NOTE: Reader, before you browsing to reading please make sure you read fanfiction in here according to your age. If you not yet 17 yo, we suggest you to read fanfiction with rating G, PG-13, PG-15. Rating NC-17 and NC-21 just for addult. Please follow this rule shake your self!
Showing posts with label Cast: Keito Okamoto. Show all posts
Showing posts with label Cast: Keito Okamoto. Show all posts

Thursday, May 2, 2013

[Series] TIMELESS (ALL BECAUSE OF MY FRIEND) Part 5/5



Sebelumnya : “Kita bukan teman lagi!” “Yatta~! Robot niichan masuk finaal~!”
.
          Hari sudah menunjukkan pukul 7 malam. Terdengar suara dari daun-daun yang bergesekan. Angin seakan-akan mengetuk jendela serta pintu mereka. Begitu dingin, menembus kulit-kulit mereka.

“Chiii, ganti film yuk.. Takut nih..” pinta Yama yang bersembunyi di balik selimut.

“Aduuh, tunggu bentar.. Penasaran nih, Endingnya semua penduduk jadi zombie atau nggak..” balas Chinen mengungkapkan rasa penasarannya. Mereka sedang menonton Resident Evil, yang sukses membuat Yama ketakutan, ditambah lagi dengan suasana diluar yang mendukung.

‘Lebih baik aku main hp aja deh..’ gumam Yama dalam hati.

 “Chii.. Sekarang tanggal berapa ya? Tanggal hp ku balik lagi ke 1 Januari 2009 ” ucap Yama sambil melihat layar hp-nya.

“Tanggal 10.. “

“Tanggal 10..? Hmm..” Yama mengingat-ingat kembali. Sepertinya ada sesuatu yang penting di tanggal 10.

Lama Yama berpikir, dan kemudiaan… “yu.. YUTO!” sahut Yama lalu segera melesat ke depan pintu.

“Uagh! Niichan popcornnya jatuh nih..!!”

          Yama berpikir 2 kali. Lagipula, tidak ada toko yang buka malam-malam begini. Tetapi jawaban akhirnya adalah tetap ingin bertemu dengan Yuto, walau badai dan pemandangan diluar nampak tidak bersahabat. Ia langsung mengambil jaket serta sarung tangan merah kesayangannya.
“Ni.. nichan mau kemana??”

“Mau kerumahnya Yuto..”

“Apa?! Tapi malam-malam begini.. Niichan aku takut di tinggal sendirian..” pinta Chinen manja.

“Yeee, salah siapa nonton film zombie..”

Brak! Yama langsung keluar meninggalkan Chinen. Chinen semakin keringat dingin.


“Hosh.. hosh..”

          Di luar pemandangan semakin gelap saja. Yama berlari di tengah malam dengan ngos-ngosan, terkadang terlintas dipikarannya zombie-zombie yang muncul dari balik semak-semak lalu menerkamnya.

‘Uwaaaah… Ayo Yama, sebentar lagi sampai.. Ganbatte! Ganbatte!..”

          Ternyata Yuto sedang berada di luar rumah. Tepatnya dipinggir sungai dekat rumahnya, sepertinya dia bernyanyi. Yama semakin merinding saja. Yuto itu aneh, kenapa dia suka menyindiri di tengah malam yang gelap gulita?

“Yuto!” sapa Yama dari arah belakang.

“Konbanwa, Yama.. Apa yang kau lakukan malam-malam begini?” tanya Yuto seraya memandangi aliran air sungai.

“Tidak ada.. Aku hanya ingin bilang… Yuto, Happy Birthday! Selamat ulang tahun ya kawan! Kalau aku mengganggumu.. aku akan segera pergi” Yama membalikkan badannya. *ceritanya Yuto disini ultah tanggal 10 Juli.. piss xDv

“Tunggu! Tidak, tidak sama sekali Yama.. Tolong, temani aku disini..”

          Yama tertegun. Tetapi ia kembali lagi untuk menemani Yuto.
“Jadi, kau kesini hanya untuk mengucapkan itu?” tanya Yuto. Yama mengangguk.

“Wow.. Ternyata kau ingat ya.. Maafkan aku Yama, sepertinya aku terlalu berlebihan.. Aku sadar saat melihat persahabatan Chinen dan Yuma beberapa hari yang lalu.. Mereka disini, saling mengaitkan kedua kelingking mereka dan tersenyum..”

“Sangat disayangkan bila kenangan kita dulu diakhiri..” lanjutnya

“Jadi.. Kita teman?” tanya Yama.

“Yeah.. Tomodacchi!!”

