NOTE: Reader, before you browsing to reading please make sure you read fanfiction in here according to your age. If you not yet 17 yo, we suggest you to read fanfiction with rating G, PG-13, PG-15. Rating NC-17 and NC-21 just for addult. Please follow this rule shake your self!

Tuesday, February 5, 2013

[Oneshot] I Wish I Can Love You More


Title: I Wish I Can Love You More

Author: JwHarai
Link of Author: TWITTER @JwHarai or jwharai.livejournal.com
Rating: PG-15
Genre: Romance
Lenght: Oneshot
Cast:Yamada Ryosuke (Hey! Say! JUMP)
           Yamada Kanon (OC)
           Hashimoto Ryo as Yamada Ryo (Johnny's Jr)




Disclaimer: I own the plot, and mentally own the casts :D

Summary: aku sangat mencintainya dan juga anakku, tapi kenapa dia seperti tak menginginkan kami?



*



"Nee Papa kapan Mama pulang?" Ujar Anak tunggalku, Ryo saat aku memasak makanan kesukaannya, Spaghetti.

Pertanyaannya setiap malam yang membuatku selalu terpaku sejenak.
Aku mengalihkan pandanganku dari masakanku.
Aku berlutut untuk menyejajarkan tinggiku dengan Ryo.

"My son, Mama sedang berlibur ke luar negri dan sekarang sedang berada di italia, jadi bersabarlah sedikit lagi karena sebentar lagi dia akan pulang dan membawa oleh-oleh" kataku sambil mengusap lembut rambutnya lalu memfokuskan mataku pada spagetti yang sedang kumasak.

Ryo hanya diam, dulu dia selalu menangis karena Mamanya tak kunjung pulang, tapi sekarang dia mencoba mengerti karena iming-imingan yang kukatakan bahwa dia akan menerima oleh-oleh.
Usai makan aku menidurkannya, sambil menepuk-nepuk punggungnya dengan pelan aku berfikir.

Aku rindu istriku.

--

Esok pagi kutitipkan Ryo kerumah okaa-san.

"Nee, Ryo jangan nakal dan jaga Obaa-san. Papa akan menjemputmu nanti malam, Papa akan mengambil kiriman Mama dari Brazil" kataku sambil menurunkan Ryo dari gendonganku.

"Ryo, kamu masuk kedalam dulu.. Oba-san mau bicara dengan Papa" kata Kaa-san.

"Roger" ujar Ryo dengan senyum, lalu masuk dan berlari menaiki tangga rumah.

"Ryosuke" kata Kaa-san membuatku mengalihkan pandanganku dari Ryo.

"Ehm?"

"Kapan kau akan jujur pada Ryo-chan? Kau selalu mengatakan bahwa ibunya pergi liburan dan membiarkan dia terus mempercayainya. Aku takut dia tidak bisa menerima keadaan sebenarnya bila kau selalu menutupinya. Sebaiknya kau katakan yang sebenarnya dan biarkan dia tahu segalanya" ujar Kaa-san.

Aku terdiam sejenak mendengarnya.

"Sebentar lagi, sampai Ryo cukup dewasa untuk mengetahuinya"

"Bagaimanapun dia sudah 6 tahun, itu sudah cukup dewasa menurutku. Sudah 2 tahun berlalu sejak dia terakhir kali bertemu dengan Kanon-chan"

"Haii" ujarku singkat kemudian pamit dari hadapannya.

Aku berjalan menyusuri Shibuya, seingatku ada toko olahraga yang menjual baju bola dari Brazil disekitar sini.

Begitu menemukannya aku langsung membelikan beberapa barang yang diimpor langsung dari Brazil, penghasilanku sebagai koki di restoran bintang 3 mendukung segala kebohonganku.

Aku tak pernah memikirkan uang bila itu membuat Ryo melupakan ibunya sejenak.

Sambil berjalan ke kasir kulirik ponselku yang bergetar.

"Nee, moshi-moshi.. Okaa-san?" Kataku lalu menyelipkan ponselku diantara bahu dan pipi kananku.

"189000 yen" ujar sang kasir.

"Ryosuke, kau ini ayah macam apa sampai.." Kemudian suara kaa-san disusul dengan bunyi 'tuut.. tuut.. tuut'

"Eh?" Ujarku sambil melihat lahar ponsel putihku.

--

Kulangkahkan kakiku menuju ruang yang biasa kudatangi tiap akhir pekan.

"Ohayou gozaimasu lady" ucapku sambil mempersembahkan senyuman terindah yang bisa kuberikan sekarang.

Tapi tetap saja wanita didepanku diam sambil memeluk kakinya.

Ku buka curtain putih yang menghalangi cahaya matahari masuk keruangan ini.

"Kau sudah makan?" Tanyaku.

Dan tak ada jawaban.

Kulirik jam tangan dipergelangan tangan kananku.

Bertepatan dengan itu seorang wanita memasuki ruangan ini dengan seragamnya.

Dengan senyum ramahnya dia mencoba memberi salam kepadaku.

"Biar aku saja yang memberinya makan" kataku sambil mengambil alih makanan yang dibawanya.

"Ah, onegaishimasu" katanya lalu berjalan keluar.

Kusulang 1 sendok makanan kemulutnya yang terbuka perlahan.

"Kau semakin hari semakin kurus, pasti kau tidak mau makan" ujarku.

"Tapi kau tetap cantik" kataku lagi.

Membuatnya tersipu malu menyembunyikan wajahnya kelututnya.

"Apalagi kalau kau sedang malu" kataku tak puas menggodanya.

"Tapi kau akan lebih cantik kalau tak sekurus ini, pokoknya kau harus makan"

Dia mengangguk pelan.

Kusuap sesendok demi sesendok makanan kemulutnya.

"Kukupas yah" kataku sambil memegang sebuah apel setelah ia habiskan makanannya.

Dia diam saja tapi tampak pipinya terangkat sedikit.

Kutatap matanya yang menatap kosong kearah seprei tempat tidurnya.

"Nee Kanon, anak kita mencarimu lagi" ujarku padanya, istriku.

Kulihat wajahnya berubah menjadi pucat.

