NOTE: Reader, before you browsing to reading please make sure you read fanfiction in here according to your age. If you not yet 17 yo, we suggest you to read fanfiction with rating G, PG-13, PG-15. Rating NC-17 and NC-21 just for addult. Please follow this rule shake your self!

Friday, July 29, 2011

Don’t Believe In Anything (3/4, Indonesian)

Details: Quarterlogy
Title    : Don’t Believe In Anything
Genre : Family, Friendship, Romance
Rating : General
Language       : Indonesia and English
Theme song  : YUI- Good Bye Days
Author            : Amel Chan

Synopsis:
Human is a pupil, pain is the teacher.
-Ryosuke Yamada-

Cats:
Ryosuke Yamada       as        Ryosukey
Dyan patricia P.P        as        Diyanu (Out Character)
Aneri (Diyanu’s best friend)
Otousan (Ryosuke’s Dad)
Furata (Ryosuke’s Brother)
Ishida Mura (Rival-male)

PART 3

Whether Money is Everything to You?

June 10st

Aah, Apa Key tidak sekolah hari ini? Bagaimana yah...

Sudah hampir telat, Aku harus sekolah..

Tapi..

Nanti saja, aku mau melihat apa yang akan Key lakukan dulu.

Setelah bekerja mengantar koran pagi, sekitar lima menit yang lalu, Key sudah berdiri didepan pagar rumahnya sambil mengalungi kamera polaroid yang kemarin kulihat tergeletak diatas meja. Sesekali ia melirik jam tangan. 

Pukul 7.29, kenapa memangnya? Huufh dia rumit sekali.

Sebuah mobil Mercy keluaran Italy berhenti dihadapan Key. Pintu belakang terbuka. Key memasuki mobil. Aku hanya bisa melihat samar-samar bahwa ada seorang kakek tua didalam mobil itu, lalu pintu ditutup. Mobil tidak berjalan, hanya diam saja disana. Sial... Apa yang mereka lakukan. Aku benar-benar tidak bisa meng-handle rasa penasaran.

Tidak lama, hanya sekitar 7 menit kemudian Key keluar dari mobil. Kaca jendela belakang terbuka setengah. Kakek tua berambut putih dan menggunakan katana tersenyum pelan. Lalu Key membungkuk hormat sampai mobil itu berlalu.

Eh,. Satu hal yang ku sadari. Key tidak lagi mengalungi kamera polaroid.

Apa dia mengembalikan kamera pada kakek tadi?

Atau kakek itu yang meminjamnya?

Tapi tidak mungkin kakek kaya tadi yang meminjam. Dengan melihat penampilannya saja semua orang pasti akan sadar betapa kaya dia. Lalu?

Lalu aku kembali menguntit si tampan Key.

Dari jendela kamar, aku bisa melihat dengan jelas apa yang dia lakukan. Key memakai pakaian sekolah dan mengubah penampilannya menjadi culun kembali. Yeah, Key yang membuat illfeel teman-teman disekolah. Pertanyaan ini selalu berputar-putar dikepalaku, kenapa Key melakukan hal itu? Di tempat kerja dia punya banyak teman, tapi disekolah berbeda 180o. Aku belum pernah melihat dia mengobrol dengan orang lain. Kecuali kalimat obrolan yang berbau bullying. Tapi Key tidak sepenuhnya di bullying, dia hanya mencoba menghindar dari semua orang. Teman-teman yang lain juga tidak terlalu ingin berurusan dan membullyingnya, mungkin karena nilai Key yang sangat bagus disekolah. Atau karena mereka tidak menyadari kehadiran Key disekitar mereka? 

Setelah siap dengan semua penyamaran kesekolah Key turun dan keluar rumah. ‘penyamaran’? aku menyebut  penampilan culunnya sebagai sebuah penyamaran. Dengan sigap aku yang sedari tadi siap dengan perlengkapan sekolah segera turun dari kamar, berlari kemeja makan, menyambar roti sarapan pagi, dan ada ibu yang mengomel melihat tingkahku. Aduh Ibu, ini sedang darurat, jika terlambat aku akan kehilangan jejak Key. 

“Ibu, aku pergi, Bye!” kata-kata itu ku ucapkan dengan tergesa-gesa.

“Diyanu?! Jangan berlari-lari, nanti jatuh!” Ibu yang jarang bicara dengan suara kuat, sekarang bicara dengan sedikit berteriak agar aku mendengar ucapannya. 

Itu key, aku menjaga jarak aman berjalan 6 meter dibelakangnya. Setelah diperhatikan gaya culun Key terlihat manis juga. Bagaimanapun gayanya, tampan tetap saja tampan, manis tetap saja manis. That can’t be help.

Setelah memasuki gedung 2 dan naik ketingkat dua, diujung tangga aku melihat Key berbelok kearah kiri menuju kelas 2-A, dan aku harus belok ke arah kanan ke kelas 2-C. Coba aku lebih pintar sedikit, aku ingin sekelas dengan Key.

Aneri, sahabatku terlihat melambai-lambaikan tangan di depan pintu kelas.

“Diyanu! Hey, kau hampir telat tahu.” Aneri menghampiri ku, “Aku memperhatikanmu dari koridor sejak kau memasuki pintu gerbang sekolah. Kau terlihat seperti mengikuti Key.”
“Benarkah? Mana mungkin aku mengikuti Key.” Aku mencoba menghindar.
“Sudahlah, iya juga tidak apa-apa” Aneri menggoda ku.
“Aaa, Aneri, apa yang kau ketahui tentang Key?”
“hmm? Sepertinya tadi sahabatku ini memang sedang mengikuti Key. Apa yang ingin kau ketahui mengenai Key?” Jawab Aneri setelah duduk dibangkunya.
“Ceritakan semua yang kau ketahui” jawab ku senang.
“Semua? Merepotkan sekali, baiklah akan ku ceritakan sepulang sekolah nanti dirumahmu.”
“Terima kasih. Kau sahabatku yang terbaik, muach” aku spontan melompat kearah aneri dan mencium pipinya.
“Ouch, bisa tidak reaksimu biasa saja?”

Bel pulang sekolah sudah berbunyi, aku dan Aneri pulang kerumahku dengan berboncengan. Kami bergantian mengayuh sepeda gigi pink milik Aneri. 

Dirumah aku membawa es jeruk di kulkas dan beberapa buah pisang ke kamar. Aneri tiduran dikasur. Aku meletakkan makanan di atas meja belajar kecil disamping kasur lalu mencari tempat duduk strategis disamping jendela. 


“Baiklah sekarang ceritakan semua yang kau ketahui tentang Key...” ucapku tidak sabaran.
“Aneh sekali, kalau disuruh menceritakan semuanya aku jadi bingung mau mulai dari mana. Sebenarnya Key itu juga anak pindahan seperti mu. Dia pindah ke kota ini sekitar satu setengah tahun yang lalu saat masuk senior high school. Aku tidak tahu dia sekolah junior high school dimana. Tapi yang  jelas dia pindahan dari Yokohama.” Jelas Aneri perlahan.

“Yokohama?” Gumam ku pelan dengan nada bertanya.

“Yah Yokohama, Sejak mereka pindah aku belum pernah melihat ibunya, dan berita terakhir yang kuperoleh ternyata ibunya Key sudah lama meninggal.”

“Meninggal? Kenapa?” tanyaku prihatin.

“Menurut cerita yang kuperoleh dari teman-teman kerjanya, Ibunya meninggal saat melahirkan Key. Key belum sempat lahir tapi Ibunya sudah meninggal dirumah sakit karena kondisi tubuh yang lemah, jadi untuk mengeluarkan Key dari rahim Ibunya, dokter melakukan operasi.”
Aku terdiam, cerita itu membuat diam membisu. Aku merasa ingin sekali tahu lebih banyak dan dekat dengan Key. Sebenarnya aku ingin sekali mendengarkan cerita ini langsung dari mulut Key.  