“Wuuhuu~” mereka berdua saling tos. Tetapi, tiba-tiba saja angin kencang bertiup.

“Oh, tidak! Sarung tanganku!” Wuuuzzz… Air sungai telah menghanyutkan sarung tangan Yuto ke dalam gelapnya ujung sungai.

“Tenang saja Yuto, ini hadiahku untukmu!” ucap Yamada seraya melepaskan sarung tangan miliknya.

“Ta.. tapi..”

“Sudahlah, itu hadiahku, lagipula tidak ada toko yang buka jam segini! Hanya inilah yang tersisa dan kuberikan ini sebagai hadiah untukmu.. hehe” Yama tersenyum.

“Baiklah, arigatou Yama-chan!” Yuto menerima pemberian Yama.

 “Maaf ya, belum dibungkuus.. Hehehe” Yama nyengir. Angin malam serta cahaya lampu jalan menjadi saksi biksu dari kembalinya persahabatan mereka.
***

 “Tadaima~” ucap Yama saat sampai dirumahnya.

“HUWEEEE!! Niiichaaan kejam meninggalkanku!!!!” rengek Chinen yang ternyata air matanya sudah 3 ember.

“Iya, maaf hehe..”

“Ayo, kita tidur saja, sudah jam 11 malam lho.. Niichan perginya kelamaan sih”

***
.
“Yama niichan! Ayo bangun niichan!!!” teriak Chinen menggoyang-goyangkan tubuh Yamada.

“Astaga, niichan selain lari.. kalau tidur juga nomer satu!!”

“NIIICHAANN!! BANGUUN!!

SPLASH!

“TSUNAMI!!! TSUNAMI!!!”

“Huuus.. Niichan! Kaasan sudah pulang! Kaasan!” kata Chinen bersemangat.

“Apa?! Kaasan?!! Dimana?!!”

Ciuung~ Dengan satu kali kedipan mata, Yama langsung berada di lantai bawah. *wah, berati kecepatan Yama berlari melampaui kecepatan cahaya .____.a Terlihat, Kaasan sedang memasak nasi goreng kesukaannya.

“Ohayou..” sapa Kaasan hangat

“Kaasan!! Aku rindu kaasan!!”

“Yama.. sarung tanganmu.. diberikan ke Yuto-kun ya?” tanya Kaasan

“I.. iya.. Tapi, darimana Kaasan tahu?”

Kaasan tertawa kecil. “Tadi pagi Kaasan berpapasan dengan Yuto-kun yang sedang berjalan-jalan sambil mengenakan sarung tangan itu.. Dan ia terlihat sangat menyukainya!”

“Oh.. sumimasen Kaasan.. Sarung tangannya kujadikan hadiah ultah Yuto kemarin”

“Daijoubu.. Nanti kita bisa beli yang baru!” jawab Kaasan seraya mengusap kepala Yamada.

“Sekarang Kaasan bisa membayar tagihan kost ini selama 1 tahun!” lanjut Kaasan senang.

“Yeeey~!!! Yuma Yuma! Arigatou~~! Berhasil! Berhasil! We did!” Chinen melonjak-lonjak kegirangan seperti Dora the explorer.

“Sekarang tinggal menunggu Keito niichan..”

***

“Yuuuhuuy~!!! Kita menang! Kita menang!” teriak Hikaru

“Yuyaaa gendoong~!!” Secara tiba-tiba Hikaru melompat ke arah Yuya. Sontak membuat Yuya kaget.

“Uwagh! Hikaruuu!! Ternyata kau beraat juga!” Yuya tak sanggup menahan Hikaru.

“Hehe.. Hebat kan? Siapa dulu dong yang kasih nama~ Inoo!” balas Inoo bangga.

“Tapi nama kelompok yang lain itu canggih-canggih.. 8B-31, Scwartz A111, lah kita? Masih ingat saat dipanggil dewan juri tadi?” Keito mengingat-ngingat momen tadi.

“Inilah Diaa!! Kita panggilkan! Roboooott… Danboooo!! Jreng jengjengjeng… Traktakdumdum.. Karya Inoo-sama yang pintar selangiiit, wuehehehe”
“Jiah.. Ga gitu-gitu juga kale.. Sejak kapan Inoo kena virus 4L 4Y? ” balas Keito (nb: untuk memperjelas, silahkan dihilangkan spasi antara 4L dan 4Y)

 “Ya ngopi dulu lah.. Sluurppt” sahut Yuya yang semakin ga jelas.

“Eeeh?? Kayaknya enak, dapet dari mana kopinya?” tanya Inoo.

