Title
: Eternity part 8 -Planning-
Categories
:
Multichapter
Genre
: Romance
Rating
: NC-21. If you don’t like. Just don’t read. I warn you
Theme song
: Hurry
Up – Hey Say Jump
Cast
: Inoo Kei
Hikaru Yaotome
Machiruu Yaotome (OC)
Yabu Kota
Yamada Ryosuke
Megumi Sakurada (OC)
Nakayama Yuma
Disclaimer
:
all cast are not mine, the story is mine
Synopsis :
Entahlah, aku merasa bahwa ada sesuatu yang tak beres
pada diriku. Tuhan menciptakan kita semua berpasang-pasangan. Besar dan kecil,
tinggi dan rendah, sedih dan bahagia, serta laki-laki dan perempuan. Semua ada
untuk melengkapi satu sama lain. Sudah hampir lebih dari setengah hidupku tak
terlengkapi seperti ini. terbawa oleh alunan kebekuan hasratku pada kaum
pelengkapku dan mencari subtitusi dalam sejenisku. Aku merasa bahagia namun
tetap tak merasa lengkap. melihat orang yang kusayangi yang sebentar lagi
menikah dengan adikku. Aku bahagia sekaligus iri. Melihat hidup mereka penuh
dengan cinta, cinta yang selama ini kudambakan. Karena itu, aku memutuskan
untuk keluar dari dunia subtitusi pelengkapku dan mencari sebuah kehangatan
cinta, pada seorang wanita. Kau tau? Ini bukanlah sebuah pelarian atau pun
sebuah penantian. Tapi ini adalah sebuah perjuangan, untuk lepas dari dekapan
kegelapanku.
******************************************************************************
“ohayou, kou-chan” inoo memberikan kecupan hangat di dahi pria
yang lebih tinggi dari dirinya itu. yabu membuka matanya dan merasakan
kepalanya masih sangat pusing. Ia tak begitu ingat kejadian kemarin malam. Yabu
memegangi kepalanya dan matanya membesar tersentak ketika melihat inoo yang tak
memakai pakaian sama sekali berbaring di sampingnya. Ia baru ingat apa yang
terjadi semalam
PAAKK !! Yabu memukul wajah Inoo
hingga tepi bibirnya berdarah. Yabu murka dan memasang wajah marah. Ia menarik
Inoo kemudian memukulnya lagi. Terus begitu hingga wajah Inoo babak belur.
“APA YANG KAU LAKUKAN !! BUKANKAH KAU SUDAH BERJANJI TAK AKAN
MELAKUKANNYA !!”
Inoo hanya diam tersenyum sambil menghapus darah yang berccucuran
di wajahnya.
Yabu semakin marah melihat respon dari Inoo yang seperti itu.
“PIKIRKAN BAGAIMANA PERASAAN RUU DAN MEGU!!” Yabu masih terus
membentak Inoo.
Inoo bangkit dan mendekati Yabu yang masih menahan kepalan
tangannya yang hendak memukul Inoo kembali.
“ne, Kou-chan, tak usah kau sebut nama wanita jalang itu lagi.”
“apa maksudmu?”
“maksudku?” Inoo tersenyum sinis dan nadanya mulai meninggi.
“semalam, aku menangkap basah dia sedang tidur dengan pria lain…”
“tak mungkin”
“itu benar. AKU MELIHATNYA DENGAN MATA KEPALAKU SENDIRI. Ruu tidur
dengan Ya..ma..da…. Yamada Ryosuke, HAHAHAHA Lucu sekali bukan??”
“apa?? Ryosuke?”
“Ya Kou-chan. Sahabatmu itu. sahabat masa kecil bedebah yang
sangat kau lindungi dan bangga-banggakan itu”
Yabu terdiam. Ia masih tak mengerti apa yang terjadi. Megu memang
bercerita pada Yabu bahwa Yamada sempat memintanya untuk menikah namun Megu
menolak dan sejak saat itu Yamada memutuskan untuk fokus ke pekerjaannya dan
hanya sesekali menghubungi mereka. Terakhir kabar yang Yabu dengar bahwa Yamada
bercerita ia mempunyai seseorang yang ia sukai, seseorang yang ia yakini akan
menjadi pendamping hidupnya nanti dan sangat tak sabar untuk melamarnya.