“Lalu?” aku menagih cerita berikutnya.

Aneri mengambil pisang di meja, “Kau tahu Yamamura dari kelas 2B?”

Pertanyaan itu kujawab dengan gelengan kepala, “Kenapa dengan Yamamura?”

“Dia berasal dari murid junior high school kagoshima gakuen, sekolah favorite di kota ini. Saat kelas 2 dia pernah dikirim ke tokyo mewakili sekolah untuk lomba basketball. Kau tahu di final siapa yang mengalahkan langkah group basket Yamamura? Itu adalah group basket Key dari Yokohama, Key sebagai kapten disana. Dan kau tahu Aizawa? Dia murid jenius saat junior high school. Selalu mendapatkan juara 1 umum. Banyak mendapat penghargaan dari walikota. Sampai saat dia mengikuti olimpiade fisika di Yokohama. Dan dia kalah telak melawan Key yang mewakili Yokohama Prefecture. Mungkin itu salah satu alasan Key tidak di Bullying disekolah walaupun gayanya sangat aneh”, Aneri berhenti bicara, dia menguyah potongan terakhir pisangnya.

“Aku jadi heran, cerita mu menggambarkan kalau kehidupan Key sangat sempurna walaupun ibunya sudah meninggal. Seakan-akan dia bisa mendapatkan apapun yang diinginkan. Lalu kenapa sekarang dia jadi seperti ini?” 

Aneri membenarkan posisi duduknya, ia menyandar di dinding, “Entahlah, tidak ada yang tahu. Tapi kalau menurut analisa ku, kejadian buruk yang pernah terjadi dulu membuatnya mengalami trauma psikologis sampai sekarang. Yah seperti cowok-cowok keren lainnya, waktu di Yokohama Key punya banyak musuh, meskipun dia juga punya banyak teman. Setiap minggu selalu ada kabar dia berkelahi. Setiap bulan ada saja jendela sekolah yang pecah karena tauran. Hampir setiap 2 bulan sekali ayahnya dipanggil oleh kepala sekolah. Key memang pintar, keren, berbakat, tapi dengan watak buruknya itu siapapun akan menjadi kesal. Sampai pada klimaks, suatu hari hampir tengah malam, Key belum juga pulang kerumah. Ayahnya khawatir dan mencari kemana-mana. Dijembatan penyeberangan ayahnya melihat Key dikeroyok oleh preman dari sekolah lain. Saat itu Key babak belur. Ayahnya spontan menolong key, tapi malang seorang preman mendorong ayah dari jembatan penyeberangan. Saat mendarat di jalan aspal sebuah mobil menyambar kedua kakinya. Itu penyabab ayah Key duduk dikursi roda sekarang. Mungkin dia merasa bersalah, watak buruknya membuat ayahnya lumpuh.” 


“Jadi maksudmu, Key berusaha untuk menjadi tidak terkenal agar tidak punya banyak musuh, begitu? Dia berusaha menjadi orang yang tidak dilirik?” tanyaku menyimpulkan.

“Sepertinya begitu, jadi kau sudah tahu kalau Key mengubah penampilannya saat disekolah yah Diyanu? Apa kau jadi penasaran setelah melihat perubahannya ketika tidak disekolah? Kau menyukainya?” Aneri mendesakku.
“Kenapa? Apa aku tidak boleh menyukai Key?” ucapku pelan.
Aneri memeluk bantal.
“Eh, Aneri, kau juga menyukai Key?” tanyaku histeris.
“Ahaaha, kenapa bertanya seperti itu? tidak, ada orang lain yang aku sukai.” Ia tersenyum.
“Benar? Aku tidak ingin menyakiti hatimu gara-gara menyukai orang yang sama.”
“Tentu saja benar.”
“Siapa? Siapa orang yang kau sukai itu?” aku berdiri dan duduk disamping Aneri.
“Cari tahu sendiri, kau sudah sering melihatnya.” 

“Huh payah.” Aku kembali duduk dikursi dekat jendela, “Itu Key!” aku menunjuk kearah luar jendela. “Dia baru sampai dirumah? Lama sekali, hey Aneri kau tahu banyak tentang Key dari siapa?”

“Dari mata kepala ku sendiri dan dari orang yang kusukai.” Jawabnya tersenyum nakal.

Ckck, bukan jawaban yang kuharapkan. Aku memperhatikan Key memasuki rumah. Sebentar lagi dia pasti akan keluar dan bekerja seperti hari-hari sebelumnya sampai tengah malam. 

Apa dia benar-benar suka dengan uang? 

Apa uang adalah segalanya untuk Key? Kalau benar begitu, karakternya sangat buruk.

Ring...Ring.....

Phone cell ku berdering dengan sedikit getaran. Aku meraih dan membaca nama yang muncul dilayar  LCD. Ishida Mura. Dia adalah pacar ku. Aku berpacaran dengannya sekitar 1 tahun yang lalu sejak di Osaka. 

“Ya halo...” ucapku setelah menekan tombol answer.

“Diyanu, apa kau merindukanku?” Tanya suara berat yang ada diseberang telepon.

“hehehhehe...”

“Sekarang aku ada didepan rumah mu, cepat turun, bukakan aku pintu.” Kalimat yang dilontarkan Mura membuat aku terperanjat kaget. Aku menoleh ke halaman depan dari jendela kamar. Oh God.

Ibu dan Aneri terlihat senang sekali berbicara dengan Mura. Bertanya ini itu. Kapan sampai, naik apa, dengan siapa, lelah tidak, bagaimana dengan sekolah. Melihat kedatangan Mura hatiku merasa sedikit terganggu. Padahal dulu jika dia tidak datang seminggu saja kerumah, aku segera meneleponnya.  

Sikapku acuh tak acuh terhadap Mura. Aku menjawab obrolannya dengan enggan karena yang menguasai pikiran ku sekarang hanyalah wajah Key. Beribu pertanyaan muncul debenakku mengenai Key.

Mura menyerup teh sakura yang sudah agak dingin, “Sebelum pergi kau berjanji hanya akan melukis aku sebagai objek jika modelnya laki-laki kan Diyanu? Apa sudah mulai melukis sekarang?”

Teh yang sedang ku serup hampir muncrat saat mendengar pertanyaan itu, “Belum, disekolah belum mulai belajar melukis. Baru diberikan teori saja.” Jawabku bohong. Sekolah tempat aku dan Aneri belajar adalah sekolah seni. Dan kami berdua mengambil jurusan melukis. Sedangkan Key mengambil jurusan photografi. 

“Begitu yah, nanti kalau lukisannya sudah jadi beri tahu aku. Aku akan datang kemari untuk melihatnya.” Mura berusaha menyuport ku. 

“Mura, bagaimana kalau menginap saja dulu disini. Dirumah ini masih ada kamar kosong.” Tawar Ibu. Tidak ibu, jangan pernah menawarkan hal itu. 

“Nanti malam aku harus segera kembali ke Osaka Bi,  aku kemari kebetulan ikut dengan paman yang mau mengurus pekerjaannya. Sengaja ikut untuk bertemu dengan Diyanu. Senang sekali melihat Diyanu sepertinya kerasan disini.” Gaya bicara Mura sama seperti dulu, penuh perhatian, tapi hatiku tidak merasakan getaran akan perhatian itu. 

“Kalau seperti itu, sebelum pulang Mura harus mencicipi masakan Mie Ramen bibi dulu yah.” Tawar ibu lagi. Ya ampun ibu!

“Benarkah Bibi?” Mura terlihat senang.