“Dari warung Maju Mandur.. Tuh disana” jawab Yuya sambil menunjuk arah yang tak jelas.

“Mana Yuya?? Perasaan disekitar jalan ini nggak ada warung..”

“Ya kan warung nya maju mundur… Tadi ada di depanmu eehh.. kamu lihatnya ke belakang, waktu di belakang, eeh kamu lihatnya kedepan..” Yuya menjelaskan.

“Kalau gitu seerrrbuu kopinya!!!” pimpin Hikaru

Ciiiat ciiiiaat ..!! “Uwaaah, tidaaak kopikuuuu~”


Sementara itu..

“Ayo, semuanya.. Balonnya pasang disini.. Iya iya! Spanduknya disana!” kata Yama

“Chii, kue nya kutaruh disini ya!” Ryu mengingatkan.

“Ryu! Bantu aku membetulkan spanduknya!” pinta Daiki.

“Hei, hei! Awas yang dibawaaahh!!” Gubrak! Yabu jatuh dari tangga.

          Yuma dan Yuto pergi membeli beberapa terompet. Semua teman sekelas Keito mengadakan pesta penyambutan di rumahnya. Yama juga mengajak Yuto, serta Ryu, anak dari RT sebelah, dan Chinen mengajak Yuma.
“Hai Yama.. Maaf, apakah aku telat?” sapa seorang gadis yang datang dengan langkah terhengah-hengah.

“Mirai?? Ternyata kau datang juga!” jawab Yama senang sambil berjalan mendekatinya.

“Ya tentu saja, aku tidak ingin melewatkan pesta kesenangan ini!” katanya lembut.

“Jadi.. bisaku mulai sekarang??” lanjutnya.

“Tentu! Silahkan masuk, ruangannya berada tepat disebelah ruang keluarga, kaasan sudah menunggumu disana”

“Yosh~! I will do my best!” setelah mengucapkan kalimat itu,  ia segera berlari kedalam. Tak lama kemudian, rumah keluarga Ryosuke diselimuti oleh aroma sedap mengundang lapar..

***

 “Hikaruu.. Tidak adakah alat yang bisa mempercepat kita sampai? Capek nih” keluh Yuya.

“Wah sayangnya ga ada.. Portal ajaibnya rusak karena kelebihan muatan.. Maksimal beban 120 kg, tapi karena kita bawa tas beratnya jadi 1000 kg.. Atau mungkin kitanya yang keberatan ya..?”

“Yah.. Kalau tahu seperti itu mendingan dari awal pakai pintu kemana saja, kan tidak ada maksimal beban.. Kaya naik lift aja ada beban-bebannya..” komentar Inoo

“Iya nih Hikaru payah ah..” sambung Yuya yang langsung dilempar bom oleh Hikaru.  (?)

“E.. eh, aku tahu! Kita minta tumpangan ke Shaun the sheep aja yuk” tawar Hikaru mengeluarkan ide cemerlangnya

“Ya ampun kalian.. rumahku kan tinggal 5 langkah lagi.. Jangan rempong lah cin~”

“Mau istirahat sebentar dirumahku?” tanya Keito.

“Hmm.. mungkin tidak, aku akan langsung pulang saja”

“Astaga..  Demi celana panjang kotak-kotak.. rumahku kan disamping rumahmu Keito!” teriak Inoo menyadarkan Keito.

“Eh oh iya ding, hehe gomen lupa” Keito nyengir.

          Keito memandang Hikaru dan Yuya.

“Tidak, aku akan langsung pulang saja” jawab Yuya

“Tidak, aku akan langsung pulang saja” jawab Hikaru sama

“Hikaru kenapa ikut-ikutan!”

“Mang Jajang jual ikan teri, Dimasaknya pakai terasi..” Hikaru nge-pantun.
“Artinya Hika..?”

“Ga papa lagi.. Kita kan sehatii..” Hikaru kedip-kedip. Yang lainnya gubrak + pingsan.

“Ya sudah ya, jaaaaa ne, bai bai..” Keito melambaikan tangan, berusaha membangunkan kedua temannya yang lain dari mimpi buruk.

          Keito memasuki rumahnya.

“Lho, kok sepi? Gelap lagi, kemana Yama dan Chii?” Ketika ia menyalakan lampu…

DOR! Preeeeeet!!!!

“SELAMAT DATANG KEIITOOO!!!!!” teriak semuanya.

“Kalian.. Kalian membuat semua ini untukku??” Keito terharu.

“Hohoho.. Yap! Dan untuk Trio Ceking juga.. Ngomong-ngomong kemana mereka?”