Dia mulai bisa menahan emosinya, dulu kalau aku membawa topik ini dia langsung meraung dan membabi buta.

Tapi aku tak mau dia sedih sampai aku pulang, kuubah topik pembicaraan kami.

"Kau mau keluar?" Tawarku.

Dia mengangguk pelan walau keningnya masih berkerut.

Kugendong dia dari tempat tidurnya menuju kursi roda yang selalu berdiam diri dipojokan ruangan ini.


--
Author POV
--

Didorongnya kursi roda yang dinaiki wanita berusia 22 tahun itu dengan hati-hati.
Sepanjang perjalanan menuju taman, mereka terlibat pembicaraan satu arah dimana sang pembicara menjawab sendiri pertanyaan yang dia lontarkan sendiri.

--


Usai menghabiskan waktu dengan wanita yang dicintainya dia kembali kerumah orang tuanya.

Dimasukinya pintu rumah melihat imouto dan anekinya yang sedang menonton dorama sabtu.

"Ryo.. Dimana?" Tanyanya pada ibunya yang kelihatan dibalik sofa.

"Dia sudah tidur" ujar sang ibu setengah berbisik.

Dilihatnya anaknya tertidur pulas dengan pukulan-pukulan ringan neneknya dibokongnya.

"Tadi kaa-san menelponku, ada apa?"

Pandangan ibunya berubah sinis.

"Kalau bukan Ryo-chan yang memintaku, aku pasti sudah memarahimu" ujarnya.

Wajah baka Ryosuke terlihat.

"Baiklah, aku harus kembali ke apartemen" ujarnya lalu menggendong anaknya perlahan.

Ibunya mengantarnya sampai depan rumah.

"Kaa-san beritahu kau sekali lagi, sebaiknya beritahu dia soal ibunya, kita tak mau semuanya terlambat." Ujar ibunya itu dengan tatapan sayu menatap cucunya.

Kata-kata Kaa-san itu memenuhi pikiran Ryosuke sepanjang perjalanan.

Sampai akhirnya di kamar, setelah direbahkannya tubuh Ryo dia mendengar igauan lemah dari sang anak.

"Mama"

Dibulatkannya tekat untuk membawa sang anak kepada istrinya, toh wanita itu sudah bisa menahan emosinya.

--

Minggu pagi.

Ryosuke membangunkan anaknya dengan paksa.

"Papa akan beri kejutan padamu" katanya.

Mau tak mau anak berusia 6 tahun itu bersiap juga menanti kejutan yang akan diberikan ayahnya.

Tapi wajah penasarannya berubah menjadi heran saat mengetahui dirinya berada di depan Rumah Sakit di pinggiran kota.

"Ayo masuk" ujar sang Papa sambil menggenggam tangan anaknya itu.

Sebelum masuk kedalam ruangan Kanon, mereka berpapasan dengan seorang suster yang baru keluar dari ruangan itu.

"Ah, Yamada-san, istri anda masih tertidur, di sana saya sudah letakkan sarapannya." Ujar sang suster sambil pamit pergi.

Ryosuke dan Ryo memasuki ruangan itu.

Dengan sigap Ryosuke membuka curtain putih yang menghalangi sinar mentari.

Ryo hanya terpaku melihat Mama-nya yang tertidur pulas di atas tempat tidur pasien.

Tapi sedetik kemudian dia langsung berlari menuju tempat tidur yang setinggi bahunya itu.

"Mama.. Mama.. Ini Ryo ma, mama kenapa di sini ma? Kenapa Mama tak langsung pulang ke rumah?" Tanyanya pada Kanon yang masih tertidur.

Karena goncangan yang dibuat anaknya Kanon terbangun, namun bukan pelukan yang diterima Ryo, melainkan hempasan kencang dari tangan ibunya hingga dia terjatuh.

Kanon menangis.

Dia terlihat pucat dan panik.

Terlebih lagi Ryo yang tak mengerti.

Dia terdiam, tapi tanpa sadar air ‎mata mengaliri pipinya.

Rasa sakit hatinya lebih besar daripada rasa sakit akibat terjatuh.

Ryosuke yang melihat kejadian itu langsung menopang Ryo untuk berdiri.

"Ryo, keluarlah, Papa mau bicara dengan Mama" ujarnya yang dijawab oleh anggukan oleh Ryo.

Ryo segera berlari keluar dari ruangan ini.

Ryosuke menatap kepergian Ryo.

Setelah yakin Ryo tak didekat mereka dipeluknya istrinya yang meraung-raung itu.

Pelukan Ryosuke mampu meredam tenaga Kanon yang membuat semua barang yang didekatnya terjatuh.

"Dia bukan anak kita!" Teriaknya.

"Dia anak kita Kanon! Dia Ryo! Lihat!!" Suara Ryosuke pun tak kalah kuat.

"Bukan! Dia bukan anakku! Aku tak pernah mengandung maupun melahirkannya!"

Ryosuke diam saja mendengarnya.

"Dia anak aneki ku yang sudah meninggal! Dia hanya aku angkat! Dia bukan anakku!! Dan bukan anakmu! Dia bukan anak kita!!!"

Ryosuke melepaskan pelukannya dan menampar Kanon.

"Jangan pernah bicara begitu tentang anak kita!" Ujarnya.

"Kau memang tak pernah mengandung maupun melahirkannya, tapi kau membesarkannya menjadi anak yang baik" suara Ryosuke terdengar serak diselingi oleh tangisannya.

Shock yang diterima Kanon akibat tamparan yang cukup keras membuatnya terdiam.

"Kau lihat dia? Dia tak marah waktu kau dorong sampai terjatuh, itu karena dia mencintaimu!"

"Mungkin kau tak cukup kuat menerima kenyataan kalau dia anakmu, tapi siapa yang dulunya dengan berani mengangkat anak, keponakanmu itu? Kau!"

Ryosuke hampir melanjutkan perkataannya sebelum dia mendengan tangisan Ryo dari luar.

Dia berlari menuju pintu dan dilihatnya Ryo sedang menangis disitu.

Mendengar segala pembicaraan Mama dan Papanya.

Ryosuke tak mampu menghadapi kenyataan, anaknya yang paling dia sayangi mengetahui bahwa dia bukanlah anak kandung Papa Mamanya.