“nah Diyanu tolong Ibu belikan ini.” Aku menerima daftar belanja yang disodorkan Ibu.

“Baiklah, aku pergi sekarang.” Aku berdiri dengan malas, rasanya Mura menyadari perubahan sikapku.

“Aku antar yah.” Mura menawarkan diri.

“Tidak perlu, aku akan pergi bersama Aneri. Istirahat saja disini.” Aneri berjalan terseret saat aku menarik tangannya keluar rumah.

Sepanjang perjalanan ke minimarket tidak ada sepatah kata pun yang terlontar. Ketika memasuki minimarket udara dingin Air Conditioner terasa menusuk kulit setelah tiba-tiba pindah dari lingkungan yang panas. Semua nama didaftar belanja sudah komplit di ambil, aku mengangkat belanjaan keatas meja kasir. Tit, Tit, Tit, suara mesin kasir otomatis merekam harga yang tertera dibungkus. Aku menyerahkan beberapa lembar uang yen pada kasir. 

“Kenapa sikapmu dingin sekali tadi kepada Mura?” sepertinya Aneri tidak tahan membendung pertanyaan ini yang sedari tadi ingin ia ucapkan.

“Aku juga tidak tahu, spontanitas aku berkelakuan seperti itu. seharusnya aku senang. Tapi aku malah takut dan terganggu dengan kedatangannya.”

“Kenapa?” 

“Aku juga tidak tahu jawabannya, tapi yang jelas kepala dan perasaanku sekarang hanya dipenuhi oleh Key.” 

“Jangan egois Diyanu. Mura tidak salah apa-apa. Dia hanya menyayangimu. Seharusnya hargai perasaannya itu. Key, kita tidak tahu Key orang yang seperti apa. Nakal, seenaknya, aneh, itu yang tertanam di kepala setiap orang tentang dia. Dan satu hal yang harus kau pertimbangkan mengenai Mura, dia laki-laki yang baik.” Sahabatku ini memintaku memberikan kejelasan.

Udara panas membuat tensi percakapan ini menjadi tinggi, “Aku tahu Mura orang yang baik, Sekarang aku harus bagaimana? Aku memang tidak tahu apa-apa tentang Key, aku tidak tahu dia nakal, aku tidak tahu dia aneh, bahkan aku tidak tahu kalau dia seenaknya walaupun setiap hari aku melihat dia selalu berkelahi dengan ayah dan kakaknya. Aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak tahu perasaan ku terhadap Key itu suka atau hanya sebatas penasaran saja. Tolong jangan membuat ku bingung.” 

Sambil tersenyum Aneri mengambil bungkusan belanjaan ditanganku, “Aku mengerti Diyanu, pergilah, kau ingin melihat Key kan? Aku yang akan menggantikanmu membawa ini kerumah.” Dia mendorong pundakku “Biar aku yang mengatasi Mura dan Ibu mu.”

Merasa sangat tersentuh, aku memeluk Aneri. “Terima kasih Aneri. Lain kali aku akan membalas hutang budi ini.” Aku berlari menuju perpustakaan daerah. Key pasti sedang bekerja disana sekarang.

***

Gagang pintu rumah berputar, pintu terbuka, Aneri masuk dengan sedikit kelelahan. Belanjaan ini cukup berat. Tanpa basa basi ia segera menuju ke dapur dan memberikannya kepada Bibi.

“Loh, Diyanu mana?” Tanya Bibi.

Aneri tidak langsung menjawab, ia meneguk air putih yang tersedia di atas meja, “Tadi tiba-tiba dia bertemu dengan teman sekolah, sepertinya ada urusan penting. Jadi aku pulang duluan Bi.” Ia menjawab dengan kata-kata yang sudah disusun sepanjang perjalanan pulang.

“Bi, aku harus segera pulang, besok aku akan main kesini lagi.” Pamit Aneri.
Ketika  memasuki ruang keluarga Aneri melihat Mura memegangi buku sketsa yang diletakkan Diyanu dibawah meja. Buku itu penuh dengan sketsa wajah Key. Amarah terlihat dari raut wajah Mura. Satu buah kebohongan Diyanu mau tak mau sudah terungkap.

“Dari awal kau sudah mengetahui hal ini kan?” Tanya Mura.

“Tahu apa? Aku tidak mengerti apa yang kau katakan.” Aneri berusaha menghindar.

“Jangan pura-pura bodoh, sekarangpun kau pasti tahu kemana Diyanu pergi. Siapa laki-laki ini?” tanyanya sambil menyodorkan gambar Key.

“Aku tidak mengenal orang itu.”

“Sudahlah Aneri, kau sahabat pacarku, artinya kau juga sahabatku. Kau tahu kalau aku sama sekali tidak punya maksud buruk. Tetapi mengapa membohongiku? Aku datang jauh-jauh kemari bukan untuk dipermainkan oleh kebohongan kalian. Jadi tolong jelaskan padaku.” Mura mencoba bicara dengan sabar. Sebenarnya kemarahan sudah terpancar jelas diraut wajahnya.
Aneri yang bingung dengan kondisi ini mengambil keputusan yang dianggap bijak. Ia mengajak Mura keluar dan menceritakan ketertarikan Diyanu terhadap tetangganya Key.

Maaf Diyanu, Sungguh aku tidak tahu harus berbuat apa. Hatiku iba meliha Mura, tapi aku juga tidak ingin mengecewakanmu. Tapi jika Mura mengetahui yang sebenarnya dan tidak ada kebohongan, aku rasa itu akan lebih baik untuk kita semua.

Aneri menceritakan pokok permasalahan tanpa mempertimbangkan apa yang akan terjadi pada Key.

***
Dari sudut ruangan aku memperhatikan nyonya Oslo yang sibuk dengan tugasnya melayani para pengunjung perpustakaan. Ia memberikan beberapa informasi ketersedian buku kepada seorang pengunjung perpustakaan yang mengenakan pakaian kantor. Nyonya Oslo benar-benar wanita yang baik.
“Kak Key.” Seorang anak kecil menyapa Key dengan takut.

“Iya,ada apa? Ada yang bisa kakak bantu adik kecil?” tanya Key dengan mengelus rambut pendek anak laki-laki yang ketakutan itu.

“Guru disekolah memberikan tugas mencari buku sejarah zaman Meiji. Dari tadi aku tidak bisa menemukannya. Kakak bisa bantu tidak?” pintanya dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Key tersenyum dan menuntuk anak itu ke rak buku yang ada didekat pintu belakang perpustakaan,”Disini letak buku sejarah, nah Ini buku sejarah untuk anak elementary school.”

“Ah ada, terima kasih kak. Aku Youta, kelas 5 Elementary.” Ucapnya lucu.

“Youta... lucu sekali. Sekarang berikan buku ini kepada Ibu yang dimeja sana, dia akan memberi mu kartu peminjaman. Jangan sungkan-sungkan, lain kali datang kesini lagi yah Youta.” Key kembali mengacak pelan rambut Youta.

“Aku akan rajin-rajin datang,” lalu Youta berlari senang kearah nyonya Oslo.

Merasa sedikit lelah, aku memilih duduk dikursi yang terletak disudut ruangan. Mata ku menyapu seluruh ruangan memastikan semuanya berjalan lancar. Tapi mataku berhenti pada seorang gadis yang duduk membelakangi tepat kelang dua bangku didepanku. Aku mengenali gadis itu. Dia Diyanu, tetangga baru.

Pertama kali bertemu dengannya di tangga sekolah. Dan sudah dua minggu terakhir ini dia selalu megikutiku kemanapun aku pergi. Seperti hari ini. Sifat penguntitnya itu sangat mengganggu, tapi entah mengapa aku diam saja dan membiarkan dia tetap berjalan dibelakangku serta melihat apa yang aku kerjakan tanpa harus ada yang ditutupi.