“Daikii!!” Keito langsung memeluk sahabatnya. “Wah, sayangnya mereka sudah pulang”

“Hahaha.. Itu lebih baik.. Sekarang jatah makanannya bertambah!” sambung Yabu yang muncul dari dalam lemari.

“Niichan! Niichan dapat juara kah??” teriak Yama dan Chii.

“Iya! Kabar gembiranya adalah SEKOLAH KITA JUARA DUAA!!!”

“Wuuuhuuu~ Yatta!!” sahut YamaChii senang dan berpelukan seperti teletubies.

“Ha? Sekolah kita juara duaa??!!! Wah, aku kira mereka hanya pintar buat ulah.. Sugoi sugoi” kagum  Ryuu.

“Yama.. Kaasan sudah pulang?” tanya Keito.

“Ya! Tentu saja!” tiba-tiba Kaasan keluar dari ruang keluarga.

“Kaasan!” Keito berlari dan langsung memeluk ibunya tercinta.

“Kaasan, hadiah robot itu lumayan besar! Aku sudah membaginya dengan yang lain, ini kuberikan semua pada Kaasan..”

          Kaasan menerimanya, lalu menghitungnya.

“Keito, bila ini digabungkan dengan gaji Kaasan, kita bisa membeli rumah baru!”

“Apa? Rumah baru?! Yipppiiii~!!!” teriak Chinen. Keito seolah tak percaya, begitu pula dengan Yama. Keito merasa sangat senang, karena dirinya dapat membantu keluarga. Mereka berempat lalu terhanyut dalam pelukan yang penuh dengan rasa gembira.

“Nah teman-teman, sekarang saatnya kita memulai PESTA!” teriak Daiki memberi aba-aba

BRAK! Pintu terdorong dengan keras.

“HALLO SEMUANYA!! HIKARU CS AKAN BERGABUNG DALAM PESTA KALIAN!!”
Doeng. Semuanya tercengang.

‘Ternyata datang juga..’  batin semua orang disana.

“Minna! Kita mulai pestanya!” Yama mengulangi. Musik dinyalakan, semua orang mencicipi hidangan ala Kaasan dan Mirai. Semuanya tersenyum bahagia, tak terkecuali Yama, Keito, dan Chinen. Sebuah mimpi memiliki rumah baru.

“Yuma, Yuto.. Lihat sini deh” panggil Ryu.

PLEK!

“Ryuuuu!!!!!” teriak mereka spontan dan langsung mengejarnya sampai ke bawah meja dan sela-sela lemari (?). Ternyata Ryu melemparkan potongan kue ke arah mereka semua. *nb : Jangan ditiru ya! Ingat nasihat author ._.*

“Hei, hei minna~ Aku datang~!!” teriak seseorang dari balik pintu. Semua mata tertuju padanya.

“Jiah, author kok ikut-ikutan!” protes Daiki.

“Hohoho, tidak apa-apa.. Nggak ada saya ga rameee =Dv” *dilempar potongan kue.

“Semuanya!! Lihat aku!!” teriak Ryu ditengah-tengah ruangan.

PLEK PLEK PLEK PLEK!!

“RYUUUUU!!!” sekarang ada event baru

“Siapa yang bias tangkap anak kecil itu, dapat bonus liburan ke Hawai!!!” teriak Yuma.

Siapa yang tidak mau? Ryu kini dalam bahaya

“Huwwooooooo Ryuuuu!!!!!”


~THE END~


Ah, akhirnya selesai juga , fiuh ^^”

Hikaru : “Author! Kok aku dapat peran yang paling ga enak”, Author: “Apaan lagi sih? ==a”, Hikaru : “Masa aku harus utang ikan asin.. yang kerenan dikit lah”, Author : “Sudahlah, semua sudah berlalu xD”

***A/N :     Karena Yuto, Yama dapat merasakan pahit manisnya dalam persahabatan. Karena Yuma, Chinen telah mempelajari sesuatu yang penting, bahwa apabila kita melindungi orang lain, kita akan menjadi kuat. Dan karena teman-temannya pula.. Keito dapat mengubah jalan hidup keluarganya..

Baiklah, akhir kata, maafkan saya bila ada kata-kata yang salah, atau ketidakpuasan readers, terutama bila ada yang tidak suka karena author ikut-ikutan, ya author juga mau ikut ambil bagian xDv *piss

Oh iya terakhir, harapan penulis : Semoga Hey!Say!JUMP bisa terus sukses, dan semakin bersinar! Terutama Yamada Ryosuke yang akanberulang tahun! Karenamu fanfic ini ada ^^ dan terakhir semoga HSJ bisa konser di Indooo!! Yeah! ;D

Domo arigatou, and Sayonaraa!! 