“jadi…” Yabu melanjutkan pembicaraannya sambil tertunduk
“ya kota, dunia memang sangat sempit. Dan aku tak tahu sudah
berapa banyak lagi laki-laki tidur dengan wanita
murahan itu”
PAK ~ Yabu menampar Inoo lagi. Ia memasang wajah geram pada Inoo.
“dengar Kei, tak seharusnya kau lontarkan kata-kata itu pada Ruu.
Dia sangat mencintaimu”
“huh, cinta? Cinta tak akan membiarkan dirinya tidur dengan
laki-laki manapun kan? “
“dia mencintaimu sejak kalian masih kecil”
“HAHAHA Kota, itu hanya cinta anak kecil, lagipula sepertinya bisa
saja karena amnesia, dia berubah…” Inoo membalas perkataan Yabu dengan sangat
enteng “dan kau tahu Kota?” Inoo mendekati telinga Yabu dan membisikkan
sesuatu. “aku …. Tak akan pernah …
menikah dengan wanita manapun….”
……………………………………………………..
“bagamana? Berhasilkan??” Hikaru menuangkan Chivas pada dua gelas
di sebuah kamar hotel dan memberikannya pada lawan bicaranya.
“ya, kau sangat hebat..”
“tidak Ryosuke, kau yang hebat. Kau bisa menghanyutkan adikku
untuk tidur denganmu..” Hikaru memeluk Yamada dari belakang. “dan menghancurkan
hubungan mereka…” ia melanjutkan dengan mengecup pipi Yamada.
“yamette !!” Yamada masih merasa agak jijik ketika dirinya disentuh oleh Hikaru.
“kau lupa, dengan perjanjian kita?”
“aku lelaki yang tak akan mengingkari janji.”
“baguslah kalau begitu” Hikaru tersenyum
“apa rencanamu selanjutnya??” Yamada berbalik dan menengok pada
Hikaru.
“tak ada”
“tak ada?? Tapi …”
“aku kenal Inoo-chan sejak SMA Yamada. Dia adalah tipe orang yang
tak akan bisa percaya pada orang untuk kedua kalinya.”
“artinya???”
“ia tak akan menikahi Ruu.”
Yamada tersenyum. Melihat senyum di wajah Yamada, Hikaru segera
memeluknya. Yamada terlihat sangat ingin melepaskan pelukan Hikaru.
“nah, sekarang, aku minta upah atas rencana hebatku” Hikaru
tersenyum. Ia menghempaskan tubuh kecil Yamada. Dibukanya kaos biru muda yang
Yamada kenakan. Ia mencium bahu Yamada, Yamada masih sangat jijik untuk disentuh sesamanya. Wajahnya meringis.
Hikaru sadar akan hal itu. ia mencium bibir pink Yamada kemudian memasukkan
sesuatu ke dalam mulut Yamada dan mendorongnya hingga ke kerongkongan Yamada
dengan lidahnya. Yamada tersentak dan
terbatuk.
“apa yang kau lakukan??” Yamada memegangi lehernya. Terasa ada
suatu benda yang masuk secara paksa ke dalam kerongkongannya.
Hikaru tersenyum lagi dan bertolak pinggang. “tenang saja,
sepertinya kau masih agak sungkan denganku. Makanya, aku memberikanmu sedikit
dorongan”
“do…rongan…”
Hikaru mendorong lagi tubuh Yamada, dengan 5 detik ia menurunkan
retsleting celana Yamada. Yamada hanya pasrah karena ia harus menepati janjinya
untuk membayar upah atas jasa rencana Hikaru.
“Yaotome …” tubuh Yamada terangkat begitu Hikaru memegangi penis
Yamada, ia mengulumnya. Yamada sontak kaget. Baru pertama kalinya ada lelaki
yang menyentuh alat kelaminnya
seperti ini.
“tenang saja …. Pejamkan saja matamu dan anggap Ruu yang ada di
depanmu …”
“aku tak bisa …”
“lakukan saja sayang…”
Yamada memejamkan matanya. Ia berusaha keras untuk melakukan apa
yang Hikaru perintahkan. Yamada hanya bisa memegangi bantal yang ia tiduri
sambil merasakan sedikit dari permainan Hikaru.
“Yaotome… ittai …”
“gomen ne, aku terlalu bersemangat …”
“Yaotome …” padangan Yamada mulai buyar.
“doushitte, Ryosuke??” Hikaru mulai tersenyum, sadar bahwa obat
yang ia masukan mulai bereaksi pada Yamada.