Tadi pagi Diyanu melihat aku bekerja mengantar koran pagi, melihat aku dihalaman dengan mobil mercy, memataiku disekolah dan ditempat kerja. Apa yang dia cari?

*****

To be Continue to part 4........

In this part much part of Diyanu ^^
And for the next we will know what happen to Key...
So please waiting next part...

-       I miss my sister now, so much –

Don’t Believe In Anything (2/4, Indonesian)


Details: Quarterlogy
Title    : Don’t Believe In Anything
Genre : Family, Friendship, Romance
Rating : General
Language       : Indonesia and English
Theme song  : YUI- Good Bye Days
Author            : Amel Chan

Synopsis:
Human is a pupil, pain is the teacher.
-Ryosuke Yamada-

Cats:
Ryosuke Yamada       as        Ryosukey
Dyan patricia P.P        as        Diyanu (Out Character)
Aneri (Diyanu’s best friend)
Otousan (Ryosuke’s Dad)
Furata (Ryosuke’s Brother)
Ishida Mura (Rival-male)

Part 2

The Ambition

June 1st, at 6.30 am

Aku kembali mengayuh sepeda milik paman tempat aku bekerja mengantarkan koran pagi. Nama panggilanku Key, sebelum pergi kesekolah setiap pagi aku rutin melakukan pekerjaan ini. Mengantar koran pada pelanggan di sekitar pusat kota kagoshima. 

at 3 pm

“Key, tolong susun buku-buku ini dibagian Ilmu Bahasa.” Wajah Nyonya Oslo dihiasi senyuman saat meminta ku mengangkat dan membereskan dua buah kardus yang baru diantar oleh pihak pemerintah. 

Aku yang sedari tadi mengutak-atik komputer untuk menambahkan check list baru di daftar buku baru segera menekan tombol ctrl s untuk menyimpan semua data, setelah itu mendekati nyonya Oslo dengan dua buah kardus besar didekat kakinya. Nyonya Oslo memberikan selembaran data buku baru.

“Itu daftar buku yang ada didalam kardus dan sudah di data kemarin malam.  Kau tahu apa yang harus dilakukan kan Key?” Ia menepuk pundakku dan kembali kemejanya. 

Nyonya Oslo adalah penjaga perpustakaan daerah di kota kecil ini. Ia sudah empat puluh empat tahun mengabdi sejak tamat senior high school. Diusia yang menginjak enam puluh dua tahun, guratan kecantikan saat mudanya masih terlihat. Kulitnya sedikit gelap, rambut coklat yang selalu di gulung, olesan make up natural yang membuat penampilannya terlihat sederhana. Aku sudah menganggap nyonya Oslo seperti ibu ku sendiri. Setiap hari saat di jadwal kerja ia selalu menyempatkan diri membawakan ku makanan. Ia punya seorang anak perempuan yang sudah menikah dan tinggal di Sendai. Karena kesibukan kerja dan mengurus anak, putri nyonya Oslo jarang pulang ke Kagoshima prefecture. Dua tahun lalu di bulan May adalah pertemuan terakhirnya secara langsung. 

Hari ini saat aku baru tiba di perpustakaan Nyonya Oslo langsung menarik lengan ku dan mengajak ku duduk di sampingnya. Dengan wajah sumringah ia bercerita kalau anaknya menelpon dan akan pulang ke sini akhir bulan depan. Hampir satu setengah jam ia tidak berhenti menceritakan tentang hal itu. 

Kedua kardus itu cukup berat untuk ku bawa sekaligus. Aku memilih membawa sebuah kardus yang terlihat lebih berat terlebih dahulu dan kembali lagi untuk mengambil sisanya. Koleksi buku dibagian Ilmu bahasa rata-rata tebal dan banyak. Walaupun hanya perpustakaan kecil tetapi hampir semua buku bahasa di seluruh negara terdaftar disini. Rak di bagian ilmu bahasa menjadi rak yang paling berat dan membosankan karena berisi penuh dengan kamus-kamus tebal. 

Ada tujuh puluh empat nomor buku baru tercatat di kertas yang diberikan nyonya Oslo. Aku memisahkan buku-buku berdasarkan abjad dan letaknya. Ukuran ruangan perpustakaan tidak cukup luas untuk memuat banyak rak. Jadi rak dibuat tinggi sampai hampir menyentuh langit-langit. Setelah menyusun buku di bagian bawah, aku mengambil tangga lipat di gudang. Tangga itulah yang membantu ku menyusun buku-buku di rak bagian atas. Sudah dua kali aku terjatuh dari tangga itu saat menyusun buku. Saat jatuh yang pertama kali tidak terjadi cidera sedikit pun padaku, hanya kaki saja yang sedikit shock karena tiba-tiba menahan beban berat dengan tarikan gravitasi. Celakanya saat jatuh yang kedua kali nasib baik sedang tidak berpihak, kaki kiri ku patah. Dan harus beristirahat hampir dua bulan untuk bisa bekerja seperti biasa lagi. Padahal aku harus secepatnya mengumpulkan uang. 

Tidak ingin jatuh untuk yang ketiga kalinya, aku menyusun buku dengan hati-hati. Karena terlalu menghabiskan waktu jika kaki kiri ku harus patah lagi dan kembali berdiam diri di rumah. 

at 5.30 pm 

Setelah menyusun semua buku dan memakan makanan yang dibawa oleh nyonya Oslo, aku segera bergegas pergi ke  Machinago Fast Food. Aku menyeberangi zebra cross pasar yang menjadi pusat kota Kagoshima. Beberapa taksi berhenti menunggu lampu berubah warna menjadi hijau. Taksi yang tidak sabar membunyikan bising klaksonnya. Pada jam sesore ini, pasar menjadi sangat ramai oleh lalu lintas hiruk pikuk, penuh orang yang baru pulang dan akan pergi kerja. Saat menyeberangi jalan aku bisa melihat restaurant tempat ku bekerja, ramai seperti biasa dan teman-teman yang berkerja di shiff siang terlihat sudah lelah. 

Dengan langkah ynag dipercepat aku memasuki restaurant, Taka tersenyum lega melihat kedatanganku.

“Huhh, hari ini benar-benar melelahkan. Entah kenapa pelanggan hari ini datang bersamaan dalam sekali waktu. Cepat pakai seragam dan celemek mu, aku sudah tidak tahan lagi mau pulang. Kaki dan pundakku pegal.” Keluh Taka. Dia adalah orang yang membantuku mendapatkan pekerjaan ini. Lalu aku mengikuti langkahnya masuk keruang ganti. Dia mengganti pakaiannya dengan ogah-ogahan, mungkin sedang ada masalah lain. Aku tidak menghiraukannya. 

“Bekerjalah dengan semangat, aku pulang dulu. Sampai jumpa besok.” Taka menutup lemarinya dan pergi dengan langkah yang lebar. Selalu begitu. Taka tidak pernah bisa menutupi perasaannya. Kalau marah dia akan terlihat sangat marah, dan jika senang dia akan menjadi orang yang paling ceria di dunia. Sudah tidak mengherankan lagi jika Taka datang ke restaurant dengan dahi yang berlipat-lipat atau dengan tawa tanpa henti sambil memeluk semua orang yang ada disana. 