Ryosuke hanya menangis di pintu yang membatasi ruangan ini dengan koridor.

Yang membatasi Ibu dan anak.

Semua hanya berjalan seperti itu.

Tak ada seorangpun yang tahu keadaan disini karena kamar ini memang kamar yang paling terpencil dari kamar-kamar lainnya.

Teriakan mereka tak mampu mencapai telinga seorangpun selain mereka.

Ryosuke menangis melihat anaknya menangis.

Sampai akhirnya.

"Ryo.." Panggilan lembut dari bibir Kanon mampu membuat air ‎mata Ryosuke dan Ryo berhenti mengalir.

Ryosuke melihat Ryo yang bangkit berdiri dari duduknya, mengintip Mamanya dari celah pintu.

Dilihatnya Mamanya tersenyum sambil membuka lebar tangannya.

Tanpa berfikir panjang Ryo berlari menuju sang ibu.

Ryosuke yang melihat Ryo kesusahan menaiki tempat tidur pasien segera menghapus air matanya dan mengangkat badan Ryo sampai dia mampu duduk ditempat yang sama dengan Mamanya.

"Ryo.. Gomenna.. Gomenna.. Gomenna.. Ryo.. Gomenna" hanya itu yang keluar dari mulut Kanon.

Dia memeluk anaknya itu sambil menangis.

Sesekali di kecupnya pipi dan kening Ryo, sambil menyelipkan kata "Gomenna"

Ryosuke yang setengah bingung dan setengah bahagia tak mau kehilangan kesempatan untuk memeluk mereka berdua.

Minggu pagi yang cerah mempersatukan keluarga yang retak.

Dan jadilah mereka menginap sampai esok pagi di rumah sakit.

"Mama.. Kapan mama pulang" tanya Ryo yang berada dalam dekapan Kanon esok paginya.

Terpaksa dia membolos hari ini dari sekolahnya.

Kanon tak menjawab hanya tersenyum sambil mengelus lembut rambut Ryo.

"Mama belum bisa pulang Ryo, mungkin sekitar 2-4 minggu lagi" ujar Ryosuke yang baru datang membawakan sarapan untuknya dan Ryo.

"Padahal Ryo ingin Mama mengantar Ryo kesekolah" ujar Ryo dengan wajah cemberut.

Kanon menatapnya sambil tersenyum kemudian mengecupnya geram.

"Sudah kalian berdua jangan bermesraan terus, membuatku iri saja." Ujar Ryosuke.

Baik Kanon maupun Ryo hanya tersenyum mengejek.


--

Selasa malam.

Ryosuke baru pulang dari menjenguk Kanon dengan Ryo.

Lagi-lagi Ryo tertidur pulas di dalam dekapan Kanon, hingga lagi-lagi Ryosuke harus menggendongnya dari mobil ke kamar.

Dibongkarnya tas Ryo untuk mengambil kotak bento yang mau dicucinya.

Tapi bukan hanya kotak bento yang didapat, tapi juga undangan kepada orang tua murid untuk besok pagi, Open House Day.

Dia menepuk keningnya mengingat telepon aneh dari ibunya beberapa hari lalu.


--


Usai mengantar Ryo kesekolah, buru-buru Yamada pergi ke Rumah Sakit untuk meminta izin membawa Kanon pergi dari sana.

Setelah sampai depan sekolah Ryo, digendongnya Kanon keatas kursi roda yang sudah bertengger manis di teras sekolah.

Untunglah kelas Ryo berada dilantai satu.

Tepat saat dia masuk -dengan sedikit berdesakan dari orang tua murid lain- nama Ryo di panggil oleh gurunya.

"Yamada Ryo" begitu.

"Haii" ujarnya mantap.

"Ryo" panggil Ryosuke dari belakang.

Ryo menoleh kaget sesaat setelah melihat Papa dan Mamanya hadir walaupun dia tak memberi tahu mereka.

"Ganbatte" ujar Ryosuke sambil mengepalkan tangannya.

Ryo menatap senyuman lemah Mamanya.

Yang dibalasnya dengan senyum percaya diri.

Semua orang tua murid menoleh ke arah pasangan muda yang sedang memberi semangat kepada anak mereka itu.

" 'Papa to Mama' Yamada Ryo" Ryo mulai membaca Karangannya.

"Papa dan Mamaku, Yamada Ryosuke dan Yamada Kanon. Mungkin semua orang akan heran mengapa namaku dan Papa sama. Walau kata Obaa-san kanji nya berbeda.

Aku bahagia bisa hidup dikeluarga ini. Aku mempunyai Papa yang mantan Artis, dan Mama yang istrinya mantan artis. Nenek yang galak tapi baik, kakek yang menyeramkan tapi lucu, 2 Oba-chan yang selalu memberiku coklat." Perkenalan keluarganya membuat para orang tua murid tertawa dan berteriak "kawaii"

"Semua orang selalu bilang kalau aku benar-benar anak Yamada Ryosuke, karena kami mempunyai senyuman yang mirip, dan kalau aku menari obaa-san selalu bilang kalau gerakanku sama persis dengan Papa.

Walaupun sebenarnya aku bukan anak kandung Papa dan Mama.

Aku sangat menyayangi keduanya, karena mereka juga sangat menyayangiku.

Papa, Papaku orang yang hebat.. Dia kakkoi, kata Mama dulu aku pasti bisa jadi orang yang Kakkoi karena punya Papa yang kakkoi. Papa pandai memasak, Papa sering memasakkan Spaghetti untukku.. Aku juga suka menonton dorama Papa dulu. Dan Papa orang baik.

Papa tidak pernah memarahiku kalau aku memecahkan piring. Papa juga tidak pernah mengeluh mengurusku sendirian tanpa Mama.

Dulu Papa pernah berbohong padaku mengatakan kalau Mama sedang berlibur ke luar negri semenjak aku berumur 4 tahun, padahal ternyata Mama sedang berada di Rumah Sakit.

Papa berbohong bukan karena Papa jahat, tapi karena Papa nggak mau aku sedih.