[Series] TIMELESS (ALL BECAUSE OF MY FRIEND) Part 4/5



Sebelumnya : “Tu..tunggu Yuma, kau bisa terluka” ” Yuto.. Maafkan aku
.
.
          Chinen segera berlari, tak peduli dengan kondisi sepedanya yang tergeletak ditanah.

“Yuuma!!!”

“Yuma, sudah cukup.. Kau tidak perlu bertindak sampai sejauh ini!” Chinen membantu Yuma berdiri, nampaknya sebuah pukulan yang sangat keras telah melayang diwajahnya.

“Yuma, kau tidak apa-apa kan?”

Tidak ada respon dari Yuma.

 “Ayo lebih baik kita pulang kawan..”

‘Chinen.. Maaf’

***

          Hari mulai senja. Matahari mulai menyembunyikan diri di balik indahnya selimut kapas oranye. Walaupun demikian, Yama masih berada di sekolah, merapikan sisa-sisa peralatan karya ilmiahnya dengan Yuto.

          Ketika Yama melewati koridor, berdiri seorang laki-laki, sedang memandangi gelapnya taman sekolah. Bertubuh tinggi, menggunakan jas sekolah serta syal yang menghangatkan bagian lehernya.

‘Aku kira dia sudah pulang duluan..’

Dengan ragu-ragu ia memanggil. “Yu.. yuto?”

“Oh.. Yama”

“Apa yang kau lakukan disini? Kau belum pulang?”

“Males ah.. Disini masih ada angin malam yang setia menemaniku” ucap Yuto dingin.

“Yu.. yuto, sebenarnya aku ingin meminta maaf atas kejadian tadi..”

“Oh” jawab Yuto singkat

“Jadi... maafkan aku ya” kata Yama sambil mengulurkan tangannya disertai senyuman yang manis. “Teman?”

Yuto menatap Yama sinis “Teman? Huh..”

“Kita bukan teman..”

DEG!

“Tapi, bukannya aku sudah meminta maaf, Yuto.??”

“Ya, tapi aku belum mau memaafkanmu.. Sebenarnya tidak hanya kejadian tadi siang, tapi ada sesuatu yang juga membuatku iri padamu”

“Iri..? Apa yang kau iri kan dari ku Yuto? “ tanya Yama bingung. Bayangkan saja, apa yang di iri kan oleh Yuto, salah satu temanku yang terkaya, bisa makan enak, dan tinggal dirumah yang nyaman.. Kehidupannya sangat sempurna! Terhadapku.. yang biasa saja ini??

Yuto memandangi Yama lekat-lekat. “Sensei lebih sering memperhatikanmu”

Deg! Perkataan Yuto membuat Yama shock.

“Jadi, hanya karna itu kau membenciku?” Yama seolah tak percaya.
“Kau tidak tahu, kalau sensei itu sebenarnya adalah pamanku! Kakak dari ibuku sendiri! Tapi, kenapa ia lebih sering memperhatikan orang lain? Dibandingkan keponakannya sendiri..”

 “Sekarang kau mengerti kan perasaanku? “ setelah mengucapkan itu semua, Yuto pergi meninggalkan Yama.

          Yama bergegas keluar dari sekolah. Kini perasaannya kacau, Yuto merupakan sahabat dan orang pertama yang ditemuinya disekolah ini, dan.. selama ini ia membenciku? Apakah semua kebaikan yang diberikan Yuto padaku hanyalah sebuah kebohongan? Tidak! Tidak mungkin. Yama berusaha menghilangkan pikiran buruknya.

          Di seberang jalan, tepatnya di pinggir sebuah sungai ia menangis. Sambil melempar-lempari sungai itu dengan kerikil, ia memikirkan Yuto.
“Yama!” tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Membangunkannya dari segala lamunannya.

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Oh, Oniichan.. Kalau oniichan sendiri sedang apa malam-malam begini?”

“Karena Kaasan tidak ada, jadi aku membeli beberapa mie instan untuk kita bertiga..

“Aku mencarimu dari tadi”

Tes.. tes.. tes

“Wah, turun hujan! Ayo Yama, nanti kau basah kuyup!”  ajak Keito sambil menutupi kepalanya dengan jaket dan menarik tangan Yama.

Yama berusaha tersenyum, “Hai.. Oniichan..”

***

Keesokan harinya…

 ayo cepat angkat semuanya..!