Waitress, itu pekerjaan ku disini. Melayani pelanggan yang akan memesan menu, mengantarkan makanan kemeja-meja lalu membersihkan meja. Bos memposisikan ku menjadi waitress dengan alasan karena wajah ku yang lumayan bisa menarik hati pelanggan. Pendapatan harian pada malam hari selalu lebih banyak dari pada siang. Mereka bilang itu semua karena aku bekerja di malam hari. Tapi kalau menurutku itu karena memang orang lebih suka hang out dan makan diluar pada malam hari. Disini setiap malam aku mengobral senyum dan keramahan. Aku menjawab semua pertanyaan pelanggan yang tidak penting tentang diriku dengan jawaban palsu. Beramah tamah dengan mereka semua itu hanya demi uang. 

Pukul 10.30 restaurant tutup dan aku pulang dengan menaiki bus. Tapi bus tidak sampai kedepan rumah, berhenti dihalte terdekat dan aku harus berjalan lagi sekitar 7 menit untuk sampai kerumah. 7 menit berjalan kaki itu jarak yang dekat apa lagi dimalam hari, tidak ada cahaya matahari menyengat yang akan membuat ubun-ubun mendidih.

Tidak jauh beda dengan malam-malam sebelumnya, tiada hari tanpa adu mulut dengan ayah. Setiap anggota keluarga memegang kunci rumah. Tapi kali ini Key tidak bisa memasukkan anak kuncinya kedalam gagang pintu. 

Ah shit, ini pasti ulah ayah. Ayah sengaja tidak menarik anak kunci dari dalam rumah, sehingga Aku tidak bisa memasukkan kuncinya. Aku bergumam tidak sabaran, ingin sekali rasanya menggedor pintu sekuat tenaga agar semua orang tahu kalau malam ini ayah dan anak yang tidak pernah akur berkelahi lagi. 

“Kau ingin aku mendobrak pintu ini?!” Tanyaku kasar. “Ayah aku tahu kau didalam”.

“Baguslah kalau kau sadar ayah sengaja melakukannya. Hampir mati karena bosan ayah selalu bilang jangan pulang tengah malam. Selalu tidak ingin mendengarkan orang lain. Apa susah menuruti permintaan ayah sekali saja? Apa ayah sangat tidak berarti? Tidak bernilai untuk mu?” suara ayah terdengar jelas dari balik pintu. Ia bicara perlahan dan pasti. Suaranya berwibawa. Nada bicara yang sangat aku sukai. 

“Berhenti bersikap seperti anak kecil. Kau sudah tua. Kalau tahu aku lelah, cepat buka pintunya atau aku tidak akan pernah kembali lagi kerumah ini!” nada bicara ku meninggi. Walau aku tidak melihat muka ayah dari balik pintu, bisa dipastikan kalau ia takut dengan gertakkan ku. Suara antukkan besi ringan terdengar disela-sela gagang pintu berwarna coklat keemasan. Pintu terbuka dan wajah laki-laki tua ini terlihat berkerut-kerut entah karena apa. Mungkin menahan marah, khawatir , atau menyesal mempunyai anak sialan seperti ku. 

Bosan beradu mulut dengannya, aku masuk melewati ayah dengan cepat menaiki tangga kamar. Meninggalkannya didepan pintu. Terserah apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Aku lelah. Terlalu menghabiskan tenaga melayani ocehan tidak berkehabisan itu. 

Apa benar seperti itu?

Benarkah aku tidak perduli dengan ayah?

Kamarku terlihat rapi. Mungkin Furuhata, kakak ku yang bernasib malang karena diumur 9 tahun dia mengalami sakit panas yang sangat tinggi. Berakibat fatal. Kedua matanya menjadi buta. Tapi setiap hari ia rajin sekali menaiki tangga hanya untuk merapikan kamarku. Padahal aku selalu merapikan kamar, aku orang yang rapi. Furuhata selalu mengelap meja yang sudah ku lap, menyapu lantai yang sudah ku sapu, menyusun buku yang sudah tersusun, melakukan hal yang sia-sia.  

Sedikit kejutan kecil karena malam ini Furuhata tidak ikut-ikutan ayah menyerangku dengan omelan. Anggap saja Furuhata itu anak kesayangan ayah. Oh, bukan anggap saja. Tetapi memang begitulah adanya. Sejak aku mulai bisa mengingat sesuatu, yang paling kuingat sampai sekarang adalah ayah sangat memperhatikan Furuhata. 

2 atau 3 tahun yang lalu sebelum aku berubah menyebalkan, sebelum pertengkaran menjadi rutin dirumah, dan sebelum selalu aku yang salah, disaat aku menjadi pusat perhatian karena kecerdasan, kemampuan, dan ketampanan ku. Disaat aku menjadi anak kebanggaan, ayah tetap sangat memperhatikan Furuhata dan hanya memberikan sisa perhatiannya yang hampir habis padaku. Tetapi aku sampai sekarang bisa memakluminya, itu karena dia buta dan memang membutuhkan perhatian lebih. 

Furuhata 5 tahun lebih tua dari ku. Tahun depan dia akan menamati kuliahnya. Kebutaan tidak menghalangi Furuhata untuk mendapatkan gelar sarjana dibidang keguruan matematika. Bibit jenius yang tertanam didalam dirinya membuat semua orang normal heran. Cacat fisik di bagian indra yang sangat penting bukan halangan sama sekali untuk menjadi yang paling unggul di Universitas. Berapa kali ia mendapatkan penghargaan mahasiswa berprestasi dan mendapat beasiswa dari bank negeri ternama di Jepang. Jujur aku sangat bangga padanya. Aku menyayangi kakakku satu-satunya ini. Tapi kenapa susah sekali untuk akur. Dia selalu mengalah, tapi watak buruk ku menolak hati untuk berdamai dengannya. Nada bicara dan karakter lahirku yang seperti ini memperkeruh keadaan. Keegoisan dan keras kepala yang sangat. Sifat yang sok pahlawan dan menahan semua permasalahan sendirian, membuat mereka tidak pernah tahu apa yang sedang kuhadapi sekarang. Apa yang sedang aku perjuangkan sekarang. Cukup aku yang tahu dan jangan banyak bertanya. 

Aku melepas jaket dan menggantungnya di belakang pintu, lalu berjalan kearah jendela untuk menyibak tirai. Aku suka tidur dengan tirai terbuka, sehingga cahaya temaram bulan dan bintang masuk kedalam kamar. Saat hujan aku suka melihat kilatan petir dan air hujan yang dibawa angin. Koleksi photo suasana kelam seperti itu sudah hampir memenuhi kotak photo ku. 

Aku masuk senior high school jurusan seni khususnya photographi. Sejak ayah membelikanku kamera polaroid 6 tahun yang lalu, aku jadi sangat menyukai bidang ini. Hampir kemanapun aku mengalungi kamera tua ini. Menangkap semua moment dan objek yang menarik pikiran. Mencatat jejak perjalan hidup yang mungkin muat hanya dalam kotak photo kecil. Waktu tidak mengizinkan key membeli kotak baru untuk menyimpan bukti jejak perjalanan hidupnya. Kamera kesayangan, maaf, besok aku harus menjual mu. Tidak perlu lagi menangkap sisa perjalanan ku yang menjadi semakin kelam dan lambat. Jangan menyimpan sisa bukti di saat terburuk nanti. 

Malam ini terasa sangat lelah, padahal kegiatan dan pekerjaan yang kulakukan sama dengan hari lainnya. Setelah mencuci muka aku tidak segera merebahkan diri di kasur. Aku menggeser perlahan letak kamera polaroid kesayangan dari meja dan menyalakan personal computer di meja belajar. Saatnya melakukan pekerjaan yang paling banyak menghasilkan uang. 2 tahun belakangan aku menerima pelayanan jasa membuat Journal penelitian ilmiah dan Skripsi. Mahasiswa yang tidak punya kemampuan dan malas kebanyakan memakai jasa ku untuk membuat persyaratan lulus kuliah mereka. Entah sudah berapa belas karya ilmiah dan skripsi yang ku selesaikan. Akui saja, otak ku memang encer.  Inilah yang mengisi tabungan ku sehingga hampir mencapai target. 