Kemarin waktu pertama kali menjenguk Mama, Mama marah-marah kepadaku, sampai aku menangis. Ini pasti kenapa Papa nggak mau jujur soal Mama.

Tapi Mama juga bukan orang jahat, karena pelukan Mama kasih tahu kalau dia sangat menyayangiku.

Mama, cepatlah sembuh dan keluar dari Rumah Sakit, jadi kita bisa berkumpul bersama..

Mama, aku nggak terlalu tahu tentang Mama, karena udah 2 tahun aku nggak bertemu Mama.

Tapi aku yakin Mama menyayangiku, buktinya Mama mau merawatku sampai aku berumur 4 tahun walau aku bukan anak kandungnya.

Oleh karena itu Mama, Papa.. Tetaplah menyayangiku.

Ijou.. Owari" akhirnya.

Dia menolehkan kepalanya kebelakang.

Dilihatnya Mama dan Papanya menangis terharu karena karangannya.

Bahkan orang tua murid lainnya pun ikut menangis.

Senyum puas menghiasi wajahnya.


--


Seusai sekolah, mereka sekeluarga pergi ke Amusement Park.

Ryo yang duduk dipangkuan Kanon yang berada di kursi roda terlihat sangat gembira.

Ryosuke yang bertugas mendorong kursi roda tersebut hanya bisa tersenyum melihat anak istrinya.

"Ryosuke.." Ujar Kanon pelan saat mereka asyik melihat Ryo yang berputar-putar diatas komedi putar.

"Hem?" Tanya Ryosuke dengan lembut.

Perlahan Kanon mengeluarkan sesuatu dari balih jaketnya.

"Apa itu?" Tanya Ryosuke penasaran.

"Purezento" ujar Kanon dengan terbata-bata.

"Eh?"

"Otanjoubi omedetto!" Ujarnya lagi, menyembunyikan wajahnya karena malu .

"Aku buka yah?" Ryosuke meminta izin istrinya yang dibalas anggukan malu dari istrinya.

Tampaklah sebuah syal merah dan surat didalamnya.

Dibacanya surat itu dalam hati.

"Ryosuke, suamiku..

Mungkin ini sudah terlalu spring untuk dijadikan winter, aku membuat syal ini sejak desember, aku tak berfikir kalau bulan mei itu adalah musim semi. Gomenna. ^_^v

Btw, selamat ulang tahun yang ke 22, Ryosuke.

With Love.

Your wife, Yamada Kanon."

"Kanon-chan, aku sudah 24, jangan bilang kalau kado ini untukku 2 tahun yang lalu!" Kata Ryosuke sedikit sinis.

Kanon hanya bisa tertawa kecil.

"Dasar kau! Sudah beri kado salah musim, kadonya sudah kadaluarsa pula" Ryosuke mulai pura-pura cemberut.

Tapi apa boleh buat, dia senang sekali mengetahui istrinya mengingat hari ulang tahunnya yang bahkan dia sendiri lupa.

Dilihatnya komedi putar didepannya, kalau-kalau Ryo sedang tidak melihat.

Disaat yang pas dikecupnya bibi Kanon yang dibalas oleh kecupan halus dari istrinya itu.


~OWARI~




JwHarai no koto :

Heyyyaaaah.. Akhirnya jadi juga ini FF, walau masih kacau balau pemilihan katanya.
Aku agak-agak aneh ama FF ini, karena baru kali ini aku merombak nama dan umur dari tokoh" ku..
ini FF juga belum di edit karena saya terlanjur males ngedit.
and something like "Lack my confidence" melanda ku sebelum aku mempublish n waktu sedang membuat FF ini.
udah lama gak buat FF, aku merasa FF ini benar" buruk.
terus ketakutan" seperti "tak ada yang akan membacanya" juga melandaku.
theme song nya juga belum ditemukan meskipun itu gak penting" banget.
pokoknya segala detailnya mengganggu otakku kali.
belum lagi FF ni gak ada gambarnya. walau memang aku jarang bikin juga sih :p
tapi...
aku bener" berharap kalo semuanya berjalan baik" aja...
and at last...
Happy 19th Birthday Ryosuke-sama..
Walau sekarang kau mirip tante" gara" tindikanmu itu, tp I ♥ You!! XD
Ijou desu.
Juwita Haraito Yori.
 P.S : aunty baca FF ini, masih yakin mau aku bikinin FF? XXDD


Monday, February 4, 2013

[Series Fanfiction] ETERNITY Part 3/?




Title                             : Eternity part 3 _Tadaima_
Categories                   : Multichapter
Genre                          : Romance
Rating                         : NC-21. If you don’t like. Just don’t read.  I warn you
Theme song                 : Star Time – Hey Say Jump
Cast                             : Inoo Kei
                                      Hikaru Yaotome
                                     Machiruu Yaotome (OC)
                                     Yabu Kota
                                     Nakayama Yuma
                                     Megumi Sakurada (OC)
Disclaimer                   : all cast are not mine, the story is mine
Synopsis                      :
            Entahlah, aku merasa bahwa ada sesuatu yang tak beres pada diriku. Tuhan menciptakan kita semua berpasang-pasangan. Besar dan kecil, tinggi dan rendah, sedih dan bahagia, serta laki-laki dan perempuan. Semua ada untuk melengkapi satu sama lain. Sudah hampir lebih dari setengah hidupku tak terlengkapi seperti ini. terbawa oleh alunan kebekuan hasratku pada kaum pelengkapku dan mencari subtitusi dalam sejenisku. Aku merasa bahagia namun tetap tak merasa lengkap. melihat orang yang kusayangi yang sebentar lagi menikah dengan adikku. Aku bahagia sekaligus iri. Melihat hidup mereka penuh dengan cinta, cinta yang selama ini kudambakan. Karena itu, aku memutuskan untuk keluar dari dunia subtitusi pelengkapku dan mencari sebuah kehangatan cinta, pada seorang wanita. Kau tau? Ini bukanlah sebuah pelarian atau pun sebuah penantian. Tapi ini adalah sebuah perjuangan, untuk lepas dari dekapan kegelapanku.

[Series Fanfiction] ETERNITY Part 2/?