          Suara keributan telah membangunkan Yuma. Semalam ia menginap dirumah Chinen. Ia juga khawatir apabila Chinen benar-benar akan digusur keesokan harinya, ia takut tak sempat melihat wajah sahabatnya itu..

          Dan.. semua yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Orang ‘itu’,  Sado membawa beberapa rombongan.. Yang siap sedia untuk segera mengeluarkan barang-barang keluarga Ryosuke keluar. Nampak Keito, Chinen dan Yama berdiri.

Yuma berlari dengan langkah gemetar kearah Keito.

“KEITO! Mengapa diam saja?! Tak lihatkah kondisi tempat tinggalmu sekarang?! Hampir seluruh ruangannya telah KOSONG!”

          Keito tak merespon. Seakan dia juga telah pasrah menerima semua ini. Yuma lantas menuju kearah Chinen.

“Chinen! Yama! Coba lihat aku.!” Hal yang sama terjadi, mereka berdua terus menundukkan kepala.

“Baiklah! Keluarkan SEMUA barangnya sekarang!!”

          Hosh! Dada Yuma seperti diikat kencang. ‘Tak adakah cara yang bisa ia lakukan?!!’

“UUUUAAARGH!!!”

“Hei, apa yang kau lakukan?!!” teriak salah seorang pemindah barang itu.
“Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu mengosongkan rumah ini! Ibu mereka sedang tidak ada! Paling tidak tunggu sampai ibu mereka kembali!!!”

          Chinen takjub melihat kegigihan Yuma. Dan ditengah perdebatan itu, tiba-tiba..

PRAK!

          Sebuah foto keluarga jatuh dari laci yang dibawa pria tersebut. Mengakibatkan kaca bingkainya pecah.

“I.. inikan..”

          Sado melangkah mendekati bingkai itu. Fotonya hampir tak terlihat karena retakan kaca. Tetapi ada sesuatu yang familiar..
“Kou?!”

          Yama kaget. Begitu pula dengan Keito dan Chinen.

“Kou..?! Kou..!! Dimana Kou sekarang?!!” tiba-tiba saja Sado mendekati Keito.
“Di.. dia.. Dia adalah ayah kami, yang sudah meninggal 2 tahun yang lalu..”
“Apa?!” Sado menitikkan air mata. Mereka semua, termasuk Yuma, Chinen, Yama, dan Keito bingung melihat reaksi Sado. Hubungan apa yang ada diantara ayahnya dengan Sado selama ini??

          Dan Sado akhirnya menceritakan semuanya.. Kejadian tepatnya 25 tahun yang lalu..

          Chinen, Yama, dan Keito seolah tak percaya. Menurutnya, Kou adalah sosok yang sangat baik dan ramah.. Ia tak menyangka bahwa Kou akan berpulang secepat ini. Terlebih, Sado belum sempat mengucapkan terimakasih.

“Keito.. Chinen.. dan Yama.. Kalian boleh tinggal disini lebih lama lagi.. Bahkan bila mau, rumah ini boleh menjadi milik kalian..” ucap Sado yang membuat semuanya menganggap bahwa ini hanyalah sebatas mimpi, ya tepatnya sebuah Keajaiban!

Kou..”

          Para pasukan Sado segera mengangkut barang-barang kembali kedalam rumah. Sebelum Sado pergi, ia meminta alamat dimana keberadaan makam Kou, dan meminta maaf yang sebesar-besarnya. Karena kebaikan ayah mereka di masa lalu lah.. yang telah menyelamatkan mereka.

“Otoosan.. Arigatou..” ucap Chinen dan Yama dalam hati.

“Keajaiban ada dimana-mana.. Miracle happen!” gumam Keito dan Yuma.

***

Wuuuzzz.. Chinen memarkirkan sepedanya di dekat sungai. Setelah kejadian tadi, ia bermain seharian dengan Yuma hingga tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 5 sore. Lalu, Ia bersender pada salah satu tiang di dekat sana.

“Akhirnya, waktu ku diperpanjang juga!” sorak Chinen senang. “Terimakasih ya kawan..” lanjutnya lagi.

“Yah.. Tidak apa-apa Chii..”

“Aku tak menyangka.. Bahwa ayahmu adalah teman Sado sewaktu SMP dan pernah menolongnya saat ia terperosot kedalam jurang” kata Yuma mengingat pengalaman buruk Sado.

“Iya.. Saat itu ayahku dan yang lain sedang melakukan penjelajahan kedalam hutan.. Mungkin sebab itu ia selalu melarangku untuk masuk-masuk kedalam hutan di dekat gunung Fuji sana.. Padahal aku kan hanya ingin mencari burungku yang hilang! Huwaaaaa Tonari~!!”