Sebentar lagi Key, bertahanlah... kau harus kuat.

Pukul 2.45 pagi, badan ku bergetar. Tangan terasa dingin. Satu titik diperut berdenyut perih. Semakin perih dan menjalar ke seluruh tubuh. Kepala ku terasa berat dan berputar. Dengan sisa kesadaran aku mencoba bangkit dari kursi dan berjalan kekasur. Perlahan-lahan merebahkan diri di kasur. Uuhh.... sakit sekali. Aku meringkuk memegangi perut. Keringat dingin mengalir deras. 

Tuhan....

Aku tidak kuat ...

Tapi tolong, beri aku waktu sedikit lagi...


Dari hidung mengalir darah segar dengan deras. Aku berusaha mengelapnya dengan pakaian yang ada dikasur. Tapi rasa perih disekujur tubuh membuatku tidak mampu meraih pakaian itu. Tubuh bergetar hebat dan kesadaran ku perlahan-lahan menghilang. 

*****

“Diyanu? Hampir tengah malam begini kenapa baru pulang?” tanya ibu khawatir.
Sebelum menjawab pertanyaan ibu, aku segera menuju ruang makan dan mengambil air dari dalam kulkas. 

“Jika dirumah aku akan teringat sahabat-sahabat di Osaka. Jadi aku keluar untuk menghibur diri sendiri. Ternyata kota kecil ini lumayan bagus juga Bu.” Jawab ku santai. Dan itu adalah jawaban bohong. 

“Begitu yah, tapi lain kali kalau ingin pergi beri tahu ibu dan ayah, kami khawatir mencari mu tadi.” Pinta ibu.

“Baiklah, aku tidur dulu. Selamat malam Bu.” Aku bergegas menaiki tangga. Oh my sweet room. Kaki ku terasa pegal. Melihat kasur disudut kamar seperti melihat OASIS di tengah gurun pasir. Tapi rasa penasaran mengalahkan keinginan untuk tidur. Aku menyibak sedikit tirai jendela dan melihat tetangga aneh ku Key lagi-lagi ribut dengan ayah nya didepan pintu. 

Seharian ini dari pagi aku mengikutinya. Membuntutinya disekolah, diperpustakaan kota, restaurant fast food, dan sampai pulang kerumah. Sekarang pun aku masih menguntit Key dari kamar. Eh, dia membuka tirai kamarnya. Key memandangi langit malam dari jendela, ia masuk ke kamar mandi lalu keluar dan duduk sambil menghadap personal komputer di meja belajar.
Apa yang Key lakukan? Sudah lewat tengah malam begini kenapa belum tidur?


Huuh, aku lelah mengikutinya seharian. Karena penasaran dengan perubahan wujud Key setelah pulang sekolah dari gaya culun menjadi keren menggerakkan kakiku untuk menguntitnya. Dan banyak sekali hal mengejutkan yang kuperoleh. Ternyata sepulang sekolah Key bekerja di perpustakaan daerah, setelah itu dia lanjut kerja di restaurant fast food Machinago Fast Food. Di perpustakaan daerah dia bekerja dengan nyonya tua yang jika tidak salah namanya nyonya Oslo, di restaurant dia bekerja sebagai waitress yang digandrungi pelanggan wanita. Tapi saat itu Key terlihat keren sekali. Ramah dan senyumnya manis. 

Diyanu, apa yang kau pikirkan. Sebenarnya aku kenapa?

Baiklah Key, lanjutkanlah bermain dengan personal computer mu, aku tidak sanggup menguntit kegiatan mu sampai pagi. 

Aku menutup tirai dan tidak sabaran berbaring dikasur. 

Selamat malam Key.

*******

To be Continue to part 3..

Don’t Believe In Anything (1/4, Indonesian)

Details: Quarterlogy
Title    : Don’t Believe In Anything
Genre : Family, Friendship, Romance
Rating : General
Language       : Indonesia and English
Theme song  : YUI- Good Bye Days
Author            : Amel Chan

Synopsis:
Human is a pupil, pain is the teacher.
-Ryosuke Yamada-

Cats:
Ryosuke Yamada       as        Ryosukey
Dyan patricia P.P        as        Diyanu (Out Character)
Aneri (Diyanu’s best friend)
Otousan (Ryosuke’s Dad)
Furata (Ryosuke’s Brother)
Ishida Mura (Rival-male)

Part 1
SMALL TOWN

Sampai sekarang aku masih merpertanyakan apa yang membuat Ibu bersikeras pindah ke kagoshima prefecture. Dilihat dari sisi manapun lebih baik kami tetap berada di Osaka. Bukan hanya tentang fasilitas yang aku bicarakan, tetapi yang terpenting adalah teman-temanku. Rumah dan lingkungan tempat aku tumbuh besar. Jalan yang setiap hari aku lalui bersama teman-teman saat pergi dan pulang sekolah. Tempat karaokean yang hampir setiap bulan kami kunjungi. Mall, taman, coffe shop, takoyaki shop. Dan sekolah.... Sekolah yang berisi orang-orang yang aku sayangi.

Apa Ibu harus memaksa ku mengucapkan selamat tinggal pada itu semua?

Dan Ibu sudah berhasil membuat ku melakukannya.

Selamat tinggal kebahagiaan ku....

Selamat tinggal hidup ku.....


Ketika mobil fan yang ayah sewa memasuki jalanan sempit dan berhenti disebuah rumah yang cukup besar, kota kecil itu terlihat sunyi sekali. Tidak ada salak anjing menyambut mereka, tidak ada deru kendaraan lain yang melintasi tempat itu. Lonceng gereja tidak berdentang. Apa karena sekarang pukul 3 pagi? Sunyi. Semuanya terlihat seperti kota mati, sesunyi perasaan ku yang terasing. Bagaimana tempat ini akan mempermainkan nasibku nanti? 

Rumah bertingkat dua dan berwarna coklat susu. Terlihat cukup mewah dan luas dibanding dengan rumah lain disekitarnya. Saat melangkahkan kaki keluar dari mobil, aku bisa langsung melihat pekarangan rumah baru kami. Rumput hijau yang terawat. Beberapa bunga berwarna kuning bermekaran di pinggir rerumputan. Entahlah apa nama bunga itu, tapi terlihat sederhana dan elegan. Bunga itu mengeluarkan aroma terapi yang menenangkan. 

Perjalanan panjang serta malam yang melelahkan. Ayah dan Ibu segera mengeluarkan barang-barang dari mobil. Aku tidak mau membantu mereka. Karena masih marah dengan kepindahan ini dan harus memulai semuanya dari nol.

Aku memegangi gagang pintu bulat dan memutarnya kekanan. Pintu terbuka. Tidak ada bau debu yang tersisa. Aku rasa penghuni rumah yang sebelumnya belum lama meninggalkan rumah ini. Ruang tamu dengan kursi modern bergaya barat cocok sekali dengan beberapa lukisan Perancis yang tergantung didinding. Aku segera meninggalkan ruang tamu dan mencari kamarku. Disepanjang perjalanan tadi ayah selalu membicarakan keadaan rumah baru kami. Rumah yang luas, ada halaman belakang, ada empat kamar, ruang santai, blah blah blah... dan yang paling kuingat ayah bilang kalau kamarku ada ditingkat dua. 

