu aku sekitar 2 tahun”, itulah yang aku katakan kepadanya dulu, lalu aku mulai gila bekerja.

Disaat yang bersamaan juga aku bercerita kepada dokter Won tentang kakak yang buta karena mengalami Step saat kecil. Dokter Won membantu ku lagi dengan sungguh-sungguh. Dia memperkenalkanku yang cuma anak baru tamat Junior High School kepada sahabatnya dokter spesialis mata. Dokter spesialis mata meminta ku membawa kakak atau Furuhata kerumah sakit supaya diperiksa seberapa parah kebutaan yang dialami. Dengan susah payah aku berhasil membawanya kerumah sakit, tapi Furuhata memberikan syarat, biaya pemeriksaan akan Furuhata tanggung sendiri. Oke lah, tidak masalah bagi Key, yang penting tindakan sesudah pemeriksaan itu nanti. 

Dokter sudah memperoleh data kondisi kesehatan Furuhata. Katanya jika dilakukan operasi amplatasi mata, Furuhata masih memiliki peluang untuk sembuh. Senang mendengar peluang itu, Key meminta waktu juga kepada dokter untuk memberikan dia waktu 2 tahun. 2 tahun ini dia akan berusaha mengumpulkan biaya dan mempelajari prosedur yang harus dijalani saat operasi nanti akan dilaksanakan. 

Keberuntungan yang besar, ketiga orang dokter itu mau membantu anak yang baru masuk senior high school seperti ku. Walaupun aku tahu mereka skeptis terhadap rencana dan usaha yang akan aku lakukan. 

Ke-skeptisan dokter Won dan teman-temannya aku tampis dengan kerja keras banting tulang. Dokter Won tahu pekerjaan apa saja yang ku geluti termasuk membuatkan karya ilmiah dan skripsi. Sekalipun itu pekerjaan yang salah. Tapi aku butuh pekerjaan itu, karena upah yang diperoleh bisa sampai puluhan juta untuk 1 buah karya tulis. 

Itu semua kulakukan demi ayah dan kakak.

“Suster, tolong tinggalkan kami berdua.” Dokter Won tersenyum kepada suster dan mencari posisi duduk yang nyaman disamping kasur.

“Hal serius?” kening ku berkerut. “Sebelumnya bolehkah aku duluan yang bicara dokter?”

“Tentu saja Key, katakan saja” 

“Aku ingin operasi ayah dan kakak dilaksanakan minggu ini. Aku mohon lakukanlah pemeriksaan dan prosedur operasi. Buatkanlah kaki robot yang pas untuk ayah. Aku takut tidak ada waktu lagi untuk itu. Ku rasa uang yang terkumpul sudah cukup.” Pinta ku memelas.
Dokter Won terdiam, cukup kaget. Dan tersentuh. Dari awal bertemu dengan Key dia sudah merasa sangat menyayanginya seperti anak sendiri. 

“Bukan itu yang ingin aku bicarakan tadi Key” ucap dokter Won.

“Tapi ini yang ingin aku bicarakan sekarang dokter. Hal ini lebih penting dari apapun juga bagi ku di dunia ini. Walaupun ada sedikit kekhawatiran biaya pembuatan kaki ayah akan kurang. Tapi ku mohon lakukanlah, aku mohon dengan sangat.” Key menundukkan kepala dalam-dalam sambil duduk di kasur rumah sakit. Tangannya keram karena terinfus.

“Jika biayanya kurang, aku rela menjual kornea mataku untuk orang yang membutuhkannya. Aku akan menjualnya dengan harga tinggi. Dokter tidak usah khawatir, aku akan membuat surat persetujuan diatas materai mengenai pengakuan ini.” Jelasku dengan panik.

“Hentikan Key.” Dokter Won memegang tangan ku. Terasa seperti tangan ayah. Aku tidak ingat kapan ayah menggenggam tangan ku seperti ini.