Hikaru mulai membuka pakaiannya sendiri. Menuntun tangan Yamada
yang mulai setengah sadar untuk mengelus-elus kemaluannya. Kedua tangan Hikaru
memilin-milin putting dada Yamada hingga ia tersentak. Yamada mulai mendesah
dengan pembukaan yang Hikaru lakukan.
Penis Yamada menegang duluan, ia terus memegangi penis Hikaru hingga Hikaru
sedikit kesakitan.
“Ryosuke, pelan-pelan….” Hikaru melepaskan tangan Yamada dari
kemaluannya. Ia mengangkat tubuh Yamada lalu mendudukinya. Mencoba mencari
posisi sesuai untuk pemula ini. bibirnya
menggerayangi leher Yamada.
“ahh… ahhh Yaotome …” Yamada telah tenggelam oleh foreplay Hikaru.
Tangan Hikaru mulai mengocok kemaluan Yamada yang basah oleh
pelumas karena rangsangan tadi. Perlahan kocokan Hikaru mulai menuntun birahi
Yamada. Wajahnya yang seperti wanita mulai memerah seiring bertambahnya
kecepatan permainan tangan Hikaru. Matanya terus terpejam.
“ahh … yaotome… aku …”
Hikaru segera berhenti, ia tahu Yamada akan klimaks. Ia membalikkan
tubuh Yamada sehingga Yamada berdiri di tembok membelakanginya.
“mau apa kau Yaotome ?? aku tak mau lebih dari ini”
“aku tak mau setengah-setengah Ryosuke”
“tapi perjanjian kita hanya sampai sini”
“sudah, obat dalam tubuhmu telah bereaksi, kau tak sadar sekarang
tubuhmu sedang haus akan sentuhan??”
Hikaru dengan cepat memasukkan penisnya ke lubang belakang Yamada.
Yamada tersentak. Merasakan sakit dan nikmat dalam waktu yang sama.
“Yaotome, ittai …”
Hikaru mencumbu lagi leher Yamada, mencoba menghilangkan rasa
sakit yang Yamada rasakan saat itu. bibir Hikaru mencumbu leher Yamada dan
tangan kirinya masih memainkan putting dada Yamada sedangkan tangan kanan
mengocok penis Yamada. Hikaru diam tak memainkan penisnya di dalam lubang
Yamada. ia malah mengocok kemaluan lawan bercintanya itu, membiarkan Yamada
menemukan titik kenikmatan adegan percintaan sesama jenis itu.
Yamada terbuai, ia mulai mendesah dengan alunan tangan Hikaru.
Hikaru tersenyum dan mulai mengeluarkan penisnya dari lubang Yamada.
“ahhh … ahhh… “ Yamada mulai menikmatinya.
Hikaru memasukan lagi penisnya, kemudian mengeluarkannya lagi
dengan kecepatan yang semakin tinggi.
“ahh … ahh … Yaotome … lebih cepat …”
Hikaru tersenyum lagi, senang bahwa ia sudah menemukan spot vital
Yamada. ia terus menunggangi Yamada
hingga pagi tiba. Yamada tak menyangka bahwa ia sedikit banyak menikmati adegan
percintaan yang menurutnya sangat nista itu. walaupun dengan sedikit dorongan obat dari Hikaru.
.
.
.
.
.
Jarum jam menunjukan pukul 6 pagi waktu Jepang. Hikaru terbangun
karena ponselnya terus bordering berkali-kali. Hal pertama yang ia lihat adalah
pemandangan Yamada yang tidur tepat di depan wajahnya. Hikaru tersenyum dan mengecup
bibir laki-laki itu sebelum mengangkat teleponnya. yang ternyata adalah telepon
dari ayahnya.
“mosh mosh, tou-chan, doushitte?”
“Hikaru, dimana kau?” Ayahnya berkata dengan sangat panic
“di rumah teman” Katanya berbohong. “ada apa?”
“adikmu … dia hilang dan tak ada di sekitar rumah sakit.”
“apa??!!” Hikaru segera bangkit. Ia segera memakai pakaiannya dan
pergi meninggalkan Yamada.
Hikaru menstarter mobilnya. Memencet tombol ponsel layar sentuhnya
mencari kontak nomor Inoo.
“Kei..”
“Hikaru, ada apa?”
“Ruu hilang. Dia kabur dari rumah sakit.”
“benarkah?” Inoo menjawabnya dengan nada cuek.
“dia ke tempatmu?”