“Bagaimana ya.. rasanya bila kita ‘benar-benar’ jatuh kedalam jurang.. Sado saja setelah ditolong ayahmu langsung pingsan.. Untung selamat, lah kalau pingsan duluan seelum ditolong?? HIII…. Celem”

          Yuma bergidik. Chinen hanya geleng-geleng kepala.

“Sado langsung pindah ke Tokyo.. Tanpa sempat mengungkapkan rasa terimakasihnya..”

 “Hmm.. dan sepertinya kita berhasil..” kata Yuma memulai pembicaraan.

“Ya.. kau benar” balas Chinen yang mulai menatap Yuma. Yuma juga menatap Chinen, lalu keduanya tersenyum. “Best Friend..?”

“Best Friend!” Yuma mengaitkan kelingkingnya di kelingking Chinen. Keduanya bertatapan dan mengembangkan senyuman yang manis. Tanpa mereka ketahui, ada seseorang yang memperhatikan mereka dari kejauhan..

“Yah, hujan..” Chinen menatap gelapnya awan.

Kring kring!

“Heeeee????”

“Chinen! Ayo!” ajak Yuma yang ternyata sudah nemplok di sepeda Chinen, dan bersiap mengeluarkan gas turbo. Mereka berdua menaiki sepeda bersama di tengah gerimis yang menyapu jalan.

“Sebentar lagi akan sampai di rumahku.. Kau mau istirahat dulu??” tawar Yuma.

“Tidak, terimakasih. Aku akan langsung pulang saja”

***

Brak!

“Hnn…” Chinen menjatuhkan dirinya diatas kasur.

“Huuooooiiiiii, Chinen! Mie rebusnya kenapa tidak kau angkat???!!!” teriak Yama dari dapur.

“Oh oiya ASTAGA! Neeee, maafkan aku niichann!!” Chinen langsung berdiri dari kasur. Entah, badannya terasa remeg setelah berpetualang seharian.

“Yamadaaaa!!!!! Air kamar mandi kenapa tidak dimatikan??!!” teriak Keito yang ternyata belum mandi dari tadi pagi.

“Uwah, ampuuunnn Keito niiichann!!! E-etto.. Keito niichan belum mandi seharian??”  tanya Yama dengan innoncent face nya. Sambil memutar kepalanya 60° ke arah kanan.


Trio Ceking’s POV…

“Ya ampun.. Keito tadi paling wangiiiii ..” komentar Inoo.

“Widih, kalah deh Yuya..” timpal Hikaru

“Hei.. Khusus hari ini aku mandi dulu lho!” jawab Yuya sambil mengangkat kerah bajunya.

“Pakai sabun nggak??” tanya Inoo seraya mendekati Yuya.

“Ya iyalah.. tadi aku pinjam sabunnya mpok Inem.. Weeek” Yuya pun melet ke Inoo

Bletak! Tak! Tak! Tiba-tiba Keito muncul dibelakang mereka lengkap dengan handuk serta pasta gigi.

“Aduduh.. Kepalaku sakit” kata Hikaru meringis

“Kan sudah tahu.. Kalau aku bisa dimana saja weeeek.. Sudah ya, aku mau pedicure menicureee dulu.. Daaa~” Keito-pun menghilang.

“Wah, author curang nih.. Kok Keito bisa dimana saja..” protes Hikaru.

“Yeeee, Keito kan berteman dengan Doraemon.. Kalau mau, berteman saja sana  sama Doraemon, nanti dikasih pintu ajaib deh, week” Author melet ke Hika :p

“Ide yang bagus! Nanti aku akan cari Doraemon!”

#Gubrak!! Author, Inoo, Yuya headbang ==

***

“Itadakimasu!!” kata Yama lalu segera menyantap mie instannya.

“Haii!! Itadakimasu!” susul Keito dan Chii kompak.

♪Saa yume mimashou suteki na koto, saa yume mimashou itsumademo♪

“Haduuh, ini siapa yang nelpon.. Ganggu orang lagi makan aja..” gumam Keito seraya merogoh saku celananya.

“Moshi-moshi?”

“KEIIITOOOOO!!!!!!!”

#GUBRAK! Keito sampai jatuh dari kursi karena kerasnya suara penelpon..

“Apaan sih?! Aku lagi makan nih! Ada apa menelponku malam-malam begini? Kok hebohnya selangit..” jawab Keito sweatdrop

“Keito, Keito, Keito…!!”

“Iya, iya ada apa?!!” Keito habis kesabaran.