“Dari kata-kata tadi sepertinya kau sudah paham dengan kondisimu sendiri Key. Kanker usus yang kau derita sejak hampir setahun ini sudah berada di ambang kronis. Aku sudah menjelaskan kepadamu sebelumnya bahwa ini adalah kanker terganas dari segala jenis kanker. Sampai saat ini belum ada yang selamat dari kanker usus. Tapi kita sudah berusaha memberikan perawatan dan obat yang kau butuhkan. Aku hanya menyesali kenapa kau tidak mau mengikuti kemoterapi? Aku sudah menganggapmu seperti anak sendiri. Jangan mengkhawatirkan biaya kemoterapi karena aku yang akan menaggungnya. Tapi watakmu memang keras kepala.” Ucap Dokter Won perlahan.

“Itu tidak penting dokter, yang ada dikepalaku hanya ayah dan kakak. Percuma melakukan kemoterapi pada penyakit yang kemungkinan sembuhnya hanya 0,1 persen. Untuk apa? Setidaknya aku ingin melakukan hal yang berguna sebelum aku mati. Sekarang yang aku butuhkan adalah dukunganmu dokter, aku mohon.” Key menundukkan kepalanya, bukan untuk memohon. Tapi karena air matanya mengalir. 

Mengapa air mata ini mengalir? 
Apa karena takut dokter Won tidak akan menolongnya? 
Apa karena terharu akhirnya ayah dan kakak akan dioperasi? 
Apa sedih karena aku tidak mencoba kemoterapi dan bertaruh dengan kesempatan sembuh yang kecil? Apa aku sedih karena takut mati? 
Apa aku sedih karena takut tidak bisa melihat ayah dan kakak lagi? 
Atau aku sedih karena nasib yang harus ku jalani?

Mengapa air mataku ini mengalir? Sudah sejauh ini kenapa harus menangis?

Kali pertama melihat Key menangis, gejolak perasaan menyesal dan sayang menggerakkan tangan dokter Won untuk merangkul Key kedalam lengannya yang sudah tidak kekar lagi. “Kau anak laki-laki ku Key” bisiknya. Key menangis tanpa suara. 


June, 17th


Tindakan medis untuk ayah dan kakak dilaksanakan diminggu yang sama tetapi dirumah sakit berbeda di kota itu. aku menyerahkan masalah pembiayaan kepada dokter Won, semua hasil tabungan diberikan semua kepadanya. Karena aku mengkhawatirkan hal yang besar sekali jika aku tidak menyerahkan uang itu. 

Ayah butuh proses yang lebih santai dan waktu cukup lama untuk pembentukan kaki palsu elektriknya. Tidak ada yang perlu diperhatikan. 

Furuhata sejak lima belas menit yang lalu masuk keruang operasi untuk menjalani tranplantasi mata. Seorang wanita yang tewas karena kecelakaan menyumbangkan kornea matanya untuk furuhata. 

Malam terasa panas. Kekhawatiran memenuhi dada ku. Lalu seorang perempuan mengenakan sweter putih dan rok ungu duduk disampingku. 

“Tolong maaf kan perbuatan Ishida pada mu kemarin. Aku tidak tahu kalau dia memukulmu malam itu. tadi sore aku baru tahu dari Taka. Aku bertanya padanya kenapa kamu sudah seminggu tidak masuk kerja, kemudian dia menceritakan kejadian itu.” Diyanu bicara ragu-ragu. 

“Tidak apa-apa, lupakan saja.” Key melihat daun yang berdesir tertiup angin malam. Suaranya menenangkan, seperti nyanyian pengantar tidur. 

“Sejak awal kau selalu menguntitkukan Diyanu?” ucap ku datar. 

Diyanu menoleh dengan sangat terkejut. 

“Itu, itu .... aku hanya...”

“Tidak apa-apa. Aku tahu dan hanya membiarkanmu mengikutiku kemana-mana. Ternyata di perhatikan itu menyenangkan juga.”  Kalimat itu terlontar dengan posisi yang sama saat aku melihat desiran daun.