Title                             : Eternity part 2 _Journey_
Categories                   : Multichapter
Genre                          : Romance
Rating                         : NC-21. If you don’t like. Just don’t read.  I warn you
Theme song                 : Star Time – Hey Say Jump
Cast                             : Inoo Kei
                                      Hikaru Yaotome
                                     Machiruu Yaotome (OC)
                                     Yabu Kota
                                     Nakayama Yuma
                                     Megumi Sakurada (OC)
Disclaimer                   : all cast are not mine, the story is mine
Synopsis                      :
            Entahlah, aku merasa bahwa ada sesuatu yang tak beres pada diriku. Tuhan menciptakan kita semua berpasang-pasangan. Besar dan kecil, tinggi dan rendah, sedih dan bahagia, serta laki-laki dan perempuan. Semua ada untuk melengkapi satu sama lain. Sudah hampir lebih dari setengah hidupku tak terlengkapi seperti ini. terbawa oleh alunan kebekuan hasratku pada kaum pelengkapku dan mencari subtitusi dalam sejenisku. Aku merasa bahagia namun tetap tak merasa lengkap. melihat orang yang kusayangi yang sebentar lagi menikah dengan adikku. Aku bahagia sekaligus iri. Melihat hidup mereka penuh dengan cinta, cinta yang selama ini kudambakan. Karena itu, aku memutuskan untuk keluar dari dunia subtitusi pelengkapku dan mencari sebuah kehangatan cinta, pada seorang wanita. Kau tau? Ini bukanlah sebuah pelarian atau pun sebuah penantian. Tapi ini adalah sebuah perjuangan, untuk lepas dari dekapan kegelapanku.

[Series Fanfiction] ETERNITY Part 1/?

minna-san. I warn you that this is my first post with NC-21 rate. the story is very dangerous for under age because it's full of smut, mature also yaoi. actualy it's the sequel of my first fanfiction untitled love (you can click the link) the story is NC too. if you don't like this stuff just don't read. and the last, no bashing please :) 




Title                             : Eternity part 1 –memories-
Categories                   : Multichapter
Genre                          : Romance
Rating                         : NC-21. If you don’t like. Just don’t read.  I warn you
Theme song                 : Star Time - Hey Say Jump
Cast                             : Inoo Kei
                                      Hikaru Yaotome
                                     Machiruu Yaotome (OC)
                                     Yabu Kota
                                     Nakayama Yuma
                                     Megumi Sakurada (OC)
Disclaimer                   : all cast are not mine, the story is mine
Synopsis                      :
            Entahlah, aku merasa bahwa ada sesuatu yang tak beres pada diriku. Tuhan menciptakan kita semua berpasang-pasangan. Besar dan kecil, tinggi dan rendah, sedih dan bahagia, serta laki-laki dan perempuan. Semua ada untuk melengkapi satu sama lain. Sudah hampir lebih dari setengah hidupku tak terlengkapi seperti ini. terbawa oleh alunan kebekuan hasratku pada kaum pelengkapku dan mencari subtitusi dalam sejenisku. Aku merasa bahagia namun tetap tak merasa lengkap. melihat orang yang kusayangi yang sebentar lagi menikah dengan adikku. Aku bahagia sekaligus iri. Melihat hidup mereka penuh dengan cinta, cinta yang selama ini kudambakan. Karena itu, aku memutuskan untuk keluar dari dunia subtitusi pelengkapku dan mencari sebuah kehangatan cinta, pada seorang wanita.

[Oneshot] I Wanna Meet You

This fanfict is repost from my blog and maybe some of you had read it before. and I want to apologize for writing here in Indonesia. if anyone of you can translate it into english I'm very pleasure but with full of credit of HSJ lounge fanfict and Sorry Typo. saa, minna-san. douzo :)





Tittle                            : I wanna meet you
Categories                   : One Shoot
Genre                          : Mystery
Rating                         : General
Theme song                 : thankyou ‘bokutachi kara kimi e’ – Hey Say Jump
Cast                             :Yuto Nakajima
                                     Chinen Yuri
                                    Yamada Ryosuke
                                     Ryutaro Morimoto
                                    Fuyu Mikazuki as Fuyu (OC)
                                    Oii-chan as Ruu (OC)
                                    Made Widyasari as Mae (OC)
                                    Nata Iqbasari as Nata-chan (OC)
                                    Yudea Ritopalda as Yu-chan (OC)
Author                         : kei-ruu
Disclaimer                   : semua tokoh milik bapak emaknya, ceritanya asli 100% dari otak saya

Thursday, January 31, 2013

[Fanfiction] SUNSET STORY


SUNSET STORY
 
 
Title                : Sunset Story
Categories   : Oneshoot
Genre             : Romance
Rating            : General - Teenager
Theme song : Yabu Kota - My Everything
Author           : Amalia Zaida (also known as phantomthief94)
Alamat           : Kampung Sewu RT 4 RW 5, Surakarta, 57123
Umur              : 17

Alasan mengikuti lomba: Saya udah lama ga nulis fanfic. Dan karena saya sedang jatuh cinta dengan kakak saya ini XD (incest detected). Selain itu juga karena saya tidak melakukan apa-apa di ulang tahun Chii tahun lalu.
 
Casts:
-Chinen Yuri (Hey!Say!JUMP)
-Ami Nakajima (OC)
-Yuto Nakajima (Hey!Say!JUMP)
-Yamada Ryosuke (Hey!Say!JUMP)
-Ohno Satoshi (Arashi)
 
Disclaimer:
Semua member Chinen, Yuto, Yama, dan Ohno milik Tuhan. Hey!Say!JUMP milik Johnny’s Entertainment. Ami Nakajima milik saya!
 
Summary:
Perpisahan memang seringkali dianggap sebagai suatu hal yang menyakitkan. Bukan karena rasa sakit ketika akan tidak dapat bersama lagi, tapi ketakutan akan adanya hal-hal yang masih mengganjal yang suatu saat akan mengganggu hati.
***
Langit senja kemerahan mulai menyebarkan rona kemerahannya di sudut barat, semakin lama semakin pudar. Bayang-bayang yang mengikuti pun perlahan mulai menghilang seiring dengan terbenamnya matahari. Lapangan baseball yang sebelumnya ramai pun kini telah sepi.
 