Mataku mencari lorong tangga dan menaikinya dengan tidak sabar. Di anak tangga terakhir aku hanya menemukan satu pintu. Dan sepertinya memang hanya ada satu ruang di tingkat dua. Pintu tidak berdenyit saat ku geser. Tanganku meraba-raba dinding mencari kontak lampu. Kegelapan membuatku tidak bisa menemukannya. Aku mengeluarkan ponsel dari tas ransel yang dari tadi bergelayutan dipunggung. Cahaya dari ponsel cukup terang untuk aku dapat menemukan kontak lampu yang ada disamping lemari tidak jauh dari pintu. Aku melontarkan pandangan liar kesekeliling kamar. Kamar yang sangat luas, dua kali luas kamarku yang dulu. Kasur mungil tersusun disudut kamar. Meja kecil dan karpet coklat ditengah ruangan. Ada dua pot bunga androllium di dekat jendela yang ditutupi gordeng putih. Sebuah lemari belajar, seperangkat personal komputer, sebelas burung kertas yang menghiasi langit-langit kamar. Tidak terlalu banyak perabotan dikamar dan aku suka tatanannya. 

Terdengar suara plastik pecah saat tas ransel dibanting ke atas kasur. Mungkin kertas steroform tempat ayam bakar yang dibeli tadi siang. Aku tidak terlalu menghiraukannya. Cukup lelah dengan psikologis ku yang payah. 

Cahaya bulan yang temaram menarik minat ku untuk membuka  jendela. Waw, mataku terbelalak melihat pemandangan kota yang indah. Lampu seakan berkerlap kerlip. Aku bisa melihat pantai dan mendengar suara deburan ombak. Mengapa ayah tidak bilang kalau didekat sini ada pantai. Lalu mataku tertuju pada seorang laki-laki yang berjalan cepat dan sedikit terseok. Suasana yang temaram membuatku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dia memasuki pekarangan rumahnya yang kecil tepat berada disamping rumah baru ku. Belum sempat ia memasukkan anak kunci pintu sudah terbuka. Seorang laki-laki berbadan sama besar menghalangi jalannya dipintu.

“Key, Kau tahu sekarang jam berapa?” tanya orang itu tanpa berpindah tempat.

“Kenapa?! Kau terganggu?! Tidak suka?! Mau aku pulang jam berapa itu bukan urusan mu. Lagi pula aku selalu pulang jam segini.” Sosok yang dipanggil Key mendorong orang itu dengan paksa sampai hampir terjatuh. 

Setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi. Pintu ditutup dan aku menjadi sangat penasaran. Jam setengah empat malam. Rasanya wajar kalau orang itu marah, hmmm mungkin dia kakaknya Key. Apa Key senakal itu? Dia tetangga pertama yang aku lihat. 

***
May 27th

Beberapa gerombolan anak sekolah berpakaian senior high school berlari-larian kecil menuju sekolah. Pakaiannya sama dengan ku. Sepertinya satu sekolah. Temperatur yang hangat membuat mood ku cukup baik pagi ini. 

Ada tiga pohon mapel dihalaman sekolah. Halaman dilapisi semen dan bersih. Suara sepatu tidak terlalu berdentum karena di alam terbuka. Rasanya tidak terlalu sulit untuk beradaptasi. Masalahnya, apa aku bisa menemukan seorang sahabat disini? Cukup, jangan terlalu banyak berfikir Diyanu. Sebaiknya segera keruang guru dan menemui wali kelas. 

Wali kelas ku guru muda yang cantik. Katanya dia baru diangkat jadi guru lima bulan yang lalu. Bisa dikatakan masih junior dibanding dengan rekan kerja yang lain. Tapi dari wajahnya semua  orang bisa menebak kalau dia wanita yang cerdas. Cara bicara dan gerakannya elegan. Kharismanya terlihat alami. Tidak perlu berlagak bisa untuk menunjukkan kalau dia memang bisa melakukan segala hal. Karena dia memang sudah terlihat seperti itu. 

2-C. Pergi ke gedung 2, dari pintu depan belok kiri naik ketangga pertama, ambil arah kanan. Kelas urutan ke tiga adalah kelas 2-C. 

Okeh, pertama masuk ke gedung 2. Tujuh buah susunan lemari loker menyambut kedatangan ku. Aku mencari loker nomor 59 dan mengganti sepatuku dengan sepatu indoor putih. Here I go! Perlahan aku menarik napas dalam-dalam sambil berjalan menaiki tangga.

Brakk!!

Ada kecelakaan kecil tepat lima anak tangga diatas ku.

“Hey! Pakai mata mu! Aku rasa kau harus menanggalkan kaca mata tebal yang membuat kau semakin rabun.” Laki-laki itu melirik lawan jatuhnya seakan-akan berhadapan dengan mahluk menjijikkan. Ia menyibakkan baju yang bersenggolan dengan lawannya. Lalu pergi dengan menendang buku tebal yang terjatuh. Sialnya buku itu tergelinding mengenai kaki kiri ku.

Si kaca mata diam saja mendengar kata-kata itu. Dia memperbaiki letak kaca mata dan memungut lembaran kertasnya yang berserakan ditangga. Aku memungut buku tebal yang mengenai tulang kering ku tadi. Membantu menggumpulkan sisa lembaran kertas. Eeh, Ini bukan kertas biasa. Kertas photo dengan gambar-gambarnya yang dibidik dari berbagai tempat. Lama aku memandangi sebuah photo sederhana yang terakhir ku pungut. Hanya gambar sebuah daun yang sedang jatuh gugur dari dahannya. Gambar close up dengan resolusi tinggi. Tapi, daun itu terlihat sedih. Suhu di dalam photo seperti di musim dingin. Gugurnya perlahan. Tapi aku melihat sepertinya daun itu belum mau gugur. Dan pohonnya pun seperti tidak ingin daun itu gugur dengan cepat. Bukan daun kering. Ia hanya layu dan tidak kuat untuk tetap berusaha berada di dahan. Akhirnya dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia tidak bisa melawan takdir yang menggugurkannya. 

Aku tertegun karena photo yang ada ditanganku ditarik secara tiba-tiba. 

“Terima kasih sudah membantu.”

“Eh, iyah. Bukan apa-apa. Kau suka memotret yah?” Tanyaku seraya menyodorkan buku dan lembaran photo lainnya.

“Tidak. Terima kasih.” Ia memutar badan dan menaiki tangga  sambil memegangi perutnya.
Aku berlari menyusul. 

“Tunggu! Aku Diyanu. Panggil aku Diyan. Tolong beri tahu aku dimana letak kelas 2-C.”
Ia tidak menghentikan langkahnya. “Setelah tangga ini belok kanan, disana ada kelas yang kau cari.” 

“Terima kasih, nama mu?” sebenarnya aku masih ingat petunjuk wali kelas tentang dimana letak kelas 2-C. Aku hanya berusaha mencari topik untuk calon teman pertama ku di sekolah. Tapi sepertinya dia tidak bersahabat.

“Key. Berhenti bertanya dan carilah kelas mu.” Ia berhenti, duduk ditangga dan menunggu aku pergi dari hadapannya.

Key? Aku seperti pernah dengar nama itu. Tapi dimana?

“Baiklah, sampai jumpa lagi Key.” 

Huuffh, kalau boleh jujur. Orang yang bernama Key ini membuat ku illfeel. Kenapa di jaman semodern ini dia masih menggunakan kaca mata tebal yang bergaya jadul. Lalu ada apa dengan gaya rambutnya? Dibelah dua dan dilumuri minyak rambut yang sangat berminyak. Baju yang dikancing sampai leher. Celana yang sedikit menggantung. Dan perfume-nya yang luar biasa menyengat. Dengan gayanya yang super norak begitu mana ada wanita yang mau mendekatinya. Bisa-bisa bau perfume-nya menempel dan membuat mereka dijauhi teman laki-laki. Apa dia tidak pernah membaca majalah fashion. Atau setidaknya menonton televisi dan melihat dunia luar. Ensiklopedia, itu buku yang ku pungut tadi. Ternyata dia orang yang sangat membosankan. Mungkin aku akan mencari teman yang lain saja. 