Kami duduk di kursi di bawah pohon ex. Aku tidak menunggu operasi Furuhata di dalam karena hanya akan membuat dada ku semakin sesak. 

“Tolong maaf kan aku” bujuk Diyanu.

“Diyanu apa kau mau menolong ku?”

Sedikit bingung dengan sikap Key, Diyanu mengangguk, “Baiklah, untuk apa?”

“Kau sudah tahu apa saja yang aku lakukan setiap hari. Apa ada yang ingin kau tanyakan? Tanyakan saja. Karena nanti jika terjadi sesuatu padaku. Dan jika ada yang bertanya tentang aku tolong beri tahu mereka semua yang kau ketahui. Jadi tanyakan apa yang ingin kau tanyakan.” Key mengalihkan pandangannya dari daun pohon ke arah Diyanu.

“Ada apa ini? Aku tidak tahu apa yang terjadi. Dan kau bicara aneh seakan-akan mau terjadi hal besar.”


“Jangan ingkari janji, kau bilang akan membantu ku kan.”

Diyanu benar-benar heran. Dia seperti berhadapan dengan seorang jenius yang mematikan pikirannya. 

“Baiklah, kau sudah tidak dirawat dirumah sakit. Tapi kenapa masih berada disini?” tanyanya

“Ooh, Furuhata sekarang menjalani operasi transplantasi mata. Aku harap operasi itu berhasil.”

“Benarkah? Seharusnya kau memberi tahu aku sebelumnya. Kita kan tetangga. Jadi aku bisa mengajak ibu dan Aneri menemanimu disini. Kalau begitu mana ayahmu?”

“Ayah sekarang dirawat untuk pembuatan kaki barunya. Aku harap itu juga akan berhasil.”

Diyanu melotot kesal kepada Key, “Untuk hal yang sepenting ini kau tidak memberitahukannya kepada tetangga dekat mu hah?”

Key diam menatapi telapak tangannya yang bergetar.
“Kau kedinginan Key?” Tanya Diyanu, ia memberika syal yang dibawa didalam tas kepada ku.

“Terima kasih” aku menyambut syalnya.

“Ada lagi, kenapa kau selalu berkelahi dengan ayah dan Furuhata?”

“Ternyata kau terganggu dengan perkelahian itu yah.” Key tersenyum miris. “Hampir sebagian besar keributan itu karena ulah ku. Aku selalu pulang telat, membantah kata-kata ayah dan Furuhata, antisosial, seenaknya. Aku rasa itu hal yang wajar jika mereka marah. Tapi itu semua demi mereka.”

“Maksud mu?” Diyanu mengerutkan alisnya.

“Sebelum pindah ke Kagoshima kami tinggal di Yokohama. Aku murid yang nakal dan sering membuat keributan bersama-sama geng ku. Kami tauran dan berkelahi untuk menunjukkan kekuasaan dan kekuatan masing-masing geng. Yah saat itu, geng ku sangat terkenal karena orang-orang didalamnya. Keluargaku kerepotan karena masalah yang timbul hahahaha....” aku tertawa pelan.

“Sampai saat pengeroyokan itu terjadi. Aku sendirian pulang dari rumah sahabatku. Geng lawan mengeroyok dan menghajarku habis-habisan untuk balas dendam karena aku membakar uang hasil rampokan mereka dari anak elementary school. Uang itu tidak banyak kok. Tapi mereka dendam sekali ternyata. Saat itu ayah datang membantuku, dan seorang dari geng lawan mendorong ayah sampai jatuh dari jembatan penyeberangan. Dan tidak disangka, sebuah mobil melindas kedua kaki ayah sehingga lumpuh seperti sekarang. Itu semua salah ku.” Aku terdiam cukup lama sebelum melanjutkan cerita. 