Di bangku panjang, Yuri tengah menikmati pemandangan sang surya yang bergerak bersembunyi. Sebuah drama singkat yang indah baginya, ketika rona kemerahan yang memancar sedikit demi sedikit meredup. Sebuah senyum terlukis di wajah manisnya, senyum yang masih menyembunyikan gigi kelinci khasnya yang hanya terlihat saat tawanya mengembang.
 
Yuri mengangkat tasnya ketika matahari telah sepenuhnya lenyap di balik pepohonan, tidak menyisakan jejaknya sedikitpun. Sang bulan mulai menggantikan posisi sang mentari, mengambil tugasnya untuk menemani orang-orang kawan malam.
 
Di persimpangan jalan, seorang gadis mencuri konsentrasi Yuri. Kepala yang selalu tertunduk menyembunyikan wajah manisnya di balik tirai poni tipisnya. Seorang siswi pintar yang pemalu, adik kelas Yuri, Ami Nakajima, adik dari Yuto Nakajima.
 
“Yo, Ami-chan,” sapa Yuri.
“Chinen-senpai[1], selamat malam,” sapa Ami setengah terkejut.
“Kenapa malam-malam begini baru pulang?” tanya Yuri.
“Terlalu asyik menggambar di atap sekolah. Chinen-senpai sendiri, kenapa baru pulang?” tanya Ami.
 
Yuri hanya tersenyum untuk menjawab pertanyaan Ami. Sejujurnya, ia sendiri tidak tahu mengapa ia bisa begitu betah hanya duduk-duduk menikmati matahari terbenam. Baginya, semua itu seperti melihat sebuah drama rutin yang menakjubkan dari Tuhan. Ia tidak bisa melewatkan ketika matahari malu-malu memancarkan sinar terakhirnya di hari itu. Pemandangan yang sangat ingin ia tunjukkan pada gadis yang akan menjadi istrinya suatu saat nanti.
 
Upacara kelulusan hanya tinggal hitungan hari. Para siswa kelas 3 sudah hampir selesai melakukan persiapan, termasuk Yuri, Yuto, dan Ryosuke yang tahun ini akan lulus.
 
Di sudut aula, Yuri meneguk botol airnya. Ia terlalu bersemangat untuk upacara kelulusannya, di mana ia akan menyanyikan lagu bersama Ryosuke dan Yuto. Pikirannya melayang ketika ia pertama kali masuk sekolah. Ia tidak menyangka akan sekelas dengan Yuto dan Ryosuke, temannya sejak kecil. Di dalam hati ia yakin, mereka memang telah ditakdirkan bersama.
 
Mengingat tentang masa kecil, Yuri teringat saat keluarganya pindah dari Hamamatsu ke Tokyo karena urusan pekerjaan. Tetangga pertama yang berkunjung adalah keluarga Nakajima. Anak pertama keluarga Nakajima ternyata sebaya dengan Yuri, Yuto namanya. Anak ke-2 lahir hanya satu tahun setelah Yuto. Ialah Ami, seorang gadis pemalu yang telah menarik perhatian Yuri. Tinggi badan Ami yang tidak setinggi Yuto, bahkan lebih pendek dari Yuri, membuatnya sering diejek oleh Yuri dan Ryosuke.
 
Oh, ya, mengenai Ryosuke, ia adalah anak ke-2 keluarga Yamada, rekan kerja keluarga Chinen. Mereka selalu berkunjung ke rumah Yuri setiap sedang berada di Hamamatsu. Tidak heran jika Ryosuke dan Yuri menjadi sangat dekat. Lagipula, ternyata Ryosuke pun adalah teman baik Yuto.
 
Lamunan Yuri buyar ketika Yuto menepuk bahunya dan duduk di sebelahnya, disusul oleh Ryosuke. Yuto dan Ryosuke hanya melempar senyum tipis pada Yuri.
 
“Melamun?” tanya Yuto.
“Yah, aku hanya teringat saat pertama kali kita saling mengenal. Bukankah selalu bersama sejak kecil sampai sekarang itu berarti kita jodoh?” tanya Yuri.
“Jodoh apanya? Maksudmu aku akan menikah denganmu?” tanya Ryosuke.
“Tidak, bukan seperti itu. Maksudku, mungkin kita memang sudah ditakdirkan menjadi teman baik sejak kita kecil,” kata Yuri.
“Mungkin kau benar,” kata Yuto.
“Menurut kalian, apa kita akan terus bersama seperti ini sampai kita tua nanti? Maksudku, selama ini kita bersama karena kita satu sekolah dan rumah kita berdekatan. Tidak mungkin akan seperti ini terus sampai kita tua, kan?” tanya Ryosuke.
“Kita akan bisa. Kalau selama ini kita bisa, kenapa selanjutnya tidak?” kata Yuri.
“Yang jelas salah satu dari kalian akan mendapatkan adikku,” kata Yuto.
“Maksudmu Ami?” tanya Ryosuke.
“Masa’ Raiya?” kata Yuto sambil melirik Ryosuke. Yah, retoris.
“Kenapa kau begitu yakin?” tanya Yuri.
“Itu yang dinamakan insting seorang kakak,” jawab Yuto.
 
Yuri dan Ryosuke hanya saling bertukar pandang. Dan kemudian masing-masing kembali terdiam dalam lamunan. Meski berbeda, namun lamunan mereka mengandung inti yang sama: masa depan!
 
Perjalanan pulang yang terasa jauh bagi Yuri. Setiap langkah terasa berat. Ia tidak ingin hari ini segera berakhir. Karena jika hari ini cepat berakhir, upacara kelulusan akan segera menyusul, dan mungkin perpisahan juga membuntuti. Semua orang pasti benci perpisahan dengan orang yang telah menemani sebagian besar hidupnya.
 
Seperti yang biasa ia lakukan, ia mampir ke lapangan baseball yang kini hampir sepi karena senja telah menyapa. Ia duduk di tempat biasa, di mana ia bisa memandang matahari terbenam dengan leluasa. Sinar merah merona yang terpancar seakan mengajaknya menari mengiringi matahari yang semakin lama semakin gelap.
 