“Kita menang ke OSAKA!!!! Yuhuui~”

“UAPA?!!! Robot kita ‘Danbo’ yang kotak-kotak coklat bin mini bin minimalis itu masuk final??!!”

“Iya! Barusan sensei menelponkuu!!”

“YATTA~!! E..eh, tapi…. yang nelpon ini siapa ya?” tanya Keito polos.

Krik krik krik…

“Ha.. hallooo~? Ma.. Maksudku, ini Yuya, Hika, atau Inoo , yah?”

“Ini kan aku Inoo, Keito!!! Apakah kau tidak tanda suaraku yang lembut ini..” jawab Inoo melas

“Iya, iya aku tahu sekarang.. Sudah, itu saja? Oke, jaaa ne”

Tut— Keito pun mematikan ponselnya. Inoo hanya diam saja memandangi  ponselnya disebrang sana.

“Yama! Chiii!!! Robot niichan dan Trio Ceking masuk finaaal!!!!!” teriak Keito gembira sambil memeluk kedua adiknya yang imut. Sampai-sampai Yama dan Chii kehabisan nafas.

“I.. itu artinya.. Niichan akan pergi juga..?” tanya Yama

Keito melepaskan pelukannya. Seketika raut wajah Keito berubah menjadi sedih. Keito diam saja.

“Kapan oniichan pulang..?”

“Entahlah.. Mungkin 1 bulan lagi..”

          Yama menunduk. Ia semakin sedih karena oniichan kesayangannya juga harus pergi meninggalkannya. Begitu pula dengan Chinen. Keito tidak dapat melakukan apa-apa. Semua terasa sudah seperti diatur.. Kepergian Kaasan, dan sekarang Keito niichan..

Esoknya.. Senin23 Juni, 2013

          Yama dan Chinen sudah menunggu di depan rumah, melepas kepergian sang kakak. Inoo, Yuya, dan Hikaru juga sudah tiba. Mereka berencana pergi ke stasiun bersama-sama.

          Keito mengenakan jaket tebalnya, syal, serta sarung tangan karena cuaca hari ini begitu dingin. Sesaat, Keito memandangi foto Kaasan yang ada di atas laci.

“Kaasan..”

“Keito niichan! Semua sudah menunggu!” panggil Yama dari luar.

“Ya!” Keito segera melangkahkan kakinya. Terlihat Hikaru dan yang lain sudah menunggu dengan bawaan mereka masing-masing. Keito sendiri hanya membawa sebuah tas ransel.

“Jadi, kita berangkat sekarang..?” tanya Keito.

“Tunggu dulu.. Kita takkan naik kereta hari ini” jawab Hikaru dengan senyum mengembang.

“Haaa?? Terus kita naik apa? Becak? Jalan kaki?? Osaka itu jauuuuuh bro” komentar Yuya.

“Sekarang kita naik Portal ajaiib!!! Daripada naik kereta, berat di ongkoss.. Aku kan sudah berteman dengan doraemon! Heehe..”

“Ternyata ada juga yang percaya sama kata-kata author ya.. Nggak pakai pintu ajaib aja nih?” tanya Yuya sweatdrop

“Iiih, itu kan sudah lamaa.. Sekarang pakai keluaran terbaruuu.. Yaitu Portal ajaib!!”

          Hikaru segera menyalakan alat barunya. “Nah, semuanya ayo cepat naik!! Dalam hitungan 0 detik kita akan sampai di Osaka..”

          Yuya dan Inoo menuruti permainan Hikaru, dan mereka segera masuk ke Portal Ajaib (?) XD

“Nah, kalian hati-hati ya, jaga rumah baik-baik..” Keito mengucapkan kata-kata perpisahannya.

“Ya, oniichan juga..” balas Yama

“Niichan jangan lupa mandi ya!” tambah Chinen.

“Huuus..” Keito malu kejadian kemarin diungkit-ungkit.

“Oh, tu..tunggu Oniichan!” Keito menghentikan langkahnya. “ Omedetto! Sukses ya niichan!” ucap Yama. Keito tersenyum.

“Hai.. Arigatou..” balasnya singkat, lalu segera pergi meninggalkan mereka berdua.

“Okey! Teleport to Osaka!!!” teriak Hikaru yang nge-inggris. Semua melambaikan tangannya, dan .. Ziiiiing—

Kini Keito dan teman-temannya sudah pergi untuk berjuang. Tinggallah Yama dan Chinen seorang diri. “Ayo Chinen, kita harus membereskan rumah..”
“O..oh, iya, chotto matte Yama niichan!” Chinen segera mengikuti langkah Yama yang menuju kedalam rumah..


To be continue