“Sejak saat itu aku mengutuk diri sendiri. Aku menyesal sedalam-dalamnya. Ibu ku sudah meninggal, Furuhata buta dan butuh perhatian lebih, dan sekarang ayah ku cacat seumur hidup. Ayah kehilangan pekerjaan. Penyesalan semakin besar saat aku sadar bahwa dikeluarga ku sudah tidak ada yang bisa bekerja mencari nafkah. Pengobatan ayah butuh waktu berbulan-bulan sampai dia bisa duduk dikursi roda. Butuh biaya untuk hidup. Waktu itu aku hanya bisa menguras semua tabungan ayah untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari. Lalu semakin kusadari, uang itu menipis dan hampir habis. Aku mulai mencari pekerjaan dan berbohong mengenai usia agar diterima bekerja. Awalnya di Yokohama aku bekerja sebagai tukang cuci piring dan pembersih di panti jompo. Dengan kondisi keluarga dan pikiran tertekan, geng lawan masih saja mencari masalah dan memancing keributan. Mereka berhasil membuat ku dipecat 3 kali dari tempat kerja. Lalu aku meminta ayah untuk pindah dari Yokohama kemana saja, untuk memulai hidup baru dan berjanji tidak akan membuat ulah lagi.” 

Diyanu melihat key menggosok-gosok tangannya, mungkin dingin.

“Akhirnya kami pindah kepulau ini, Kagoshima. Dan seperti janji kepada ayah, aku tidak membuat ulah. Setelah pindah banyak yang aku pikirkan. Kecacatan ayah adalah tanggung jawabku. Jadi aku memikirkan rencana pembuatan kaki penolong untuk ayah. Aku ingin nanti Furuhata bisa menafkai diri sendiri  dan membantu ayah, jadi aku juga memikirkan cara operasi tranplantasi mata untuknya. Kemudian aku menyadari ada yang salah dengan tubuhku. Hal itulah yang membuatku gila kerja tanpa memikirkan waktu. Karena aku harus mengumpulkan uang dalam jumlah besar dengan cepat.”

“Ada yang salah dengan tubuhmu? Apa itu” tanya Diyanu hati-hati.

“Awalnya dokter Won mengira aku menderita penyakit magh dan semakin kronis. Tetapi beberapa minggu sesudah itu dia menemukan sel sel kanker diususku. Dan dia mengatakan bahwa kau menderita gejala awal kanker usus. Akhir-akhir ini aku merasa itu semakin memburuk. Jadi aku memohon operasi ayah dan Furuhata dilakukan minggu ini.”

“Bagaimana keadaan mu sekarang?” Diyanu cemas, dia seperti tidak perduli dengan operasi Furuhata atau ayah. Dia mengkhawatirkan Key.

“Terima kasih sudah mendengarkanku, tapi aku tidak akan menjawab pertanyaan yang satu ini. Karena jika ada yang bertanya tentang penyakit ku, dokter Won lah orang yang paling tahu dan paham apa yang harus dia jawab.” Key melirik arlojinya. Sudah setengah jam sejak mereka berbincang-bincang.

“Apa ayah dan furuhata tahu kau yang membiayai dan merencanakan operasi ini?”

“Tidak, mereka tidak akan mau jika tahu aku yang membiayainya. Dokter bilang bahwa ada suka relawan yang bersedia mendanai. Ah aku lelah, maukah kau menjaga Furuhata disini sampai operasi selesai? Aku sudah menelepon Taka untuk menemani ayah di rumah sakit. Sekarang aku mau pulang, mandi dan beristirahat. Besok setelah mengurus izin sekolah aku akan kembali kemari.” Jelas ku pada Diyanu yang tampak agak bingung dan empati.

“Iyah, pulanglah. Percayakan Furuhata pada ku.”  Diyanu meyakinkan.

Aku menyodorkan syal ungu kepada Diyanu dan melangkah pulang. 