Upacara kelulusan telah dimulai. Acara berlangsung lancar dan meriah dari awal hingga selesai. Air mata mengalir deras terutama ketika pidato pelepasan dari perwakilan siswa kelas 3. Perpisahan memang seringkali dianggap sebagai suatu hal yang menyakitkan. Bukan karena rasa sakit ketika akan tidak dapat bersama lagi, tapi ketakutan akan adanya hal-hal yang masih mengganjal yang suatu saat akan mengganggu hati.
 
Usai upacara kelulusan, hampir semua siswa masih berkumpul di sekolah, untuk menghabiskan waktu bersama sebelum jarak dan waktu menghalangi pertemuan. Para adik kelas mulai berebut untuk memberikan kenang-kenangan kepada kakak kelas yang disukai. Tidak sedikit pula yang meminta kancing gakuran siswa laki-laki sebagai kenang-kenangan.
 
“Chinen-senpai, tolong terima kenang-kenangan dariku.”
“Chii-senpai, bolehkah aku meminta kancing bajumu?”
“Chinen-senpai, kau akan melanjutkan ke mana setelah lulus?”
 
Yuri, yang memang merupakan salah satu siswa populer di sekolah, memilih untuk menghindari kerumunan siswi junior yang ingin memberikan kado mereka untuknya. Yuto dan Ryosuke yang juga popular sepertinya memilih jalan yang sama dengan Yuri. Di belakang panggung, mereka bertemu, melepas penat seusai tampil di upacara kelulusan.
 
“Aku sudah tahu ini pasti merepotkan sejak pertama kali melihat para senior yang dikerumuni siswi junior di upacara kelulusan 2 tahun lalu. Dan ternyata memang benar dugaanku,” kata Yuri.
“Kasihan, sih, tapi apa boleh buat, aku sedang tidak ingin kehabisan waktu untuk itu,” kata Yuto.
“Lagipula banyak yang aku bahkan tidak kenal,” sambung Ryosuke.
“Apa tujuan kalian setelah ini? Maksudku, setelah lulus?” tanya Yuto.
“Sambil menunggu tes masuk perguruan tinggi, kurasa aku akan mencari pekerjaan sambilan,” kata Ryosuke.
“Aku akan banyak berolahraga selama liburan. Mungkin suatu saat nanti kalian akan melihatku di channel olah raga,” jawab Yuri.
“Walaupun tubuhmu kecil, ternyata kau sangat hebat dalam olah raga, Chinen. Aku tidak menyangka itu saat kita pertama kali bertemu,” kata Yuto.
“Awalnya kukira Chinen tidak terlalu hebat dalam olah raga. Ternyata darah ayahnya yang seorang atlet juga menurun padanya,” sambung Ryosuke.
“Aku terkejut saat dia bilang dia paling suka pelajaran olah raga,” tambah Yuto.
“Hei! Berhenti membicarakanku!” protes Yuri.
Tiba-tiba pundak Yuri ditepuk. Saat ia menoleh, ternyata Ohno sudah berdiri di belakangnya, dengan senyum.
“Ohno-senpai! Tidak kusangka kau akan datang,” kata Yuri.
“Aku sedang ada waktu luang, jadi kukira akan bagus kalau aku memberi kalian selamat atas kelulusan kalian,” kata Ohno.
“Terima kasih, Ohno-senpai. Kami senang kau di sini,” kata Yuto dan Ryosuke.
“Jadi, bagaimana? Apa yang akan kalian lakukan setelah ini?” tanya Ohno sambil duduk di samping Yuri.
“Kami baru saja membahasnya. Yama bilang, dia akan mencari kerja sambilan untuk mengisi waktu. Kalau Chinen, dia akan melatih otot-ototnya agar suatu saat nanti kami akan melihatnya di TV sebagai seorang atlet. Kalau aku, yah, kurasa aku tidak tahu akan melakukan apa nanti,” kata Yuto.
“Ah, itu bagus,” kata Ohno.
“Ah, aku haus. Aku akan mengambil minuman dulu. Ada yang mau titip?” tanya Yuto sambil berdiri.
“Aku ikut denganmu saja,” kata Ryosuke. Dan mereka berdua pun pergi.
Hanya tinggal Yuri dan Ohno yang masih dudul di balik panggung.
“Kenapa kau justru menghindari fansmu?” tanya Ohno dengan nada setengah menggoda.
“Aku tidak terlalu suka dikelilingi seperti itu,” jawab Yuri.
“Kau seperti sedang menunggu seseorang,” kata Ohno.
 
Yuri hanya diam sambil terus menatap lurus ke depan, sesekali matanya beralih ke samping secara diam-diam, mencari sosok yang mungkin juga mencarinya. Berulang kali dilakukannya, ia tak menyadari bahwa itu diperhatikan oleh Ohno.
 
Setelah beberapa saat kemudian, ia baru menemukan sosok yang dicarinya. Ia hanya duduk di salah satu kursi di halaman sekolah sambil membaca sebuah novel. Hati Yuri bergejolak. Konflik terjadi di dalam otaknya, pertengkaran antara menghampirinya atau tidak, menyatakan atau tidak.
 
“Coba kau ajak bicara,” kata Ohno tiba-tiba.
“Eh?” Yuri terkejut.
“Apa maksudmu dengan ‘eh’? Ia tidak akan menunggumu lebih lama dan kesempatanmu hilang. Ingat, kau sudah lulus dari sekolah ini sekarang,” kata Ohno. Ia menarik tangan Yuri sampai Yuri berdiri, dan mendorongnya ke arah Ami untuk menyuruhnya segera maju.
 
Berada 3 meter dari tempat Ami, Yuri membeku. Kakinya seakan tidak mau bergerak untuk melangkah lebih dekat. Otaknya pun tak mampu mengontrol tubuhnya untuk berpikir secara sadar. Ia terus terdiam di tempatnya berdiri. Meski hanya tinggal beberapa langkah untuk sebuah kepastian, tapi konflik di dalam hatinya membuatnya ragu. Dan akhirnya ia berbalik dan mundur, kembali pada Ohno dan disambut dengan gelengan kepala dari Ohno, Yuto dan Ryosuke.
 