Dengan sisa-sisa percaya diri aku melangkah memasuki kelas. Lalu seorang perempuan berkaca mata, rambut hitam sepundak yang hampir sama panjang denganku menghampiri dan mengulurkan tangan.

“Apa kau yang bernama Diyanu? Aku Aneri, ketua kelas 2-C.” Senyumnya ramah dan lebar.
Aku menyambut tangannya, “Diyanu, mohon kerja samanya Aneri.” 

“Mari.” Dia memberi ku kode untuk mengikutinya.

“Ini meja dan kursi mu. Dan ini tempat ku. Kita bersebelahan.” Beruntung sekali. Aneri ramah dan terbuka. Mungkin kami akan cocok. 

Murid-murid yang lain juga menyambut ku dengan hangat. Sama saja dengan murid-murid disekolahku yang lama. Sekarang aku bisa bernafas lega.

Hari pertama ku disekolah baru berjalan lancar. Selanjutnya aku bisa kesekolah dengan ringan. Jarak dari sekolah kerumah sekitar satu kilometer. Tidak terlalu jauh untuk berjalan kaki.

--

“Diyanu. Kau tinggal dimana? Kearah sini juga?” Aneri memberhentikan sepedanya. “Ayo naik, kita pulang sama-sama” Ia menawarkan ku duduk di belakang sepedanya. Tanpa mempertimbangkan apapun aku segera naik dan berpegangan. Kami membutuhkan waktu sekitar se per empat jam untuk tiba dirumah.  

“Aneri, masuklah dulu. Kita makan siang dirumah ku.” Dia mamarkirkan sepeda di depan garasi.

“Tadaima!” aku dan Aneri masuk kerumah, aroma bawang goreng tercium harum dari ruang makan.

“Okaeri, Diyanu.” Ibu menyambut kepulangan ku. Ia masih menggunakan celemek.

“Aa, ada tamu. Teman barunya Diyanu yah?” tanya Ibu.

“Iyah Bu, kami teman sekelas, dan kebetulan rumah ku juga arah sini, masih sekitar lima menit lagi jika bersepeda.” Jawab Aneri.

“Sering-seringlah main kesini. Ibu sedang menyiapkan makan siang. Tunggu sebentar lagi yah.” Ibu kembali ke dapur. Suara percikan ribut minyak terdengar sampai ke kamar ku di ruang atas.
Seperti dugaan, Aneri tampak sangat menyukai suasana kamar ku. Ia berjalan memeriksa setiap sudut kamar. Dan bertanya macam-macam tentang kehidupanku di Osaka. Aku membuka jendela, dan duduk di kursi yang berada didekatnya. Lalu aku berusaha memfokuskan pandangan kearah orang yang memasuki pekarangan rumah tetanggaku dengan terengah-engah, terburu-buru? Gaya norak itu sepertinya aku kenal.

Aaa Key! Dia Key! Orang pertama yang berbicara dengan ku pagi tadi disekolah. Kenapa dia disini? Apa dia tetanggaku? Apa dia orang yang kemarin malam juga?

Setengah jam kemudian seorang laki-laki berperawakan mirip Key keluar dari rumah. Tapi dia tidak terlihat seperti Key. Rambutnya berantakan ditata menyamping, tanpa kaca mata, mengenakan sepatu kets, baju kaos, jaket biru tua dan jeans. 

“Key!! Mau pergi kemana lagi?!” Suara marah itu dilontarkan oleh seorang bapak tua yang menggunakan kursi roda. Ia tertahan dipintu. Kursi roda manual itu tidak memungkinkan ia untuk keluar rumah. Apa dia ayahnya Key? Tua sekali, terlihat seperti kakekku.

“Bukan urusan mu.” Jawab Key tanpa menoleh kebelakang.

***

Aku berusaha berjalan memasuki pekarangan rumah yang sempit. Tapi, pekarangan itu terlihat sangat lebar sekarang. Dengan memaksakan diri aku berusaha berjalan menuju pintu dan segera menaiki tangga kekamar. Perut terasa sangat mual. Persendian seperti kehabisan tenaga. Aku menjatuhkan tas didepan pintu kamar dan segera masuk kekamar mandi. Perutku nyeri sekali jika dibawa berdiri. Aku terduduk dikamar mandi sambil menahan muntah. 

Beberapa minggu terakhir aku sering mengalami hal ini. Seperti pagi tadi. Perut yang nyeri membuatku tidak sanggup berdiri. Aku duduk di tangga sekolah selama dua jam sampai nyeri itu hilang. Ayah bilang magh kronis karena pola makan ku yang sangat tidak teratur. 

Dua puluh menit kemudian kondisi ku sudah mulai baikkan. Aku berdiri perlahan, terasa masih sedikit nyilu. 

Aku memandangi diri dicermin. Aku dapat melihat badut yang ada didalamnya. Rambut dibelah tengah dan berlumuran minyak. Selera baju yang parah. Kaca mata mainan yang tebalnya tiga kali lipat kaca mata penderita myopi.

Tapi aku harus melakukannya. Jangan sampai ada orang yang mengganggu hidup ku yang sudah hampir hancur. Penampilan seperti ini menjadi tameng untuk melindungi diri. Dari semua hal yang akan mengganggu. Dengan penampilan ini tidak akan ada yang ingin menjadi temanku. Aku tidak butuh teman, aku tidak butuh apa pun selain mewujudkan satu-satunya ambisiku. Akan lebih baik kalau mereka tidak menyadari kehadiranku disekitar mereka. 

Aku menghidupkan keran dan mencuci muka serta rambutku yang berminyak. Saat masih di junior high school aku tidak berpenampilan senorak ini. Sama dengan anak yang lain. Menjadi kebanggaan keluarga dengan selalu mewakili sekolah dalam pertandingan baseball dan photographi. Setiap mengikuti pertandingan aku tidak pernah menggenggam piala dibawah juara satu. Aku termasuk murid populer yang punya banyak teman. Tapi, semakin banyak teman, semakin sering dikhianati. Entah sudah berapa orang gadis yang kutolak ketika mereka menyatakan perasaannya karena kepopuleranku. Sudahlah, lupakan tentang masa lalu yang tidak penting itu. Aku sudah mengubur Key dua tahun yang lalu dalam-dalam. Dia sudah lama mati.

Key Yang sekarang adalah Key yang memalukan dan tidak bisa diatur. Tapi itu hanya tanggapan mereka yang tidak tahu apa-apa. Dan sebaiknya pun mereka tidak tahu apa-apa.

Sudah saatnya pergi bekerja. Aku mengganti pakaian dengan yang lebih pantas. Tidak dengan gaya badut memalukan. aku memakai jaket biru tua warna kesukaanku dan jeans. Rambut yang sudah bersih dari minyak di sisir acak. 

Aku mengemas peralatan kerja kedalam tas biru tua. 15 menit lagi jam kerja ku di mulai. Dengar berlari ke halte bis dan segera naik bis mungkin tidak akan telat. Aku turun dengar terburu-buru, Ayah dengan muka marah sudah menunggu dengan kursi rodanya di depan pintu. Kenapa setiap hari aku harus adu mulut dengan ayah?

“Key!! Mau pergi kemana lagi?!” nada tinggi seperti biasa lagi. Aku sudah terbiasa mendengar teriakan ayah. Aku tidak menghiraukannya dengan tetap berlari keluar rumah. Ayah tidak bisa keluar rumah dengan kursi rodanya. 

“Bukan urusan mu.” Jawab ku tanpa menoleh kebelakang.

***

To be Continue to part 2..