***


June 18th

Suara jam weker sudah berdering sejak lima menit yang lalu. Dalam keadaan normal suara weker itu terdengar nyaring dan memekakkan telinga. Tapi suara itu terdengar samar ditelinga ku. Aku bangkit dan mematikan weker. Segera mencuci muka dengan gerakkan lambat. Aku berjanji pada Diyanu setelah mengurus izin sekolah akan segera kerumah sakit. Jangan sampai Diyanu tidak sekolah karena dia. Rencananya aku akan bilang kepada kepala sekolah bahwa Diyanu membantu keluargaku menjaga Furuhata dirumah sakit dan akan segera datang kesekolah saat Aku tiba di rumah sakit. Kepala sekolah pasti akan mengizinkan Diyanu masuk kelas walaupun terlambat 2 jam. 

Aku mengenakan jaket biru favorit. Tanpa mengulur waktu aku berlari kearah tangga. Tapi baru dua langkah menuruni anak tangga, aku merasakan sentruman kuat keseluruh tubuh. Hentakan kencang dikepala. Dan kucuran darah dari hidung tanpa terbendung. Pandanganku berputar. Tubuhku kesemutan total dan perih. Aku tidak bisa merasakan keseimbangan tubuh lalu jatuh terguling dari tangga. Kepalaku membentur lantai bawah tangga. Rasa sakit yang sebenarnya bukan karena benturan itu. Tapi dari seluruh tubuh. Perut ku sakit sekali. Aku meringkuk dilantai, memegangi perut. Kepala ku pusing. Terasa mau pecah. Cairan kental terasa menghambat saluran pernapasan. Aku terbatuk-batuk dengan mengeluarkan bercak merah. Tuhan tolong.... aku ingin tahu apakah operasi kakak berhasil. Aku ingin tahu keadaan ayah. Tolong berikan aku waktu sedikit lagi seperti yang sudah kau lakukan selama ini. Tolong tuhan....

Tanpa disadari air mata ku mengalir, mengalir dengan sendirinya dan tulus. Jika harus pergi pun tidak apa-apa. Aku sudah melakukan tugas ku. Tugas ku sudah selesai. 

Ayah, kakak..... Tolong maafkan aku. Aku yang selalu membuat kalian susah. 

Tolong jangan marah padaku lagi. Karena sekarang aku rindu tertawa bersama kalian. Aku rindu bercanda sambil menonton televisi.  

Tolong jangan membenciku karena pergi dengan cara seperti ini. 

Percayalah, aku ingin selalu bersama kalian, aku ingin melihat kakak menikah. Aku ingin melihat ayah bekerja lagi. Dan suatu hari nanti aku ingin kita bertiga bersama-sama kembali ke Yokohama untuk menjenguk Ibu seperti dulu. Aku ingat, waktu itu ayah menuntun tangan ku. Aku memegangi ujung baju kakak. Dan kakak menggendong karangan bunga untuk Ibu. Kita berdoa dan tertawa bersama di pusaran Ibu. Walaupun sedih tapi ada rasa bahagia di dalam dadakan?

Getaran tubuh ku tidak terkendali. Aku batuk sejadi-jadinya dan merasakan tubuhku mulai mengejang. Sistem gerak terasa mati. Tubuh bergerak mengeras. Tapi aku masih bisa merasakan raut wajahku menahan rasa sakit. Perlahan-lahan tubuh ku melemas dan satu detik kemudian pikiran ku hilang. Semuanya hilang......

.................


*****


Lima tahun kemudian


“Key, apa kabar? Kau baik-baik saja kan?” Aku meletakkan karangan bunga diatas batu nisan Key. Pusaran itu terlihat bersih dan terawat. Masih ada titik-titik air sisa hujan kemarin malam di atas batu nisannya. 


Diyanu memandangi lekat photo yang berada didalam batu nisan. Aku menyentuh wajah didalam photo itu dengan lembut dan penuh harap. 

“Rindu sekali Key....... Kami semua sangat merindukan mu. Semuanya, kami merindukanmu. Apa kau tidak merasakannya Key?” satu titik air mata mengalir dan disusul tetesan air mata yang lain. 