“sama sekali tidak”
“ apa kau tahu kira-kira kemana dia pergi?” Hikaru mulai panic dengan
keadaan adiknya. “aku takut dia berbuat sesuatu…..”
“Hikaru, aku dan Ruu sudah tak ada hubungan lagi. Sebaiknya kau
hubungi polisi jika tak berhasil menemukannya…”
Inoo langsung menutup teleponnya.
Sial !! sehar.usnya tak
seperti ini.
Hikaru berkata dalam hatinya. Mobilnya mulai melaju kencang.
……………………………………………
“kei, ada apa?” Yuma yang sedang duduk di sofa depan bertanya
sambil meminum kopi hitamnya.
“Ruu hilang”
“benarkah!!?” Yuma mulai panic.
“Kei, sebaiknya kita ikut mencari”
“tidak!! Aku sudah tak punya hubungan apa-apa lagi dengannya.”
“Kei, bukan waktunya berkata seperti itu”
“aku tak peduli lagi apa yang dia lakukan”
“bagaimana jika ia bunuh diri?” Yuma berkata dengan dingin.
“apa?”
“ya, bagaimana jika Ruu bunuh diri, meninggalkan surat untukmu
lalu kau yang akan dituntut oleh kedua orangtua Ruu? Kau bisa kerepotan kan?
siapa yang akan mengurus gallery? Siapa yang akan mengurus megu?”
Inoo memegang dagunya, mulai berfikir apa yang dikatakan Yuma ada
benarnya juga. Ia berjalan bolak-balik memikirkan kemana kira-kira Ruu pergi. Memorinya
berputar ke waktu pertama kali ia bertemu Ruu hingga sekarang. Ia memejamkan
matanya. Mengingat-ingat tempat yang Ruu sukai dan Ruu benci.
Jika bisa memilih tempat
dimana ak akan mati, aku ingin mati di tempat seperti ini
Dan tiba-tiba mata Inoo terbuka. Mengingat saat-saat Ruu
mengatakan itu.
“Yuma, ikut aku…”
Yuma tersenyum. Sadar bahwa Inoo pasti akan tahu kemana Ruu pergi.
……………………………………………..
“tou-chan, ka-chan, nii-chan, gomen ne. aku sudah tak bisa
meneruskan ini lagi.”
Ruu berdiri masih dengan baju rumah sakit yang ia kenakan. Ia berdiri
di atas tebing pantai saat matahari tepat berada di atasnya. Tak ada seorangpun
disitu. Ya, karena tempat itu adalah tempat rahasia Ruu dan Inoo yang jalannya
sempit dan hanya diketahui mereka berdua. Ruu memejamkan kedua matanya dan
mencoba menjatuhkan dirinya.
“Ruu, yamette !!” Inoo menarik tangan Ruu dengan cepat.
Ruu melihat wajah Inoo dari dekat, tak sadar bahwa Yuma ada di
belakangnya. Air mata Ruu mulai keluar di pelupuk matanya. Ia memeluk Inoo
dengan tangisan.
“Kei….” Ruu menangis sekencang-kencangnya. Ia menggenggam erat
lengan Inoo. Seolah takut bahwa Inoo akan pergi jauh. Ia tak rela jika Inoo
pergi meninggalkannya. Sesaat kemudian Ruu kehabisan tenaga karena menangis
kencang dan syok dengan apa yang baru terjadi barusan. Ia pingsan. Inoo
mengangkat tubuh mungilnya. Berbalik dan membawanya ke dalam mobil.
“jadi bagaimana?” Yuma bertanya mengangkat satu alisnya. Berharap Inoo
segera rujuk dengan kekasihnya itu.
“Yuma, saat ini aku memang cukup dewasa untuk memaafkan kesalahan
oranglain. Tapi tak cukup bodoh untuk mempercayai mereka lagi…”
Yuma sedikit banyak tau arti dari kalimat Inoo tadi.
……………………………………………………..
“Inoo. Ku mohon. Aku tak bisa membiarkan keadaan Ruu seperti itu.”
Ayah Ruu mendatangi apartemen Inoo untuk bernegosiasi tentang hubungan Inoo dan
anaknya. Dengan kata lain, berjuang untuk kebahagiaan anak perempuan mereka.
Yuma hanya duduk di sofa memandangi adegan itu.