Matahari senja lagi-lagi menjadi tempatnya berdiam mengadu. Menyesali ketidakberaniannya untuk hanya menyatakan secara langsung perasaannya pada gadis yang disukainya. Berkali-kali ia memukul pasir kosong dengan kepalan tangannya dan menggesekkan kakinya.
 
“Tanganmu nanti kotor, lho,” seseorang mengulurkan sapu tangan kepada Yuri. Yuri mendongak untuk melihat orang itu yang ternyata Ami.
“Ah, terima kasih,” kata Yuri dengan gugup sambil menerima sapu tangan dari Ami.
“Sepertinya tadi ada yang ingin kau katakan padaku,” kata Ami.
Yuri terkejut. Ternyata tadi Ami menyadari keberadaannya yang terus terdiam. Tapi mengapa harus tetap diam seakan tidak peduli?
“Aku melihatmu, tapi aku diam karena mungkin akan mengganggu kalau aku menatapmu,” kata Ami seakan menjawab pertanyaan Yuri.
“Memang… Memang ada yang ingin kukatakan padamu,” kata Yuri.
“Katakan saja,” kata Ami.
“Ah, itu, eh, anu… Aku…” Yuri gugup.
“Kau? Kenapa?” tanya Ami lagi.
“Aku… Aku sudah… Aku sudah men… Aku…” Yuri kebingungan untuk mengatakan kata-kata yang tepat.
 
Sama seperti kebingungan Yuri, Ami pun menunjukkan wajah bingung dan penasaran pada Yuri.
 
“Kalau kau masih tidak bisa mengatakannya mungkin lain kali saja. Yah, itu pun kalau kita masih bisa bertemu,” Ami mulai beranjak dari tempatnya. Tapi Yuri segera bangkit dan meraih tangan Ami, menahannya untuk pergi.
“Aku menyukai Ami. Sejak kita sering bersama aku sudah menyukaimu. Tolong jawab… Tolong jawab aku,” kata Yuri dengan cepat.
Ami terkejut, tapi juga bingung. Ia masih belum siap dengan pernyataan yang tiba-tiba ini.
“E… Eh?” hanya itu yang dapat Ami katakan.
“Aku menyukaimu. Tolong jawab,” Yuri terengah-engah, bukan lelah karena pelajaran olah raga, tapi lelah karena detak jantungnya yang terus memburu.
“I… Ini… Ini terlalu cepat,” kata Ami.
“Tapi aku tidak tahu apakah akan bisa menyatakannya setelah ini,” kata Yuri.
 
Ami menghela napas. Ini sulit baginya, tapi ia hanya perlu tenang untuk menghadapi hal ini. Ia mengambil sapu tangan satu lagi dari kantong roknya dan mengusap keringat di dahi Yuri.
 
“Duduklah dulu dan tenanglah,” kata Ami.
Yuri pun hanya menurut saja. Setelah ia duduk dengan Ami juga duduk di depannya, Ami kembali menghela napas.
“Chinen-senpai baru pertama kali menyatakan suka pada seorang gadis, ya?” tanya Ami.
 
Yuri mengangguk. Ia semakin tidak sabar. Matahari yang biasanya terasa cepat terbenam kini pun terasa sangat lambat dari bersinar dengan lebih panas.
 
“Aku tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Tapi, kalau aku harus menjawab antara apakah aku juga menyukai senpai atau tidak, aku tidak akan mengatakan tidak,” kata Ami.
Yuri menatap Ami dengan tatapan terkejut sekaligus tidak percaya, meminta agar Ami mengulangi kata-katanya.
“Aku juga menyukai Chinen-senpai,” kata Ami.
Senyum Yuri mengembang. Tapi berbeda dengan senyum sebelumnya, untuk kali ini, gigi kelinci khasnya pun ikut tertawa dan memperlihatkan diri. Ami pun tersenyum malu. Kepalanya menunduk, yang memberikan ruang bagi tangan Yuri untuk mengelusnya.
“Ah! Tunggu, aku ada sesuatu untukmu,” kata Yuri sambil merogoh saku celananya.
Ia mengeluarkan sebuah kancing yang ia ambil dari kancing nomor 2 bajunya. Yuri menarik tangan kanan Ami dan meletakkan kancing itu di telapak tangan Ami, kemudian menutupkannya.
“Jaga baik-baik, ya,” kata Yuri dengan kedua tangannya yang terus menggenggam tangan Ami.
 
Ami tertawa kecil, dengan wajah yang mengatakan bahwa Yuri bisa mempercayainya.
 
=================================
 
1. senpai: senior; panggilan untuk menghormati orang yang dianggap lebih senior
 
=================================
 
 
AAA~!! Sejujurnya saya malu bikin fanfic romance saya sama Chii begini >////< Sebentar lagi saya bakalan dicerai sama Kento. Hiyaa~! Maafkan saya Kento!! ( >/|<)
 
Oke, ini RPF ke-3 saya (setelah RPF Yamada yang pengen diet tapi tidak saya publish dan RPF InooBu) dan masih terasa sekali gajenya. Maaf untuk semua yang berharap Chii jadi pacar atau suami, sungguh hubungan saya dan Chii hanya sebatas kakak-adik! #plak
Akhir kata, terima kasih sudah membaca! Minna, yomimashita kara arigatou gozaimasu!!
 
 
===================================
 
EPILOG
 
Ami merogoh saku jasnya untuk mengambil kunci kamarnya. Tangannya menyentuh kancing pemberian dari Yuri. Ia memandang kancing itu. Tanpa sadar, ia tersenyum. Yuto yang tidak sengaja melihatnya hanya menorehkan senyum kecil di wajahnya. Sambil melewati Ami, ia mengacak-acak rambut Ami pelan.
 
“Wah, pasti kepalamu baru saja dielus Chinen,” kata Yuto.
“Ka… Kakak!!” Ami menepis tangan Yuto. Wajahnya memerah.
Yuto menunduk hingga wajahnya tepat di depan wajah Ami.
“Adikku ini… Ternyata sudah besar, ya.”
Yuto pun beranjak pergi. Ami menatapnya dengan kesal, ia tidak mampu menyembunyikan wajahnya yang memerah.