“Maaf yah, setelah lima tahun, baru sekarang aku bisa mengunjungimu disini. Sungguh maafkan aku. Aku berani bersumpah setiap saat aku merindukan mu. Mencatat hari demi hari yang aku lewati setelah kepergianmu.”

“Hey, kau tahu tidak. Ayah mu sekarang membuka toko penjualan mainan anak-anak di pusat kota kagoshima ini. Di tengah toko dia memajang photo diri mu dan ibu besar sekali. Dan setiap akan membuka dan menutup toko ia selalu menatapi photo mu dengan dalam. Semua orang tahu arti tatapan itu.... tatapan yang penuh kasih.... aku rasa ayah sering mengunjungi mu disini, iya kan?”

Diyanu tersenyum bahagia dan pedih.

“Oh ya, apa Furuhata sudah pernah mengunjungi mu kemari? Dia sekarang tinggal di Yokohama. Kembali membeli rumah yang dulu kalian tempati. Kabar baiknya dua tahun yang lalu dia menikah denga sahabatku Aneri dan sekarang anak mereka sudah berumur enam bulan. Anak laki-laki tampan yang mereka beri nama Key Sora, ada harapan yang besar dibalik nama itu Key. Huuh ternyata orang yang Aneri cintai itu kakak mu ahahha.....” Aku tertawa dengan perasaan yang ..... entahlah.... aku bahagia untuk mereka, untuk mu, tapi didasar hati, ada sisa kepedihan yang tidak bisa hilang Key.... 

Aku pedih jika memikirkan semua pengorbanan yang kau lakukan. Kau mengorbankan kebahagiaan dan hidup mu....

Apa kau bahagia selama ini key?

Dan apa sekarang kau bahagia?

Iya kan? Kau bahagia? 

Jika kau bahagia, aku baru bisa melanjutkan hidup ini dengan tenang. 

“Kau mau tahu kabar ku tidak? Setahun lagi aku akan menyelesaikan kuliah di Universitas Tokyo jurusan kedokteran. Aku akan berusaha menolong orang-orang yang menderita penyakit kanker. Aku berjanji pada mu Key. Saat bertemu dengan anak-anak di panti kanker, aku menemui beberapa anak yang putus asa dan pesimis. Aku bingung bagaimana cara menghibur mereka, tapi sosok mu selalu menguasai pikiranku. Dengan spontan aku menceritakan kisah mu pada mereka. Dan ternyata kau adalah sosok inspiratif yang mampu membangkitkan semangat hidup mereka.”

Aku sudah menanam janji itu didalam hati.


Aku masih ingat tempat favorit ku saat mengamati mu dari jendela kamar. Aku selalu duduk di dekat jendela dan mengamati semua yang kau lakukan. Dari sana aku melihat kau mengantar koran dipagi hari dengan sepeda dan pulang dari kerja dimalam hari.

Bodoh....

Seharusnya malam itu, aku mengucapkan hal yang paling ingin ku ucapkan.

Aku mencintai mu Key, dengan tulus, dari lubuk hati.

Yah.. Baiklah, satu jam lagi pesawat ke Tokyo akan berangkat. Aku harus segera pulang dan melanjutkan hidupku. Jangan khawatir Key, aku akan kembali lagi mengunjungimu. Percayalah....

Sebelum melangkah pergi meninggalkan pemakaman, aku mengecup pedih nisan yang ku rindukan.

Sampai jumpa lagi Key.




*****



“Key, apa kabar? Kau baik-baik saja kan?”



The End ----------------------------------------------------------------------------------


I just try make the story which can be our inspirate. Its not really good. But I love Key character here. He is strong, smart. But stupid because he is think can feel all the pain and walk alone. Maybe all will be different if he want share his pain to other.

I could writen this story because in my mind Key is Ryosuke Yamada.

..........

“Hi Key, How are you? Are you okay? We all miss you.”




-Amel Chan, September 2011-