“maaf tuan. Aku tak bisa. Ruu sudah tertangkap basah tidur dengan
laki-laki lain di depan mataku”
“Ruu sangat mencintaimu. Meskipun ingatannya terhapus oleh
kecelakaan itu, rasa cintanya padamu tak pernah berubah. Setiap dia melihat
buku tahunan kelas kalian, pasti raut wajahnya langsung berubah saat melihat
fotomu”
“dulu dan sekarang sangat berbeda tuan. Dan pada kenyataannya,
anakmu mengkhianatiku.”
Ayah Ruu terdiam. Ia tak tahu harus berkata apalagi dengan
kerasnya hati Inoo.
Ibu Ruu menangis. Ia membungkuk kemudian bersujud menyembah kaki
Inoo.
“nyonya, apa-apaan ini” Inoo semakin tak enak dengan mereka
berdua.
“ku mohon . aku memang sangat membencimu. Tapi, apapun akan
kulakukan demi anakku. Aku tak mau sesuatu terjadi padanya. mungkin kau yang
hidup tanpa orangtua tak bisa merasakannya. Tapi kelak jika kau mempunyai anak,
pasti kau akan merasakannya” Ibu Ruu terus menangis di kaki Inoo. Dan kini ayah
Ruu mengikuti tindakan istrinya itu.
“tuan, nyonya hentikan. Apa-apaan ini”
“Inoo, anak kami adalah harta terpenting bagi kami. Apapun yang
kau minta, akan kami berikan asalkan Ruu tetap bersamamu.”
Inoo terus melihat raut wajah sedih ibu Ruu. Sedikit banyak ia iri
pada Ruu masih mempunyai keluarga yang lengkap dan saling mengasihi seperti
ini. melihat ibu Ruu yang mempunyai gengsi tinggi sekarang bersujud di
hadapannya hanya untuk kebahagiaan anaknya.
“kenapa… kalian berbuat sampai sejauh ini…” Inoo berkata dengan
nada datar dan pelan
“karena Ruu, dia harta yang paling berharga untuk kami. Anak kami….
Akan kami lakukan apa saja untuk mereka …. Suatu saat nanti kau akan mengerti. Cinta
yang lebih besar dari apapun….”
Inoo terdiam. Mengingat kembali cerita megu tentang ibunya, ibu
yang rela untuk dibenci oleh Inoo asalkan Inoo tak bersedih saat tahu dirinya
sudah tak ada lagi di dunia ini. Ibu yang selalu bercerita pada megu bahwa
dirinya hebat dan kelak tak boleh membenci kakak laki-lakinya itu. Ibu kuat
yang berjuang mendapatkan hati mertuanya yang angkuh supaya bisa menghidupi
Inoo dari jauh dan demi kelangsungan hidup Inoo.
“kumohon… meskipun hanya pura-pura dan kau tak mencintainya lagi…
asalkan Ru …”
“baiklah …. Tapi tuan, nyonya. Apa kalian tahu siapa aku
sebenarnya?”
“apa maksudmu??” Ayah Ruu tak mengerti
“yah…” Inoo menarik tangan Yuma dan mencium bibirnya. Yuma kaget
dengan tindakan Inoo yang tiba-tiba itu. begitu juga dengan ayah dan ibu Ruu.
“kau …” Ibu Ruu terdiam beku.
“ya nyonya, aku adalah laki-laki seperti itu. bagaimana? Kalian masih
bersikeras?”
“Ruu, apakah dia tahu hal ini?” Ayahnya bertanya.
“ya, dia tahu hal ini tuan.” Yuma segera menjawab pertanyaan Ayah
Ruu. Inoo menginjak kakinya hingga Yuma kesakitan. Ia tak suka Yuma mencampuri
urusannya.
“baiklah, aku mengerti. Inoo-kun. Asalkan Ruu bahagia. Kamipun juga”
“tapi, aku punya satu syarat.”
“apa itu?”
“aku tak mungkin menghabiskan seluruh waktuku bersama putri kalian.
Siapapun yang nanti akan bersamaku selain Ruu. Aku tak mau kalian mencampuri
urusanku”
“tapi kumohon jaga perasaan Ruu. Aku tak mau kejadian seperti tadi
terulang kembali”
“akan aku usahakan”
“arigatou, Inoo-kun”
Kedua orangtua ruu membungkuk pada Inoo dengan sangat lega.
To be continued
author,udah sekitar 3 bulan ini gak diperbahrui ffnya...
ReplyDeletekapan yah lanjutannya?
nanti kita sampaikan pesannya k author yah aira chan ^^
Delete